Home Opinion Qurban dan Budaya Arab

Qurban dan Budaya Arab

by Muhammad Ismail
0 comment

Nasr Hamid Abu Zayd, seorang intelektual yang berasal dari Mesir, berpendapat bahwa al-Quran adalah ‘Produk Budaya’ (Muntaj Thaqafi). Artinya, teks al-Quran, kata dia, terbentuk dalam realitas dan budaya. Hal ini diamini oleh Taufik Adnan Amal dalam salah satu bukunya yang berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an (2005).

Jika al-Qur’an terbentuk dari budaya Arab, maka nilai-nilai yang dikandungnya pun hasil produksi manusia. Termasuk nilai qurban. Secara tidak langsung, Nasr Hamid telah menyimpulkan bahwa nilai qurban (upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT) juga hasil budaya. Tulisan ini akan membahas nilai-nilai (konsep) dalam al-Qur’an yang mengikat nilai qurban. Serta hubungannya dengan budaya Arab pra Islam.

Budaya Arab Pra Islam

Kata budaya, menurut Prof. Koentjaraningkrat –seorang antropolog Indonesia- budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata “buddhi” atau budi dan akal. Sedangkan dalam Ensiklopedi Tematik Dunia Islam kebudayaan diartikan sebagai “semua hasil karya, rasa dan cipta manusia”.

Pada masa sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab lebih suka menyembah berhala. Tapi, bukan berarti mereka tidak mengenal kata “Allah”. Kosa kata “Allah”-sebagai Tuhan-, sebagaimana dikatakan Izutsu dalam bukunya God and Man in the Koran (1980), telah dikenal rakyat Arab pra Islam. Hanya saja, orang Jahiliyah tidak bisa menarik kesimpulan atas suatu kebenaran yang ada. Akhirnya mereka pun menciptakan sosok Tuhan dalam bentuk berhala.

Karena mereka menciptakan wujud Tuhan, maka ritualnya pun diciptakan. Mungkin model seperti inilah yang sesuai dikatakan dengan budaya. Hal ini selaras dengan konsep budaya di atas. Tuhan yang mereka sembah adalah hasil dari cipta, rasa dan karya mereka sendiri.

Berbeda dengan Islam. Islam bukanlah agama dari hasil ciptaan manusia. Islam adalah agama yang berisikan syariat Allah SWT. Dengan datangnya Islam, istilah Allah (pra Islam) pun disesuaikan dengan Islam. Kata Allah (dalam Islam) memiliki makna tertinggi dari segala nilai-nilai Islam yang ada. Allah dalam Islam adalah sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta.

Jadi, budaya Arab pra Islam sangat bertentangan dengan Islam itu sendiri. Islam sangat menjunjung nilai ketauhidan, sementara Arab pra Islam tidak demikian. Dengan datangnya Islam inilah budaya Arab yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, mulai diganti dengan sistem yang lebih Islami. Maka, budaya Arab tunduk dengan Islam dan bukan sebaliknya.

Relasi Makna Qurban

Salah satu nilai yang terkandung dalam al-Qur’an adalah nilai pengorbanan. Dalam sejarah Islam, pengorbanan terbesar telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. Beliau sangat mencintai Allah SWT melebihi cintanya kepada keluarganya sendiri. Oleh sebab itu, beliau mau mengorbankan segalanya demi apa yang telah disyariatkan oleh Allah SWT.

Berawal dari fakta sejarah itulah istilah “Qurban” digunakan. Kata “Qurban” dalam al-Mu’jam al-Wasith (2004:723) merupakan bentuk derivasi dari akar kata “Qaruba-Yaqrabu-Qurban wa Qurbanan” yang berarti “mendekat”. Artinya, yaitu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Inilah nilai mendasar yang tersirat dari kata Qurban.

Akan tetapi, untuk mengungkap makna utama suatu kata dalam al-Qur’an tidak cukup dengan menelisik akar katanya begitu saja. Toshihiko Izutsu –pakar semantik- mengatakan bahwa setiap kata inti dalam al-Qur’an pasti berhubungan dengan makna nilai (konsep) mendasar lainnya. Atau bisa juga disebut dengan makna relasional (conceptual network).

Adapun makna pertama yang berhubungan dari kata “Qurban” adalah “al-Taqwa (ketaqwaan). Al-Taqwa merupakan tujuan dari berkorban. Korban bukan hanya berarti menyembelih hewan di waktu Dhuha (udhhiya). Karena hewan sembelihan tidak akan sampai pada Allah SWT, (QS. Al-Hajj : 37) . Lebih dari itu, yang diterima Allah SWT adalah taqwa seseorang tersebut.

Upaya mendekatkan diri itu pun tidak cukup dengan mengetahui tujuannya saja. Mendekatkan diri harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. al-Ikhlas (keikhlasan), inilah nilai kedua yang berhubungan dengan Qurban. Sebab, dengan nilai ikhlas manusia akan belajar untuk selalu beristiqamah dalam berkorban. Ikhlas berarti menjalankan sesuatu tanpa rasa pamrih. Ikhlas adalah wujud ketaatan hamba kepada Allah SWT (QS. Al-a’raaf : 29).

Nilai terkait ketiga ialah al-Shabr (kesabaran) (QS. Ali imran : 200). Untuk mendapatkan derajat taqwa tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesabaran adalah hal yang mutlak dilakukan oleh seorang mu’min. Nilai sabar inilah yang sedang diajarkan Allah SWT kepada hambanya yang beriman. Jika seorang hamba itu taat, sebesar apapun ujian dari Allah SWT, ia pasti akan menerimanya. Termasuk ujian dalam berkorban.

Adapun makna terkait yang tertinggi adalah at-Tauhid (mengesakan Allah SWT). Nilai ketauhidan inilah sebenarnya yang membedakan pengorbanan dalam agama Islam dengan yang lainnya. Artinya, segala pengorbanan yang dilakukan umat muslim selalu bertujuan untuk mengesakan Allah SWT. Inilah bentuk keimanan dan ketaqwaan seorang hamba yang rela berkorban. Baik dalam waktu luang maupun sempit (QS. Al-Nisaa’ : 36).

Penutup

Penyembelihan hewan qurban pada masa pra Islam adalah bentuk sesembahan kepada berhala. Berbeda dengan Islam, hewan qurban hanya sebagai wujud nyata penghambaan diri kepada Allah SWT. Adapun yang terpenting –bagi Islam- bukanlah daging hewannya melainkan nilai-nilai yang mengikat aktifitas berkorban itu sendiri.

Jadi, qurban bukanlah hasil dari budaya Arab. Artinya, al-Qur’an pun bukan produk budaya. Qurban adalah syariat dari Allah SWT untuk mendidik umat Islam cara menghambakan diri yang benar. Oleh sebab itulah, Allah SWT mengikat nilai qurban dengan nilai-nilai spritual lainnya. Adapun nilai-nilai yang mengikat tersebut adalah nilai ketaqwaan, keikhlasan, kesabaran dan ketauhidan. Dengan demikian, hendaknya umat Islam tidak meninggalkan nilai-nilai tersebut meskipun pasca Idhul Adha.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More