Home Opini Membangun Peradaban Berbasis Tauhid dan Ilmu Pengetahuan

Membangun Peradaban Berbasis Tauhid dan Ilmu Pengetahuan

by Muhammad Ismail
Peradaban Islam

Salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah perang pemikiran (al-ghazwul al-fikr). Perang pemikiran memang bukan hal yang baru dalam Islam. Meskipun demikian, ancaman inilah yang justru mampu mengeluarkan umat Islam dari agamanya. Bahkan, lebih bahaya lagi, perang ini bisa mengakibatkan muslim memerangi agamanya sendiri.

Karena masalah pemikiran, maka tidak dapat terlepas dari konteks keilmuan saat ini. Al-Attasmengatakan bahwa konsep ilmu yang dipahami umat Islam saat ini lebihmengedepankan akal dari pada wahyu. Inilah yang menjadi salah satu penyebabkemunduran umat Islam.

Akal yang seharusnya tunduk kepada wahyu kinidibalik. Wahyu (al-Qur’an) dihujat danakal pun dituhankan. Karena meninggikan akal di atas wahyu, maka ilmu yangdihasilkan pun akhirnya menjadi sekular. Paham sekular ini berusaha untukmelepaskan unsur agama darikeilmuan.

Selain itu, arus globalisasi yang dibawa oleh peradaban Barat pun menjadi bagian dari tantangan Islam. Arus ini telah menebarkan benih-benih sekularisme, liberalisme, dan pluralisme. Paham-paham tersebut ingin menghapuskan agama dari tataran kehidupan manusia. Faktanya, ilmu ekonomi, sosial, politik, pendidikan bahkan budaya kini benar-benar menjauh dari unsur-unsur agama. Artinya, globalisasi telah sukses memisahkan agama dari semua bidang keilmuan. Itulah hakekat dari peradaban Barat.

Berbeda dengan Islam. Islam justru mengikatsemua bidang ilmu pengetahuan dengan agama. Sebab, agama (Islam) adalah intidari segala segi kehidupan. Tanpa agama, Islam akan sulit untuk membangunperadaban dunia. Dan tentunya, itu bukan prinsip agama Islam.

Islam sebagai agama (din) sejatinyatelah memiliki konsep peradaban. Hal ini dapat ditinjau dari kata din itusendiri, seperti yang  disampaikan oleh al-Attas dalam Prolegomena bahwadin telah membawa makna keberhutangan, susunan kekuasaan, strukturhukum, dan kecenderungan manusia untuk membentuk masyarakat yang mentaati hukumdan mencari pemerintah yang adil.

Dalam konsep din tersembunyi sistemkehidupan. Sebuah sistem yang berdasarkan al-Qur’an dan al-Hadits.Ketika agama Islam (din) telah disempurnakan dan diterapkan, makatempat itu diberi nama madinah. Dari akar kata tersebutterciptalah kata baru madana, yang berarti membangun, mendirikankota, memajukan, memurnikan dan memartabatkan. Dan akhirnya, tamaddunatau peradaban.

Menurut Yves Brunsvick dalam Lahirnya SebuahPeradaban (2005), arusglobalisasi telah membawa dampak perubahan peradaban. Baik dari budaya, bahasa,agama dan sistem. Semuanya telah berubah. Tergantung oleh siapa yang mampumengiringi globalisasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa saat ini, peradaban yangmenguasai dunia datang dari peradaban Barat. Pernyataan ini diamini oleh BudiWinam dalam bukunya Globalisasi & Krisis Demokrasi (2007). Iamenyatakan bahwa salah satu bukti suksesnya arus globalisasi ialah terjadinyaperubahan sistem pemerintahan yang demokratis.

Peradaban Barat yang dibawa oleh globalisasi tidak sejalan dengan konsep peradaban Islam. Jika Barat maju karena meninggalkan agama, Islam tidak demikian. Justru ketika umat Islam memisahkan diri dari agama, maka kehancuran atau kebiadaban akan semakin berkuasa. Untuk itu, diperlukan suatu perubahan peradaban dunia yang sarat akan nilai-nilai Islam.

Menurut Ibn Khaldun dalam TheMuqaddimah: an Introduction to History (1978 : 54-57), suatu peradabanakan mampu terwujud apabila tiga hal pokok telah terpenuhi, yaitu, Kemampuanmanusia untuk berpikir yang menghasilkan sains dan teknologi, Kemampuanberorganisasi dalam bentuk kekuatan politik dan militer dan kesanggupanberjuang untuk hidup.

Lebih lanjut, Ibn Khaldun mengatakan bahwatanda terwujudnya peradaban ialah di mana ilmu pengetahuan seperti fisika,kimia, geometri, aritmatika, astronomi, optik, kedokteran, dsb. berkembangsecara pesat. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitandengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yangterpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun, bukanberarti itu adalah satu-satunya substansi peradaban.

Sayid Husein Nasr –Seorang tokoh yang fokuspada wacana baru tentang Ilmu Pengetahuan dan Islam, di Teheran,Iran– menyebut ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (SacredScience, “Ilmu Sacral”) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifanternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat inimasih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern.

Senada dengan Syed Husein Nasr, Muhammad Abduhlebih menekankan pada aspek agama. Menurutnya, agama, keimanan sertanilai-nilai spiritualitas adalah pokok terpenting dari membangun peradaban.Jadi, menolak agama sebagai inti peradaban berarti sama halnya dengan membangunrumah tanpa pondasi.

Hamid Fahmy Zarkasyidalam bukunya Peradaban Islam (2010) mengajukan strategi sebagai solusiuntuk membangun kembali peradaban Islam. Pertama, Memahami sejarah jatuhbangunnya peradaban Islam di masa lalu. Kedua, Memahami kondisi umat Islammasa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapiumat Islam masa kini. Dan ketiga, Sebagai prasyarat bagi poin kedua,adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam.

Karena dasar peradaban Islam adalah agama dan ilmu pengetahuan, maka solusi untuk  memahami kembali konsep-konsep dasar Islam adalah tepat. Upaya ini lebih populer disebut dengan Islamisasi. Artinya, mengembalikan esensi konsep keilmuan sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Islamisasi merupakan tugas besar umat Islam saat ini. Adapun harapan dari upaya tersebut ialah terintegrasinya ilmu pengetahuan dengan agama. Inilah yang akan menjadi pondasi peradaban Islam. Dengan demikian, peradaban Islam akan mampu mengawal peradaban dunia.

Maka, saat inilah momentum bagi umat Islamuntuk hijrah menuju kebangkitan berperadaban Islam. Dengan arti lain, tahun yang bergantihendaknya dibarengi dengan perubahan dari hal-hal yang dulunya negatif berubahmenjadi yang lebih positif, dari kemaksiatan menuju ketaqwaan, dariketerpurukan peradaban menujukebangkitan.

Sebagai catatan akhir, peradaban Islam adalah peradaban yang total. Peradaban Islam tidak terlepas dari nilai-nilai agama, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dll. yang saling terintegrasi. Sebuah peradaban yang sangat menjunjung nilai ketuhanan (tauhid) dan ilmu pengetahuan (sains). Untuk itu, hijrah dari peradaban sekular menuju peradaban Islam adalah mutlak dilakukan.

Artikel ini telah dimuat di Hidayatullah.com pada 28 November 2012

Related Posts

1 comment

Pesan Pluralisme dalam Perayaan Natal December 12, 2019 - 1:30 am

[…] konsep pluralisme merupakan proyek Orientalis. Fakta ini dapat dibuktikan melalui pernyataan Peter Ludwig Berger, […]

Reply

Leave a Comment