Home Artikel Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman

Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman

by Muhammad Ismail
Konsep hati sebagai pintu masuknya kebaikan dan keburukan

Salah satu konsep hati adalah as-Shadr. Shadr merupakan istilah yang datang dari bahasa Arab yaitu shadara-yashduru-shadran, bentuk pluralnya yaitu shudur. Dalam al-Mu’jam al-Wasith dikatakan bahwa hati disebut dengan istilah shadr karena itu merupakan sumber dari segala urusan. Shadr merupakan dimensi paling luar atau disebut juga dengan bagian terluar atau pertama dari hati. Shadr merupakan pintu utama masuknya pengetahuan ke dalam hati.

Dalam bahasa Hakim Tirmidzi, shadr adalah lapangan atau tempat bersemayamnya raja (hati). Senada dengan Tirmidzi, Raghib Al-Ashfahany juga mengatakan bahwa shadr merupakan tempat bersemayamnya hati atau jantung, akal bahkan ilmu pengetahuan. Ungkapan Tirmidzi dan Raghib tersebut sesuai dengan yang ada dalam al-Qur’an surat Al-Hajj : 46:

أَفَلَمۡيَسِيرُواْفِيٱلۡأَرۡضِفَتَكُونَلَهُمۡقُلُوبٞيَعۡقِلُونَبِهَآأَوۡءَاذَانٞيَسۡمَعُونَبِهَاۖفَإِنَّهَالَاتَعۡمَىٱلۡأَبۡصَٰرُوَلَٰكِنتَعۡمَىٱلۡقُلُوبُٱلَّتِيفِيٱلصُّدُورِ٤٦ 

Artinya:

Maka apakahmereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itumereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapatmendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. Al-Hajj : 46)

Secara sederhana posisi dimensi shadr, qalb, fuad dan lubb dapat diibaratkan seperti mata. Shadr bagaikan putihnya mata yang ada di dalam mata, shadr ialah pintu atau pusat masuknya segala sesuatu atau yang disebut juga dengan pusat hati. Sedangkan qalb ialah mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, dan lubb adalah cahaya mata. Gambaran fungsi dimensi hati memang terkesan spiritual atau transcendent.

Baca Juga:

  1. Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan
  2. Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang Selalu Berbolak-Balik
  3. Lubb: Dimensi Hati Sebagai Sumber Kebenaran Ilahi

Tapi, memang begitulah berpikir secara benar yang diisyaratkan al-Qur’an yaitu dengan melibatkan unsur-unsur spiritualitas dari dalam jiwa manusia. Seperti unsur keTuhanan, perkara ghaib, dan lain sebagainya.

Dalam al-Qur’an istilah shadr disebutkan dalam dua bentuk. Dalam bentuk singular kata shadr diulang kurang lebih 9 kali. Sedangkan dalam bentuk plural kata tersebut diulang sebanyak 33 kali. Dan uniknya hampir semua lafadz shadr yang diungkapkan dalam al-Qur’an secara semantik leksikal dan gramatikal menunjuk makna “hati”, serta menunjuk sebagai tempat ilmu pengetahuan dan keberIslaman manusia. Hal ini dapat kita lihat melalui surat Az-Zumar : 22.

أَفَمَن شَرَحَ ٱللَّهُ صَدۡرَهُۥ لِلۡإِسۡلَٰمِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٖ مِّن رَّبِّهِۦۚ فَوَيۡلٞ لِّلۡقَٰسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ٢٢

Artinya :

Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.(Az-Zumar : 22)

Ar-Raghib al-Ashfahanymenjelaskan bahwa cahaya Allah SWT (Islam) masuk ke hati orang yang taat melauidadanya (shadr). Dan syarat untuk mendapatkan cahaya tersebut ialahselalu berdzikir atau mengingat Allah SWT. At-Thabari menambahkan bahwa manusiayang selalu berada dalam ketaatan dan kepatuhan terhadap syariat Allah maka iaberada dalam cahaya kebenaran-Nya.

Dan cahaya kebenaran Islam pada hakekatnya terdapat dalam hati. Oleh sebab itu, orang yang selalu berada dalam kebenaran sebenarnya hatinya telah mendapatkan hidayah. Sebaliknya, orang yang hatinya kosong terhadap kebenaran Islam maka ia termasuk orang yang sesat.

Hati dan setiapdimensinya memiliki keistimewaannya masing-masing. Pada dimensi shadr inilah syetan mengganggu manusia dengan segala tipu dayanya. Sebab nafs al-ammarah bi as-suu’ yangmerupakan gambaran watak syetan selalu dihembuskan pada shadrmanusia. Hal tersebut dapat kita ketahui melaluiterminologi-terminologi yang digunakan dalam al-Qur’an,seperti dalam surat an-Naas : 5-6.

ٱلَّذِييُوَسۡوِسُفِيصُدُورِٱلنَّاسِ٥  مِنَٱلۡجِنَّةِوَٱلنَّاسِ٦ 

Artinya:

Yang membisikkan(kejahatan) ke dalam dada manusia * dari (golongan) jin danmanusia. (An-Naas:5-6)

Dalam ayat di atas terminologi yang digunakan untuk menunjukdimensi hati yang berada dalam dada manusia ialah istilah shudur. Iniberarti dimensi yang selalu mendapatkan gangguan dari syetan ialah shudur.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang telah ditulis Al-Maraghi dalamtafsirnya. Beliau juga menambahkan bahwa keragu-raguan (syak) jugaterdapat di dalam dimensi shadr dan bukan dimensi qalb. Adapungolongan yang selalu mengganggu datang dari dua golongan yaitu jin dan manusia.Keterangan tersebut juga dapat kita temukan dalam suratt Al-An’aam :112

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَالإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًاوَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya:

Dan Demikianlah Kamijadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusiadan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lainperkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmumenghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka danapa yang mereka ada-adakan.(Al-An’aam : 112)

Adapun yang dimaksudsyetan di sini berasal dari jenis jin dan manusia yang selalu berupaya untukmenipu manusia agar tidak beriman kepada apa yang telah dibawa oleh NabiMuhammad SAW. Dan Allah SWT merupakan Dzat yang Maha Menguasaiisi hati manusia. Ini dapat kita lihat melalui ayat berikut:

… وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِيصُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِالصُّدُورِ

Artinya :

…. dan Allah (berbuatdemikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apayang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati (Ali Imran : 154)

Dalam beberapa ayat, Allah menggunakan terminologi “ad-dhayiq/yadhiqu”yang artinya “kesempitan” untuk menunjuk sifat negatif yang bisa dialami oleh shadr.Sebagaimana dalam surat As-Syu’ara’ : 12-13 berikut:

قَالَرَبِّ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ* وَيَضِيقُ صَدْرِي وَلا يَنْطَلِقُ لِسَانِيفَأَرْسِلْ إِلَى هَارُونَ

Artinya:

Berkata Musa:“Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan(karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku Maka utuslah (Jibril)kepada Harun. (Q.S. As-Syu’ara’ : 12-13)

Dan juga:

وَلَقَدْنَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

Artinya:

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempitdisebabkan apa yang mereka ucapkan  (Q.S.Al-Hijr : 97)

Hakim Tirmidzi mengatakan bahwa shadr manusia menjadi sempit karena ia dalam keadaan bodoh. Dengan kata lain, seseorang yang shadr-nya sempit berarti tidak memiliki ilmu pengetahuan dan tidak memiliki kemauan yang kuat untuk mencari hidayah Allah SWT.

Kondisi manusia yang bodoh atau sempit shadr-nya maka secaratidak langsung telah memperluas ruang kebathilan dalam dirinya. Begitu pulasebaliknya, ketika tempat untuk kebathilan menyempit, maka ruang untukkebenaran (haqq) yang didapatkan melalui ilmu pengetahuan menjadi lebihluas. Artinya, ini adalah suatu pilihan yang mana manusia harus lebih cerdasdalam menentukan mana yang haqq dan mana yang bathil berdasarkanilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Untuk itu ilmu seseorang sangat mempengaruhi segala apa yang dilakukannya. Di sinilah peran kebebasan manusia yang berupa ikhtiyar yaitu memilih yang baik untuk dirinya dengan proses berpikir (tafakkur).

Makna hati (shadr) di dalam al-quran

Adapun shadr seorang mukmin menjadi sempit juga dapat dikarenakanbanyaknya gangguan yang datang dari syetan. Terkadang seorang mukmin mengikutihawa nafsunya, dan terkena musibah. Sempitnya shadr juga bisa terjadikarena seringkali mendengar atau melihat suatu kebathilan dan tidak menyertakanhatinya (qalb) dalam memahami kebathilan tersebut.

 Adapun orang kafir telahterisi shadr-nya dengan kegelapan kekafiran, kesyirikan dankeragu-raguan. Sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk cahaya Islam ataukebenaran dalam hatinya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa letak darikekafiran (Q.S. An-Nahl : 106) dan keberIslaman(Q.S. Al-An’am : 125) ialah dalamdimensi shadr yang sarat akan nilai-nilai ilahiyyah dan terdapatjuga kemungkinan untuk menolak nilai-nilai tersebut.

Hakim Tirmidzi memiliki definisi tentang iman dan Islam sertaketerkaitannya dengan hati. Menurutnya, iman berarti membenarkan segala apayang benar dan menerimanya dalam hati (qalb) kemudian menetapkannyadengan lisan bahwa yang diimani tersebut ialah suatu kebenaran.

Sedangkan Islam adalah keyakinan akan kebenaran dengan hati,menerimanya serta istiqamah dalam melaksanakan kebenaran tersebut dan menjauhiapa yang dilarang Allah SWT. Menurut Tirmidzi shadr dalam konteks ini(dimensi hati) adalah bagian terluar dari organ hati (qalb) tapi masihtermasuk bagian dari hati itu sendiri.

Related Posts

3 comments

Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang selalu Berbolak-balik December 12, 2019 - 1:23 am

[…] tersebut merujuk pada hal yang sama yaitu hati. Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang Shadr, Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keimanan. Silahkan dibaca terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca artikel […]

Reply
Lubb: Dimensi Hati sebagai Sumber Kebenaran Ilahi December 29, 2019 - 12:32 pm

[…] Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran Dan Keislaman […]

Reply
Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan December 29, 2019 - 12:37 pm

[…] Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman […]

Reply

Leave a Comment