Home Opini Hijrah Dan Pesan Perubahan

Hijrah Dan Pesan Perubahan

by Muhammad Ismail
Makna Hijrah Dalam Islam

Salah satu pesan utama konsep Hijrah dalam Islam adalah perubahan. Perubahan memiliki dua aspek utama. Yaitu perubahan jasmaniyyah (jasad) dan ma’nawiyyah (nilai). Perubahan jasad mengandung makna berubahnya suatu kondisi fisik manusia dari suatu tempat tercela ke tempat yang terpuji. Sedangkan perubahan nilai artinya merubah pola pikir, akhlak dan tujuan hidup menuju ketauhidan.

Semua aspek perubahan di atas sangatpenting untuk membangun peradaban Islam. Akan tetapi, aspek yang saat inisedang menghadapi tantangan terbesar ialah aspek pemikiran. Untuk itu, dalamtulisan ini akan fokus membahas mengenai pesan hijrah (perubahan) pola pikir untukmembangun peradaban Islam.

Makna Konsep Hijrah

Secara bahasa, sebagaimana dalam al-Mu’jamal-Wasith (2004:972), kata Hijrah berasal dari akar kata “hajara” yangmengandung makna “taba’ud” (menjauh). Adapun salah satu bentuk derivasidari kata tersebut adalah “haajara” berarti aktifitas meninggalkan suatunegeri. Sedangkan kata “al-Hijrah” berarti berpindahnya seseorang meninggalkansuatu tempat ke tempat lain yang lebih baik.

Menurut istilah, “Hijrah” dalampandangan Imam ar-Raghib al-Ashfahami dalam Jihad: Maknadan Hikmah (2006), hijrahberarti aktifitas kaum muslimin meninggalkan negeri asalnya yang berada dibawah kekuasaan pemerintahan kaum kafir menuju negeri yang beriman. MuhammadRasyid Ridha menambahkan bahwa hijrah harus dilakukan dengan niatan untukmencari ridha Allah SWT untuk menegakkan agama Allah SWT.

Ahzami Samiun Jazuli dalam Hijrah dalam Pandangan Al-Quran mengatakan bahwa hijrah dalam konteksmeninggalkan darul kufr adalah wajib bagi semua muslim. Sebagaimanahadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud : “Hijrahtidak pernah terputus hingga terputusnya tobat. Dan tobat tidak akan terputushingga matahari terbit dari barat”. Artinya perintah untuk hijrah tidakpernah terhapuskan kecuali hari kiamat datang.

Dalam sejarah Islam, hijrah yang dilakukan olehNabi Muhammad SAW bukanlah hijrah yang pertama kali dan satu-satunya. Sebelumbeliau, para nabi-nabi sudah melakukan hal yang sama yaitu berhijrah. Sebagaimanadiungkapkan oleh Ahmad Abdul Ghani dalam Hijratu al-Rasul wa Shahabatihi fiial-Qur’an wa as-Sunnah (1989), misalnya, Nabi Ibrahim as. yang telah hijrahke Syam, Mesir dan Mekkah. Nabi Musa as. telah berhijrah ke Madinah. Nabi Luthas ke Syam, dan lain sebagainya.

Konsep hijrah dalam Islam memiliki makna yangsaling terkait (relational concept) dengan konsep dasar lainnya dalamal-Qur’an. Konsep inti yang mengikat konsep hijrah adalah al-Iman (Iman)dan al-Jihad (Jihad). Hampir mayoritas ayat yang berbicara tentanghijrah selalu mengaitkannya dengan iman dan jihad (QS. At-Taubah : 20 danal-Baqarah : 128). Artinya, hijrah hendaknya dilakukan dengan penuh keimanandan bertujuan (berniat) untuk berjihad menyebarkan kebenaran Allah SWT.

Muhammad Na’im dalam bukunya Haqiqahal-Jihad fi al-Islam (1984:31) mengartikan istilah Jihad sebagaisuatu usaha sekuattenaga, mencurahkan segala potensi dan kemampuan berupa kata-kata maupuntindakan. Lebih lanjut, Ibn Taymiyyah dalam al-‘Ubudiyyah mengatakanbahwa hakekat jihad adalah ijtihad menggapai keridhaan Allah SWT dengan imandan amal shalih. Al-Jurjani menambahkan, dengan selalu memohon petunjuk kepadaagama yang benar. Dan inilah yang menjadi nilai sakralitas jihad dalam Islam.

Selain terkait dengan konsep Iman dan Jihad,konsep hijrah juga terkait dengan konsp al-Rahmah. Kataal-Rahmah adalah bentuk derivasi dari kata “rahima”, yang berartikasih sayang. Konsep ini merupakan salah satu sifat Allah SWT yaitu ar-Rahmandan ar-Rahim. Dalam surat al-Balad : 17, Allah SWT menggambarkan bahwasifat Rahmah merupakan cara yang baik dalam berdakwah selain dari padasifat sabar (al-sabr).

Jadi, hijrahdalam Islam memiliki sifat yang sangat sakral (suci) dan mulia. Untuk itu,hijrah harus dilakukan dengan penuh keimanan. Sebab, dengan keimanan itulah ia akanberjihad menegakkan kebenaran Allah SWT. Dengan jihad inilah umat Islam berusahamembangun peradaban Islam dengan nilai-nilai kasih sayang.

Pesan Perubahan

Salah satu tantangan terbesar umat Islam saatini adalah tantangan pemikiran. Atau yang lazim disebut dengan ghazwul fikr.Perang pemikiran memang bukan hal yang baru dalam Islam. Meskipun demikian,ancaman inilah yang justru mampu mengeluarkan umat Islam dari agamanya. Bahkan,lebih bahaya lagi, perang ini bisa mengakibatkan muslim memerangi agamanyasendiri.

Karena masalah pemikiran, maka tidak dapatdilepaskan dari konteks keilmuan saat ini. Al-Attas mengatakan bahwa konsepilmu yang dipahami umat Islam saat ini lebih mengedepankan akal dari padawahyu. Inilah yang menjadi salah satu penyebab kemunduran umat Islam.

Akal yang seharusnya tunduk kepada wahyu kini terbalik.Wahyu dihujat dan akal pun dituhankan. Ini sangat bertentangan dengan nilaiagama Islam. Karena meninggikan derajat akal di atas wahyu, maka ilmu yangdihasilkan pun akhirnya menjadi sekular. Paham sekular ini berusaha untukmelepaskan agama dari keilmuan. Dengan adanya sekularisasi, upaya membangunperadaban Islam pun semakin berat.

Arus globalisasi yang dibawa oleh peradaban Baratmerupakan tantangan Islam. Arus ini telah menebarkan benih-benih sekularisme,liberalisme, dan pluralisme. Paham-paham tersebut ingin menghapuskan agama daritataran kehidupan manusia. Sebagai faktanya, ilmu ekonomi, sosial, politik,pendidikan bahkan budaya kini tidak ragu lagi menolak agama. Artinya,globalisasi telah sukses memisahkan agama dari semua bidang keilmuan.

Menurut Yves Brunsvick dalam Lahirnya SebuahPeradaban (2005) bahwa arus globalisasi telah membawa dampak perubahanperadaban. Baik dari budaya, bahasa, agama dan system. Semuanya telah berubah.Tergantung oleh siapa yang mampu mengiringi globalisasi tersebut. Inimenunjukkan bahwa saat ini, peradaban yang menguasai dunia adalah datang dariperadaban barat. Pernyataan ini diamini oleh Budi Winamdalam bukunya Globalisasi & Krisis Demokrasi (2007). Ia menyatakanbahwa salah satu bukti suksesnya arus globalisasi ialah terjadinya perubahansistem pemerintahan yang demokratis.

Peradaban Baratyang dibawa oleh globalisasi tidak sejalan dengan konsep peradaban Islam. Jika Baratmaju karena meninggalkan agama, Islam tidak demikian. Justru ketika umat Islammemisahkan diri dari agama, maka kehancuran atau kebiadaban akan semakinberkuasa. Untuk itu, diperlukan suatu perubahan peradaban dunia dengannilai-nilai Islam.

Menurut Ibn Khaldun dalam The Muqaddimah:an Introduction to History (1978 : 54-57), suatu peradaban akan mamputerwujud apabila tiga hal pokok telah terpenuhi, yaitu, Kemampuan manusia untukberpikir yang menghasilkan sains dan teknologi, Kemampuan berorganisasi dalambentuk kekuatan politik dan militer dan kesanggupan berjuang untuk hidup.

Lebih lanjut, Ibn Khaldun mengatakan bahwatanda terwujudnya peradaban ialah di mana ilmu pengetahuan seperti fisika,kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optik, kedokteran dsb. berkembang secarapesat. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan denganmaju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalamteori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun, bukan berarti itu adalahsatu-satunya substansi peradaban.

Sayid Husein Nasr –Seorang tokoh pertama dalampembicaraan wacana baru tentang Ilmu Pengetahuan dan Islam, di Teheran,Iran– menyebut ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (Sacredscience, “ilmu sacral”) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifanternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat inimasih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern.

Senada dengan Syed Husein Nasr, Muhammad Abduhlebih menekankan pada aspek agama. Menurutnya, agama, keimanan sertanilai-nilai spiritualitas adalah pokok terpenting dari membangun peradaban.Jadi, menolak agama sebagai inti peradaban berarti sama halnya dengan membangunrumah tanpa pondasi.

Hamid Fahmydalam bukunya Peradaban Islam (2010) mengajukan strategi sebagai solusiuntuk membangun kembali peradaban Islam. Pertama, Memahami sejarah jatuhbangunnya peradaban Islam di masa lalu. Kedua, Memahami kondisi umat Islammasa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapiumat Islam masa kini. Dan ketiga, Sebagai prasyarat bagi poin kedua,adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam Islam.

Karena dasar peradaban Islam adalahagama. Maka upaya memahami kembali konsep Islam sudah tepat. Upaya ini lebihpopuler disebut dengan Islamisasi. Artinya, memilah-milah konsep ilmu yangsesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Islamisasi merupakan tugas besar umat Islamsaat ini. Adapun harapan dari upaya tersebut ialah terintegrasinya ilmupengetahuan dengan agama. Inilah yang akan menjadi pondasi peradaban Islam.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa peradaban umat Islam ini adalah peradaban yang total. Maksudnya, peradaban Islam tidak terlepas dari nilai-nilai agama, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dll. yang saling terintegrasi. Sebuah peradaban yang sangat menjunjung nilai ketuhanan (tauhid) dan ilmu pengetahuan (sains). Bukan seperti peradaban barat yang sekuler dan yang jauh dengan agama. Inilah pesan perubahan yang tersirat dari makna Hijrah. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Related Posts

1 comment

Ramadhan : Momentum Perubahan Dan Rekonstruksi Peradaban April 25, 2020 - 8:26 am

[…] satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah perang pemikiran (al-ghazwul al-fikr). Perang pemikiran memang bukan hal yang baru dalam Islam. Meskipun demikian, […]

Reply

Leave a Comment