Home Opini Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer

by Muhammad Ismail
Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Islamization of Knowledge (islamisasi ilmu pengetahuan) sebuah gagasan yang timbul sejak dasawarsa 1970-an. Kata “islami” mengandung dua makna yang kurang lebih berbeda. Pertama, kata islami menunjukkan suatu periode sejarah, kedua, menunjukkan suatu aktivitas yang mengandung nilai-nilai Islam.

Sedangkan arti dari ilmu pengetahuan, menurut Sayid Husein Nasr –seorang tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang ilmu pengetahuan dan Islam di Teheran, Iran, tahun 1933, ia menyebut, (berbeda dengan yang biasa diutarakan oleh kebanyakan ilmuwan) ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (Sacred science, “ilmu sakral”) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifan ternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat ini masih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern.

Pada abad pertengahan (medieval times) banyak berkembang faham Barat yang mencoba memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Sebut saja Nietzsche, dia berargumen bahwa agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan. Ia menambahkan, “seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisika jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang. Antara ilmu pengetahuan dan agama masing-masing menempati bintang yang berbeda”. Nampaknya ada indikasi bahwa ia tidak menginginkan nilai-nilai Islam masuk ke dalam pembahasan ilmu pengetahuan modern.

“Sekularisasi ilmu pengetahuan” menjadi fondasi utama dalamsepanjang sejarah peradaban Barat modern. Dengan adanya sekularisasi ilmupengetahuan, sedikit demi sedikit akan memisahkan jarak antara ilmu denganagama, melenyapkan wahyu (Al-Quran) sebagai sumber ilmu, dan juga memisahkanwujud dari yang sakral. Selain itu sekularisasi ilmu juga telah menjadikanrasio sebagai basis keilmuan secara mutlak, dan mengaburkan maksud serta tujuanilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah.

Sebagai solusi menghadapi krisis epistemologi yang sedangmelanda segala bentuk pemikiran dan juga sebagai jawaban dari berbagaitantangan yang muncul dari hegemoni westernisasi ilmu, maka perlu kiranyamenghadirkan suatu gagasan islamisasi ilmu pengetahuan, yang mana dalam bahasaArab istilah islamisasi ilmu disebut juga dengan “islamiyyat al-ma’rifat, ataubahasa Inggris disebut sebagai “islamization of knowledge”.

Usaha islamisasi ilmu pada dasarnya telah terjadi sejak masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang waktu itu diturunkan Al-Quran dengan bahasa Arab, sehingga dengannya mampu mengubah watak serta pandangan hidup (worldview) dan tingkah laku bangsa Arab (Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, Wan Mohd. Nor Wan Daud, 1998). Oleh karena itu, wacana islamisasi ilmu bukanlah suatu yang baru, hanya saja dalam konteks operasionalnya pengislaman ilmu-ilmu masa kini dicetuskan oleh tokoh-tokoh ilmuwan islam, seperti: Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, al-Faruqii, Fazlur Rahman, Syed Husein Nasr , dan lain-lain.

Ungkapan “islamisasi ilmu” memang sedikit mengaburkan maknadalam pembahasannya, sebab istilah tersebut membawa konotasi kepada seluruhilmu, termasuk ilmu-ilmu sains islam yang telah didasarkan Al-Quran dan sunnahyang dibangun oleh sarjana Islam, namun tidak islami oleh sebab itu harus“diislamkan”. Lain halnya dengan istilah “islamisasi ilmu pengetahuankontemporer” yang lebih cenderung kembali kepada ilmu Barat modern yang tidaksesuai dengan nilai-nilai keislaman sehingga perlu memasukkan nilai Islam kedalamnya.

Al-Attas vs al-Faruqi

Munculnya ide islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer disebabkanadanya premis bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai. Ilmu-ilmukontemporer yang terkontaminasi oleh premis demikian dan telah melalui prosessekulerisasi dan westernisasi yang tidak lagi sesuai dengan kepercayaan, justruini yang akan membahayakan keadaan umat Islam. Naquib al-Attas menegaskan dalamkaryanya Islam and Secularism bahwa “ilmu itu tidaklah bebas nilai (value-free)tapi syarat akan nilai (value-laden)”. Dalam Islam semua ilmu bersifatuniversal dan tidak ada pemisahan sedikit pun antara ilmu-ilmu dalam Islamdengan nilai agama.

Selain Syed al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi juga tidak terlepasdalam pembahasan ini. Al-Faruqi merupakan penggagas proyek Islamization ofKnowledge (Islamisasi Ilmu, 1982) yang mana ia telah sampai pada kesimpulanyang dituliskan dalam karyanya bahwa akibat dari kemunduran umat Islam, yaituadanya sistem pendidikan yang berusaha menjauhkan umat muslim dari agamanyasendiri dan dari sejarah kegemilangan yang seharusnya dijadikan kebanggaantersendiri atas agama Islam. Oleh sebab itu, ia memberikan solusi, yaituperlunya perbaikan sistem pendidikan yang memadukan antara ilmu-ilmu umum danagama sebagai langkah membentuk peradaban Islam yang sempurna

Antara pemikiran al-Attas dan al-Faruqi terdapat sedikitperbedaan dalam merumuskan islamisasi ilmu. Al-attas lebih mengorientasikanproses islamisasi ilmu ke dalam tujuan, yaitu untuk melindungi orang Islam dariilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Namunal-Faruqi nampaknya lebih menitikkan islamisasi ilmu kepada “ketauhidan”,kemudian membangun ulang penyusunan data, mendefinisikan kembali ilmu, serta membentukkembali tujuan dalam bentuk Islam digunakan sebagai kerangka dasar pemikiran.

Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari Universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian, menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua, yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir di hadapan peradaban Islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja diundang (an invited guest), bukan sebagai penjajah atau perusak (an invading force). Namun pada tahap ini Islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, di sini Islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.

Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebatseperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873), dan lain-lain. Prosesini tidak berhenti di sini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dannaturalisasi. Pada fase ini Islam telah mampu membuat dan mengkonsep ulang ilmupengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggupmenjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terusberlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai denganhasil produktivitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benarluar biasa.

Dari paparan di atas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmupengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai denganbingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan, yaknikesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis danterikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetapdikembangkan, dilaksanakan, dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep,ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan“worldview Islam”.

Dengan demikian, proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer adalah merupakan respon intelektual yang sangat positif dan tepat. Karena hanya dengan merumuskan dan mengaplikasikan konsep islamisasi inilah kaum muslimin akan mampu mencapai kemajuan ilmiah dan teknologi, serta dapat mempertahankan dan bahkan membentengi pola pandang intelektual, moral, dan spiritual Islam di jiwa umat manusia. Namun bagaimana pun, keberhasilan proses islamisasi pengetahuan modern sangatlah bergantung pada usaha bersama yang terkoordinasi oleh intelektual muslim seutuhnya. Wa allahu a’lamu bi as-showaab.

Artikel ini telah dimuat di Hidayatullah.com pada 6 November 2009

Related Posts

2 comments

Pesan Pluralisme dalam Perayaan Natal December 12, 2019 - 1:29 am

[…] Hijriah”. Berbeda karena kita melihat ungkapan “Marry Cristmas” itu menggunakan cara pandang (worldview) Islam yang […]

Reply
Ramadhan : Momentum Perubahan Dan Rekonstruksi Peradaban April 25, 2020 - 8:26 am

[…] islamisasi ilmu pengetahuan, aspek kemuliaan manusia juga merupakan asas penting dalam membangun peradaban Islam. Konsep […]

Reply

Leave a Comment