Home Article Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Akhlak

Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan Akhlak

by Muhammad Ismail
2 comments

Integrasi Ilmu Pengetahuan dalam pendidikan adalah tidak berdasarkan kepada metode dikotomis yang membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Al-Attas sepakat dengan al-Ghazali yang membagi ilmu secara hirarkis, yaitu ilmu fardlu ‘ain (ilmu tentang rukun iman, rukun Islam, perbuatan haram, dan ilmu yang berkaitan dengan amal yang akan dilakukan), dan ilmu fardlu kifayah, yang termasuk di dalamnya ilmu syariah dan ilmu non-syariah atau umum). (Syed Muhammad Naquib al-Attas, 1987, p.90)

Kata Islamdalam istilah Pendidikan Islam menunjukkan warna pendidikan tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam atau pendidikan yang Islami (pendidikan yang berdasarkan Islam). Pengertian pendidikan seperti yang disampaikan oleh Marimba dalam Pengantar Filsafat Pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. (Ahmad D. Marimba, 1989, p.19). Namun, definisi ini dianggap masih sempit oleh Ahmad Tafsir dalam Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (2007:24) karena menurut Marimba, “pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan oleh pendidik”.

Untuk menyempurnakan makna pendidikan tersebut, Ahmad Tafsir mengajukan pertanyaan terhadap gagasan Marimba di atas yaitu, bagaimana jika bimbingan tersebut dilakukan oleh kebudayaan dan sebagainya?, dan bagaimana jika yang membimbing tersebut adalah gaib?, apakah hal ini tidak dinamakan dengan pendidikan?.

Mungkin karena alasan inilah Rupert Lodge dalam Philosophy of Education (1974:23) menyatakan bahwa pendidikan itu menyangkut seluruh pengalaman. Orang tua mendidik anaknya, anak mendidik orang tuanya, guru mendidik muridnya, murid mendidik gurunya. Semua yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita dapat disebut telah mendidik kita. Maka, dalam arti luasnya kehidupan adalah pendidikan dan pendidikan adalah kehidupan.  

Definisi Pendidikan Perspektif Islam

Integrasi Sains Modern

Lalu bagaimana definisi pendidikan menurut Islam?. Dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam Pertama (First World Conference on Muslim Education) yang diselenggarakan oleh Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, pada tahun 1977, belum berhasil membuat rumusan yang jelas tentang definisi pendidikan menurut Islam. dalam bagian “rekomendasi” konferensi tersebut, para peserta hanya membuat kesimpulan bahwa pengertian pendidikan menurut Islam ialah keseluruhan pengertian yang terkandung di dalam istilah Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib.

Hal tersebut senada dengan ungkapan M. Naquib Al-Attas dalam bukunya Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam (2003:175) yang menjelaskan bahwa pendidikan Islam lebih tepatnya dirumuskan dengan kata ta’dib (M.Nor Wan Daud, 2003, p.175) sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud sehingga hal ini membimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut.

Kesalahan penggunaan framework yang berasal dari pandangan hidup barat telah menjadi pemicu terjadinya carut-marut sistem pendidikan di Indonesia. Framework barat yang memaksakan doktrin pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu umum ini berdampak serius terhadap konsep metafisika dan epistemologi Islam.

Namun, di antara banyaknya dampak permasalahan, yang paling mencolok dan masih banyak dipraktekkan sebagian besar pegiat pendidikan adalah model pendidikan yang masih membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Misalnya, pada saat seorang guru mengajarkan ilmu biologi, fisika, kimia atau pelajaran umum lainnya, hampir tidak ada yang melibatkan nilai-nilai ketuhanan di dalamnya. Akibatnya, peserta didik tidak mampu merasakan adanya Sang Pencipta ketika ia menerima materi pelajaran tertentu. Dengan demikian ada potensi besar proses sekulerisasi pendidikan bisa terjadi.

Untuk itu, hal yang paling utama seharusnya dilakukan oleh pemerintah yaitu mencantumkan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits dalam kurikulum ajarnya. Dengan demikian, akan ada semacam tuntutan terhadap guru untuk menguasai makna ayat-ayat al-Qur’an sesuai bidang ajarnya masing-masing sebelum mengajarkan materi kepada siswa.

Integrasi Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Pendidikan dalam Islam

Integrasi ilmu pengetahuan Islam sebenarnya pernah dilakukan oleh ulama besar muslim pada masanya. Sebagai contoh, Al-Kindi adalah seorang Filosof dan sekaligus agamawan, demikian pula Al-Farabi, Ibnu Sina, selain ahli di bidang kedokteran, filsafat, psikologi, musik, beliau juga ulama, Ibnu Khaldun selain seorang ahli dalam bidang ilmu ekonomi, sosiologi, matematika, juga seorang yang sangat luas pandangan ilmu agamanya. 

Idealnya, Islam diyakini sebagai agama yang memiliki ajaran sempurna, yang artinya seluruh aspek kehidupan diatur secara menyeluruh, memang Al-Qur’an dan Hadis membuat ilmu secara global (ijmali) karena Islam memuat semua sistem ilmu pengetahuan, tidak ada dikotomi dalam aturan keilmuan Islam, disinilah diperlukan ketajaman berpikir dari cendikiawan muslim untuk mewujudkannya menjadi sistem yang nyata.

Dalam hal ini pengembangan akal dan intelektual merupakan suatu dorongan intrinsik dan inheren dalam ajaran Islam.  Tumbuh dan berkembangnya akal pikiran yang menghasilkan kebudayaan Islam yang tinggi pada abad pertengahan seperti yang dikatakan Sayyed Hossein Nasr tidak lain disebabkan adanya pandangan kesatuan dalam keseluruhan ajaran Islam. 

Dalam konteks pendidikan, pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa untuk membuat peradaban ilmu pengetahuan yang tinggi di mana dunia Islam pernah mengalaminya terutama pada masa daulah Abbasyiah dan Umayyah diperlukan para cendekiawan yang bukan saja ahli dalam bidang ilmu agamanya, tetapi juga luas ilmu umumnya. Adanya perpaduan antara kedua ilmu, baik ilmu ukhrawi yang mengatur ibadah, ada juga ilmu duniawi yang mengatur urusan hubungan antar manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. 

Agar dapat mencapai konsep keutuhan ilmu, sesuai dengan semangat dalam Al-Qur’an dan Hadis, serta praktik para ulama terdahulu, umat Islam perlu meninjau ulang format pendidikan Islam nondikotomik melalui upaya pengembangan struktur keilmuan yang integratif.

Adapun yang dimaksud integratif disini adalah keterpaduan kebenaran wahyu (Burhan Qauli) dengan bukti-bukti yang ditemukan di alam semesta (Burhan Kauni). Struktur keilmuan integratif di sini bukan berarti antara berbagai ilmu tersebut dilebur menjadi satu bentuk ilmu yang identik, melainkan karakter, corak, dan hakikat antara ilmu tersebut terpadu dalam kesatuan dimensi material-spritual, akal–wahyu, ilmu umum-ilmu agama, jasmani-rohani, dan dunia- akhirat. Sehingga terjadilah hubungan yang saling terkait antara satu ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan lainnya.

Demikian halnya dengan pilihan yang berdasarkan pendekatan dikotomis, seperti antara pemahaman tekstual-kontekstual, historis-normatif, menunjukkan kerancuan berpikir. Berpikir kontekstual yang berangkat dari realitas sosial (Al-Haqiqah), tanpa merujuk pada kebenaran teks-teks al-Qur’an, hanya akan menjadikan seseorang kehilangan arah untuk menuju kebenaran mutlak (Al-Haqq).

Jalan keluar dari kesenjangan ini, Al-Attas dalam buku M. Nor Wan Daud, Filsafat Dan Praktik Pendidikan Islam (2003:19) mencanangkan pendekatan integral yang ditempuh melalui konsepnya mengenai pandangan hidup Islam yang telah diformulasikan dengan sistematis oleh Prof. Alparslan Acikgenc dalam Islamic Science Toward Definition (ISTAC:1995).

Dalam aplikasinya, Barat dan kebudayaan asing lainnya harus dilihat dalam konteks keutuhan yang bersifat konseptual, yang berarti bahwa di satu sisi Islam dapat “mengadopsi” atau meminjam konsep-konsep asing yang sesuai atau disesuaikan terlebih dahulu dengan pandangan hidup Islam, dan di sisi lain menolak ide asing yang tidak diperlukan dengan kesadaran bahwa realitas ajaran Islam memang berbeda secara asasi dari kebudayaan mana pun, termasuk barat.

Sebagai solusi dari pemaparan di atas, hendaknya segera dimulai dari sekarang proses mengintegrasikan kembali ilmu agama dengan ilmu umum sebagaimana yang pernah dilakukan pada abad keemasan Islam. Pemerintah bekerjasama dengan lembaga pendidikan Islam harus berani dengan tegas merombak ulang kurikulum ajarnya menjadi kurikulum yang integratif. Dengan demikian diharapkan dari proses re-integrasi ilmu pengetahuan tersebut akan mampu menciptakan anak didik yang benar-benar menghambakan diri kepada Allah SWT.

You may also like

2 comments

Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman December 9, 2019 - 4:29 pm

[…] juga mengatakan bahwa shadr merupakan tempat bersemayamnya hati atau jantung, akal bahkan ilmu pengetahuan. Ungkapan Tirmidzi dan Raghib tersebut sesuai dengan yang ada dalam al-Qur’an surat Al-Hajj : […]

Reply
Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan December 16, 2019 - 1:52 am

[…] Hakim Tirmidzi, dimensi al-fuad adalah tempat diprosesnya ilmu pengetahuan (al-Ilm dan al-Ma’rifah). Lebih tepatnya, fungsi al-fuad yaitu sebagai penglihatan […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More