Home Artikel Sibawaih : Pakar Linguistik Penulis “Qur’an al-Nahwi”

Sibawaih : Pakar Linguistik Penulis “Qur’an al-Nahwi”

by Muhammad Ismail
Biografi Sibawaih

Sibawaih adalah Amr ibn Uthman ibn Qambar, beliau lahir dari bani al-Harith ibn Ka’ab ibn Amr ibn ‘ulah ibn Jald ibn Malik ibn Udud. Menurut abu Ali al-Baghdadi, “Sibawaih dilahirkan di Baidha’ dekat desa Siraz”. Kemudian beliau pergi ke Bashrah untuk menulis hadith, waktu itu beliau masih muda akan tetapi memiliki kecerdasan yang luar biasa dibandingkan teman sebayanya.

Adapun tahun kelahiran Sibawaih tidak ada data yang valid yangdapat dijadikan sandaran. Tapi, Yaqut mencoba untuk mengkaji dalam sebuahmakalahnya sebagaimana diungkapkan : al-Murzibani berkata bahwa Sibawaihmeninggal di Syiraz tahun 180 H, al-Khatib menambahkan bahwa ketika itu usiaSibawaih adalah 32 tahun, ada pula yang mengatakan bahwa Sibawaih wafat padausia yang mendekati 40 tahun dan inilah analisa yang mendekati kebenaran.Inilah yang telah diriwayatkan oleh Isa ibn Umar, dan Isa ibn Umar wafat padatahun 149 H. sedangkan jarak antara wafatnya Isa dan wafatnya Sibawaih adalah 31tahun.

Sibawaih menyusun kitabnya yang terkenal dengan “al-Kitab”menggunakan madzab al-Khalil, Yunus, Abi Amr, Ibn Abi Ishaq dan lain-lain.Kitab tersebut pun telah banyak ditelaah oleh para nahwiyyin (sebutanbagi ulama Nahwu) terdahulu. Dan bukanlah berlebihan jika Sibawaih disebutdengan orang yang paling cerdas dan pandai di bidang Nahwu setelah masa Khalil.Sebab Sibawaih telah menciptakan karya yang luar biasa di bidang Nahwu sehinggakitab tersebut dijuluki dengan “Qur’an al-nahwi (al-Kitab)”, dikatakandemikian sebab tidak yang sebagus dan secerdas karya Sibawaih baik sebelummaupun setelahnya.

Dalam kitabnya, Sibawaih banyak membahas ilmu bahasa Arabseperti al-Nahwu, al-Sharaf, al-Ashwat, al-Qiraat dan al-Si’ir, dan selebihnyaterdiri dari ilmu-ilmu yang saling melengkapi dan memiliki keterkaitan.

Kitab Qur’an al-nahwi (Al-Kitab)

Al-Kitab merupakan kitab terbesar yang mengupas secara detailtentang ilmu Nahwu. al-Kitab dibuat oleh Sibawaih dengan segala kecerdasannyaketika masih muda. Ia menuliskan karya tersebut setelah meninggalnya al-Khalilibn Ahmad al-Farahidi (th. 160). Dalam kitabnya, Sibawaih banyak mengutippernyataan al-Khalil, sebab beliau merupakan guru dari Sibawaih. Adapun yangmenyaksikan publikasi al-Kitab ialah Abu al-Hasan al-Akhfas (murid dariSibawaih sendiri).

Dalam perjalanan karya Sibawaih tersebut, telah banyak ulamabahasa maupun para penulis buku yang berusaha memberikan nama terhadap “al-Kitab”dengan nama-nama yang berbeda. Hal ini dikarenakan Sibawaih belum sempatmemberi nama bukunya, bahkan beliau pun belum menuliskan pendahuluan (mukaddimah)dan penutupnya karena terlebih dulu meninggal di usia yang relatif muda. Adapunyang ditulis pertama kali dalam bukunya yaitu tentang “Bab al-Kalimah”dalam bahasa Arab.

Adapun yang mempopulerkan al-Kitab bukanlah Sibawaih karenabeliau tidak sempat melakukannya. Akan tetapi atas inisiatif muridnya(al-Akhfas al-Saghir) buku tersebut dikenalkan ke publik tanpa nama yang tetap.Oleh sebab itulah disebut “al-Kitab” yang artinya “Buku” tanpa mencirikan suatuapapun terhadap isinya. Akan tetapi nama ini telah melekat dalam benak setiappengkaji ilmu bahasa Arab.

Karena al-Kitab memiliki kesempurnaan dalam cakupan ilmu, hingga saat ini buku tersebut masih dijadikan rujukan primer bagi siapa saja yang sedang menekuni bahasa Arab. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Khadijah al-Hadithi bahwa al-Kitab adalah buku terlengkap yang pertama dan terakhir yang membahas secara detail mengenai ilmu Nahwu.

Sibawaih mengumpulkan secara lengkap ilmu-ilmu Nahwu, Sharaf,dan materi-materi bahasa sehingga banyak para ahli Mu’jam (kamus)merujuk kepada al-Kitab untuk mencari kosa kata yang baru untuk dikembangkankembali. Dalam menulis karyanya, Sibawaih banyak merujuk kepada al-Qur’an danal-Hadith ketika menjelaskan tentang kaidah-kaidah mendasar yang tidakditemukan dalam karya-karya sebelumnya.

Sibawaih percaya bahwa al-Qur’an dan al-Hadith adalah rujukanyang paling lengkap dan tidak akan terdapat kesalahan di dalamnya sebabal-Qur’an datang dari Allah Sang Pencipta alam dan seisinya. Konsep dasaritulah yang memberikan stimulus positif terhadap Sibawaih. Hal ini tercerminpada istilah-istilah maupun contoh-contoh yang dikemukakan oleh Sibawaih dalammenjelaskan kaidah suatu ilmu dalam al-Kitab.

Al-Kitab terdiri dari 5 jilid. Dalam jilid 1 dan 2 beliau berbicara banyak mengenai ilmu Nahwu, jilid 3 membahas kaidah-kaidah ilmu Sharaf, jilid 4 ilmu Lughah (bahasa) yang dibahas secara jelas dan lengkap, dan jilid ke 5 berisi tentang al-Qira’at dan hal-hal lain yang dijadikan bahan tambahan. Dalam jilid ke 4 tentang ilmu bahasa (dalam al-Kitab disebutkan dengan bab al-idgham) inilah penulis ingin meneliti dan mencoba mendiskripsikan kembali proses asimilasi yang banyak terjadi dalam bahasa Arab.

Kajian Linguistik Menurut Sibawaih

Kajian mengenai linguistik berkembang pesat pada pertengahankedua dari tahun ke dua puluh. Ilmu linguistik atau yang lebih dikenal denganilmu bahasa saat ini lebih akrab di telinga para peminat kajian tersebut.Kajian ini berkaitan erat dengan “al-ashwat” atau fonologi. Untukmengembangka kajian ini, banyak teknologi yang bermunculan yang turut mencobamenggali ilmu yang masih tersimpan.

Bahasa adalah fenomena universal yang denganya manusia bisamentransfer makna kepada orang lain. Pada hakekatnya, bahasa tidaklah berubahakan tetapi yang berubah adalah susunan kata ketika diucapkan, dan inilah yangmempengaruhi berubahnya makna yang disampaikan seseorang.

Bahasa terdiri dari kata-kata yang tersusun rapi sehinggamenghasilkan suatu kalimat tertentu. Adapun pengkajian yang paling menarikuntuk dibahas yaitu studi fonetik yang meliputi pembahasan bagian kata-kata,baik yang meliputi makhraj dan sifat setiap kata-kata tersebut. Selainitu, studi fonetik atau fonologi juga meliputi perbedaan dari segi pengucapandan lain-lain. Oleh sebab itulah dinamakan kajian al-ashwat dengan Phonetique.

Studi Fonologi Dalam “al-Kitab”

Fonologi atau dalam bahasa Arab disebut al-Shaut secarabahasa dapat diartikan sebagai bel (al-Jaras). Sedangkan dalam bentuk jama’(al-Ashwat) sebagaimana diungkapkan oleh Ibn al-Sukkait, al-Shautadalah suara manusia baik yang bersifat jelas maupun tidak. Adapun Ibn Jinni(w.392 H) dalam kitabnya Sirru Shina’ati al-I’raab, al-Shaut adalahucapan yang keluar bersama dengan nafas secara terus menerus dan sambungmenyambung sehingga sampai di tenggorokan, mulut dan kedua bibir. Suara yangkeluar sepotong-sepotong disebut huruf yang masing-masing memiliki tekanan yangberbeda-beda.

Ibnu Jinni melanjutkan bahwa suara adalah salah satu sarana yangdigunakan manusia untuk menyampaikan keinginannya. Jahid menambahkan, al-shaut(suara) adalah alat untuk berucap atau menuturkan kata-kata. Tanpa adanyakata-kata yang tersusun rapi maka suara tidak akan membentuk kalimat yang bisadipahami maknanya.

Dalam pembahasan mengenai al-Shaut (suara), Sibawaih(w.182 H) menentukan tempat keluarnya huruf, sifat-sifatnya serta menyebutkanberbagai istilah yang telah digunakan oleh kebanyakan ulama bahasa modern.Seperti huruf “ل” yang keluar dari tepi lidah bawah sampai ke ujungnya. Selainitu, Sibawaih juga telah menentukan sifat pada setiap huruf seperti sifat Majhur(voises) dan Mahmus (non voises). Dalam al-Kitab, Sibawaihmenambahkan bahwa dalam huruf hijaiyyah terdapat pula huruf yangbersifat keras (syiddah), lemah (al-rakhawah).

Related Posts

Leave a Comment