Home Learning Teori Logika Dalam Pemikiran Filsafat Filosof Barat

Teori Logika Dalam Pemikiran Filsafat Filosof Barat

by Muhammad Ismail
0 comment

Teori logika dapat kita pahami melalui penggunaaan term tersebut. Logika dalam bahasa Inggris disebut Logic, Latin : Logica, Yunani : Logice atau Logicos, maknanya yaitu apa yang termasuk ucapan yang dapat dimengerti, atau akal yang berfungsi baik, teratur, sistematis dapat dimengerti (Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005, cet. 4, p. 520)

Teori Logika merupakan cabang yang berpangkal pada penalaran dan juga sebagai dasar filsafat. Selain itu logika juga sebagai sarana ilmu. Logika berfungsi sebagai jembatan penghubung antara filsafat dan ilmu yang secara terminologis didefinisikan, “teori tentang penyimpulan yang sah”. Penyimpulan yang sah artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut sehingga dapat dilacak kembali.

Menurut sistem penalarannya, logika dibagi menjadi dua, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif adalah usaha sistematis (a) untuk merumuskan aturan-aturan penarikan kesimpulan yang konsisten dan lengkap, (b) untuk menetapkannya pada argumen-argumen yang disajkan secara formal, (c) menentukan apakah kesimpulan-kesimpulannya dapat ditarik secara sah atau tidak sah dari premis-premis. Logika deduktif disebut juga dengan “logika formal”. (Lorens Bagus, 2005, p. 530)

Sedangkan logika induktif ialah usaha (a) untuk merumuskan aturan-aturan yang memungkinkan pernyataan-pernyataan dapat ditentukan sebagai kuat atau probable secara empiris, (b) untuk merumuskan prosedur-prosedur kesimpulan atau argumen-argumen non deduktif, (c) untuk menentukan derajat konfirmasi/probabilitas bagi kesimpulan yang didasarkan atas derajat konfirmasi atau probabilitas yang mungkin untuk ditentukan bagi premis-premis dan (d) untuk menarik kesimpulan bukan dari pernyataan-pernyataan umum, melainkan dari hal-hal khusus. Logika induktif disebut juga dengan “logika material”. (Lorens Bagus, p. 535)

Aristoteles (384-322 SM)

Dilahirkan di Stagira, Yunani Utara, ayahnya adalah seorang dokter di Macedonia pada masa pemerintahan Philip V. Ayah dari Alexander Agung. Aristoteles adalah pembentuk logika ilmiah. Fungsinya yaitu memaparkan metode untuk memperoleh pengetahuan. Logika Aristoteles berkisar tentang dua hal khususnya “definition” & syllogism”. Definisi membicarakan penjelasan yang sudah jadi dan silogisme merupakan proses pembuktian. Atau lebih dikenal juga dengan logika deduktif. (Ali Mudhofir, Kamus Filsafat Barat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001, p.25).

Logika pertama-tama disusun oleh Aristoteles (384-322 SM), sebagai sebuah ilmu tentang hukum-hukum berpikir guna memelihara jalan pikiran dari setiap kekeliruan. Karya Aristoteles di bidang logika terangkung dalam kitab “Organon”. Sedangkan tokoh logika pada masa islam adalah al-Farabi (873-950 M) yang terkenal mahir dalam bahasa Grik Tua.

Francis Bacon (1561-1626)

Francis Bacon sangat menentang metode deduksi Aristoteles dan kaum skolastik. Sebagai gantinya, ia mengemukakan metode eksperimental atau induktif. Metode yang benar menurut Bacon adalah mengamati alam tanpa prasangka, kemudian menetapkan fakta-fakta berdasarkan percobaan-percobaan yang bermacam-macam. Jika fakta-fakta telah ditetapkan, maka fakta-fakta itu bisa disimpulkan. Metode induksi merupakan proses penyisihan yang dengannya semua sifat yang tidak termasuk sifat yang tunggal ditiadakan. Tujuannya adalah untuk memiliki sebagai sisanya sifat-sifat yang menonjol dalam fakta-fakta yang diamati. (Ali Mudhofir, 2001, p.44).

Bacon menaruh harapan besar pada metode induksi yang tepat. Yaitu induk yang bertitik pangkal pada pemeriksaan (eksperimen) yang teliti mengenai data-data partikular, selanjutnya rasio bergerak maju menuju suatu penafsiran atas alam (interpretation nature). Menurut Bacon ada dua cara untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan induksi ini. Pertama, Jika rasio bertitik pangkal pada ungkapan-ungkapan paling umum (yang disebut ‘axiomata’) guna menurunkan secara deduktif ungkapan-ungkapan yang kurang umum berdasarkan ungkapan-ungkapan yang paling umum tersebut. Kedua, Kalau rasio berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular guna merumuskan ungkapan umum yang terikat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, lalu secara bertahap maju kepada ungkapan-ungkapan yang lebih umum.

Masih menurut Bacon, agar induksi tidak terjebak dalam proses generalisasi yang terburu-buru, ada empat macam halangan dalam berpikir, yaitu :

  1. Halangan tribus (manusia pada umumnya atau awam), menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya.
  2. Halangan specus (gua), menarik kesimpulan hanya berdasarkan prasangka.
  3. Halangan fori (pasar), menarik kesimpulan hanya karena ikut opini public.
  4. Halangan theatric (panggung), menarik kesimpulan dengan dasar dogmatis, mitos, kekuaran gaib, dst.

Bacon menegaskan, apabila seorang ilmuwan dapat lolos dari keempat godaan tersebut maka ia akan mampu menangani penafsiran atas alam melalui induksi secara tepat. Ciri khas induksi ialah menemukan dasar inti yang melampaui data-data partikular, berapapun besar jumlahnya.

John Stuart Mill

Teori logika John Stuart Mill didasarkan pada kaidah-kaidah asosiasi seperti halnya Francis Bacon. Logika merupakan studi tentang metode ilmiah berusaha mencari hubungan sebab akibat di antara gejala-gejala. Hal ini berlangsung dari studi tentang fakta-fakta nyata dari pengalaman, (Ali Mudhofir, p. 323). Induksi dalam pemikiran Mill terdiri dari beberapa metode yaitu: Metode Kesesuaian (Method of Agreement), Ketidaksesuaian (Method of Difference), Dan Metode Sisa (Method of Residues), Metode Menyisakan (method of residues). (Muhammad Muslih, Filsafat Ilmu, Yogyakarta : Belukar, 2008, cet. V, p. 106)

Metode Kesesuaian (Method of Agreement) dalam Teori Logika

Apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mengandung faktor yang sama, maka faktor (yang sama) itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki.

Contoh : Semua murid muntah-muntah setelah membeli rujak di depan sekolah.

Artinya, suatu sebab disimpulkan dari adanya kecocokan sumber kejadian.

Ketidaksesuaian (Method of Difference)

Apabila suatu peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya, namun faktor-faktornya sama kecuali satu, yang mana faktor (yang satu) itu terdapat pada peristiwa pertama, maka itulah satu-satunya faktor yang menyebabkan peristiwa itu berbeda. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa satu faktor (yang berbeda) itu sebagai suatu sebab terjadinya suatu gejala pembeda (yang diselidiki tersebut).

Contoh : Ahmad sakit perut setelah makan : sate, bakso, rawon, es cendol. Sedangkan Ihsan (tidak sakit) mengatakan ia juga telah makan : sate, bakso, rawon. Maka kesimpulan yang dapa diambil yaitu minum es cendol membuat sakit perut.

Metode Sisa (Method of Residues)

Disebut juga metode perubahan selang-seling seiring. Apabila suatu gejala yang dengan suatu cara mengalami perubahan ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu maka gejala itu adalah sebab atau akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat.

Contoh : Peristiwa pasang surut air yang dipengaruhi oleh daya grafitasi bulan. Tapi kesimpulan ini tidak dapat digunakan pada kriteria di atas. Sebab kedekatan posisi bulan di atas air bukanlah satu-satunya penyebab pasang surut air. Akan tetapi ada bintang yang perannya tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Begitu pula dalam menentukan kalender yang tidak bisa hanya mengandalkan posisi matahari. Bulan dan bintang pun harus masuk dalam pertimbangan.

Metode Menyisakan (Method of Residues)

Jika ada peristiwa dalam keadaan tertentu dan keadaan tertentu ini merupakan akibat dari faktor yang mendahuluinya, maka sisa akibat yang terdapat pada peristiwa itu pasti disebabkan oleh faktor yang lain.

Dari paparan singkat di atas, dapat kita pahami bersama bahwa semua teori logika yang diketahui manusia adalah ide-ide yang berurutan satu dengan lainnya sesuai dengan kaidah asosiasi yaitu similaritas, kontiguitas dan kausalitas. Dengan demikian, mengetahui berarti mempelajari ide-ide dan menemukan ide yang tetap, benar dan valid. Semua kebenaran bukanlah terbukti dengan sendirinya (self evident), melainkan dengan induksi dan penafsiran tentang induksi.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More