Home Opini Pesan Pluralisme dalam Perayaan Natal

Pesan Pluralisme dalam Perayaan Natal

by Muhammad Ismail
Pluralisme dalam Natal

“Marry Cristmas,” itulah ungkapan selamat yang merupakan bagiandari budaya umat Kristen yang akhir-akhir ini mulai ikut menular dalam diriumat Islam.

Sepintas kalimat tersebut tidak lain seperti kalimat-kalimat ucapan selamat lainnya. Tapi jika ditelaah lebih dalam ucapan selamat yang satu ini tentu berbeda dengan ungkapan “Selamat Hari Raya Idhul Fitri”, “Selamat Hari Raya Idhul Adha”, “Selamat Tahun Baru Hijriah”. Berbeda karena kita melihat ungkapan “Marry Cristmas” itu menggunakan cara pandang (worldview) Islam yang sebenarnya.

Hari Natal yang identik dirayakan pada tanggal 25 Desember 2011adalah hari kelahiran Yesus, namun Natal menjadi kepercayaan sebagian kaumKristen khususnya keyakinan gereja Barat. Akan tetapi, gereja Timurmenyangsikan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember.

Paus Yohanes Paulus II pernah mengumumkan kepada umat Kristenbahwa Yesus sebenarnya tidak dilahirkan pada 25 Desember. Tanggal tersebut duludirayakan sebab hari tersebut merupakan perayaan tengah musim dingin kaum paganRoma Kuno (Romana) atau lebih tepatnya adalah hari kelahiran banyak dewa paganseperti Osiris, Attis, Tammuz dan lain-lain.

Perayaan Hari Natal juga menjadi polemik di masyarakat,khususnya Islam. Bagi siapa saja yang tidak ikut merayakannya berarti iadianggap “tidak toleran”. Untuk itulah pusat-pusat perbelanjaanhampir di seluruh daerah kini turut merayakan hari Natal sebagai bentuk toleransidalam beragama.

Natal dan Doktrin Pluralisme

Dalam “The Passion of The Christ” menerangkan bahwa perdebatanmengenai konsep teologi Kristen masih berpangkal pada konsep ‘Ketuhanan Yesus’.Dengan kata lain, dasarnya saja dianggap ada yang bermasalah.

Oleh karena banyaknya kejanggalan para pemikir Ketuhanan Yesus,sebut saja Arthur Drews (1865-1935) beserta seorang pengikutnya WillianBenjamin Smith (1850-1934) yang bersikap kritis hingga mereka berani mengajukanpertanyaan, “Apakah Yesus itu benar-benar ada, atau hanya sekedar tokoh fiktifdan simbolik saja?”.

Pertanyaan tersebut ternyata ditanggapi oleh Greonen denganargumen bahwasannya persoalan yang terjadi sebenarnya bukan pada diri Yesus.Tapi yang menjadi masalah bagi manusia adalah bagaimana mereka memahami Yesus,sebab pada dasarnya Tuhan tetaplah Tuhan dan bukan makhluk yang diciptakan.

Atas nama “toleransi”, kini keyakinan umat Islam mulai ikutbercampur-aduk. Akibatnya, konsep kufur dan iman menjadi kabur. Agama saat inirela “digadaikan” hanya dengan alasan “toleransi”. Sekarang Islam,besok Kristen, mungkin besoknya lagi Hindu atau yang lainnya secara tidakterasa.

Keberhasilan paham liberal dengan doktrin pluralisme (menganggapsemua agama sama, red) tidak lain menjadikan orang Islam tidak paham ilmu dankaidah Islam. Mereka beranggapan, seolah agama itu seperti baju yang bisadipakai sesuka hati. Hari ini berpakaian biru, besok hitam, besoknya lagiabu-abu. Tentu ini pemikiran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Bagaimanapun, konsep pluralisme merupakan proyek Orientalis. Fakta ini dapat dibuktikan melalui pernyataan Peter Ludwig Berger, seorang sosiolog Amerika dan juga teolog Lutheran. Dalam bukunya “The Desecularization of the World”, yang menyatakan bahwa sekularisasi telah gagal, sebab praktek keagamaan ternyata justru bertambah subur dan desekularisasi malah dominan. Oleh sebab itu dalam “The Social Construction of Reality” ia mengusulkan untuk mengganti sekularisasi dengan penyebaran paham pluralisme.

Tentang pluralisme agama, mereka kini berani angkat suara. MulaiWilliam Liddle (Ohio State University dan Diana Eck (Harvard University) hinggaFranz Magnis Suseno (STF Driyarkara), dan yang paling terakhir seorang pendetaJesuit yang berusaha mengaburkan makna pluralisme agama dengan memisahkannyadari relativisme kemudian menyamakannya dengan toleransi.

“Hanya seorang pluralis sejati yang toleran,” begitulah ungkapJesuit yang menganggap siapa saja yang tidak pluralis maka ia tidak toleran.Termasuk umat Islam.

Tak Berarti Membenarkan Kebatilan

Toleransi tidak berarti harus menjadi pluralis. Saling menghormati dan menghargai tidak berarti membenarkan yang batil dan sesat. Antara haq dan batil sudah jelas.

Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi Wa Sallam bertetangga dengan orang Yahudi, bersikap ramah dan toleran, namun beliau tetap mengatakan mereka kafir, jika tidak mau memeluk Islam, apalagi jika memusuhi kaum Muslim.

Meminjam pernyataan Dr Hamid Fahmi, pluralisme adalah proyekpostmodernisme. Sama halnya dengan argumen Prof Attas yang menganggapsekularisme sebagai program orientalis yang dilaksanakan dengan strategi, danaserta agen pada setiap negara dan agama.

Untuk mengegolkan proyek peradaban tersebut memang tidak mudah.Oleh sebab itulah makna pluralisme dibuat ambigu. Misi umumnya yaitumenghancurkan fundamentalisme, tapi makna istilahnya dibuat bersayap. Terkadangbermakna toleransi dan di waktu yang berbeda berarti relativisme.

Nicholas F. Gier, dari University of Idaho, Moscow, Idahomenyimpulkan karakteristik pemikiran tokoh-tokoh liberal Amerika Serikat (AS)salah satunya yaitu percaya penuh pada kebebasan dan toleransi beragama.

Pada mulanya toleransi dibatasi hanya pada sekte-sekte dalamKristen, namun toleransi dan kebebasan penuh bagi kaum ateis dan pemeluk agamanon-Kristen hanya terjadi pada masa Benyamin Franklin, Jefferson dan Madison.Kebebasan beragama sepenuhnya berarti bukan hanya kebebasan dalam beragama tapibebas dari agama juga, artinya bebas beragama dan bebas untuk tidak beragama.

Di lain sisi, Diana L. Eck dalam “The Challenge of Pluralism”,secara tegas menyatakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi antar umatberagama, bukan juga sekedar menerima pluralitas (diversity). Dalam bukunya“From Diversity to Pluralism” ia “menghayal” bahwa pluralisme adalah “peleburan”agama-agama menjadi satu wajah baru yaitu realitas keagamaan yang plural.

Hayalan Diana tersebut mencerminkan akan kegalauan hatinya yangbenar-benar kacau sebagai akibat dari kesalahan konsep yang ada dalampikirannya. Bagaimana mungkin agama-agama yang konsep ketuhanannya jelasberbeda bisa melebur jadi satu. Suatu hal yang mustahil dan tidak bisa diterimaoleh akal sehat.

Sebagai kesimpulan dari paparan di atas, bahwa perayaan Natalsarat akan doktrin pluralisme. Paham ini bertujuan untuk menyamakan seluruhagama. Apapun agamanya tidak berhak mengatakan bahwa agamanya yang paling benardan jika ingin hidup damai hormatilah kepercayaan orang lain dengan caramempercayai keyakinan mereka sama benarnya.

Untuk itu, sudah sepatutnya umat Islam memahami hal ini danterus berusaha membendung doktrin-doktrin pluralisme seperti halnya ikut-ikutandalam merayakan hari Natal yang seharusnya tidak dilakukan oleh umat Islam.

Tolerannya Nabi

Sebagai penutup, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudibuta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,“Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itupembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akandipengaruhinya.”

Alkisah, setelah wafatnya Rasulullah Salallahu “Alaihi Wassalam,tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi, yang biasa menyuapinsi pengemis Yahudi buta tersebut.

Suatu hari, sahabat Rasulullah yakni Abubakar Radhiallahu Anhuberkunjung ke rumah anaknya Siti Aisyah (isteri Rasulullah) dan bertanyatentang kebiasaan Nabi belum ia kerjakan.

Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnahdan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satusaja. Apakah Itu?, tanya Abu bakar RA. Setiap pagi Rasulullah selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yangada di sana, “ kata Aisyah RA.

Keesokan harinya Abubakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk disuapkan si pengemis Yahudi yang buta. Ketika Abubakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, “Siapakah kamu?”, Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.

Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapiterlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambilberkata, “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salahseorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah MuhammadRasulullah Shallalu “Alaihi Wassalam.

Pengemis Yahudi buta itu terkaget-kaget, sebab selama itu orangyang difitnah, diumpat dan dicaci itu tak lain Muhammad yang mulia, yang setiappagi menyuapinya dengan sabar. Setelah peristiwa itu, sang Yahudi buta akhirnyabersyahadat dan menjadi Muslim.

Banyak orang seolah sudah pintar, seolah ingin mengajari “toleransi” melebihi hebatnya Nabi kita bertoleransi. Rasulullah yang mulia begitu hebat memperlakukan Yahudi melebihi kita, namun tetap saja tak mencampurkan akidah dan menganggap semua agama sama. Wa’Allahu a’lam bi as-Showab.*

Artikel ini telah dimuat di Hidayatullah.com pada Desember 2011

Related Posts

Leave a Comment