Home Artikel Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang selalu Berbolak-balik

Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang selalu Berbolak-balik

by Muhammad Ismail
Makna Qalb dalam al-Qur'an

Dimensi hati dapat dipahami melalui 4 terminologi utama yaitu Shadr, Qalb, Fuad, Aql. Semua dimensi tersebut merujuk pada hal yang sama yaitu hati. Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang Shadr, Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keimanan. Silahkan dibaca terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca artikel ini.

Terminologi qalb merupakan istilah bahasa Arab. Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith kata Qalb yang memiliki akar kata qalaba berarti membalikkan, mengganti, berubah-ubah, dan berbolak-balik. Dari akar kata yang sama didapatkan turunan kata lain yaitu qallaba yang artinya melihat sebab akibat dari suatu kejadian atau lebih tepatnya mempertimbangkan akibat dari suatu kejadian.

Istilah inqilab yang merupakan hasil turunan dari kata qalaba juga sering digunakan dalam peradaban Persia modern untuk menjelaskan makna sebuah konsep revolusi atau perubahan suatu sistem kenegaraan. Dari akar kata yang sama juga digunakan untuk menunjuk Allah SWT sebagai Sang Maha Membolak-balikkan hati (muqallib al-qulub).

Qalb merupakan dimensi hati setelah shadr. Adnan an-Nahwi mengatakanbahwa qalb adalah tempat niat, kehendak, dan azam. Baginya, qalb adalah dimensi hati yang bisa menjadikan manusia baik atau buruk. Al-Qalb juga merupakan pusat bersemayamnya hidayah, imandan wawasan kesadaran yang mendalam atau ilmu.

Adapun dimensi ini memiliki sifat yang transenden atau tidak tampak dengan mata. Dan salah satu kemampuandimensi qalb yaitu memahami tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Sebagaimanayang dijelaskan dalam Q.S. Al-Hajj: 46

Artinya:

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hatiyang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itumereka dapat mendengar? Karenasesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang didalam dada. (Q.S. Al-Hajj : 46)

Secara umum ayat tersebut merupakan bentukteguran Allah SWT kepada orang-orang yang ingkar terhadap kebenaran. Dalam ayattersebut dijelaskan bahwa fungsi hati ialah memahami (qulubun ya’qilun biha)tanda kekuasaan dan kebenaran Allah SWT.

Dengan kata lain ‘aql adalah sifat, daya atau kemampuan qalb (dimensi hati) dan tidak menunjuk pada organ tertentu (kecuali hati). Untuk itulah Allah SWT menegaskan bahwa kondisi orang-orang kafir atau orang yang tidak berakal itu buta hatinya (yang terdapat dalam shadr (dada)) dan bukan buta pada mata yang ada di kepala.

Dimensi Hati (qalb) dalam al-Qur’an secara majas seringkali diartikan dengan istilah nafs (jiwa). Hal tersebut dapat dilihat melalui Q.S. Al-Baqarah : 235,

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُوَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya:

Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Makatakutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyantun. (Q.S. Al-Baqarah : 235)

Dalam ayat tersebut terminologi yang digunakanuntuk menunjuk makna “hati” ialah “anfusikum” yang merupakan bentukjama’ dari nafs. Ini menunjukkan bahwa hati juga berfungsi sebagaisumber ilmu manusia, yang mana ilmu-ilmu yang terdapat dalam hati tersebuttidak akan luput dari pengetahuan Allah SWT.

Untuk itulah pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban pada hari pembalasan nanti sebagai organ yang memiliki peran utama dalam mencari ilmu dan mendapatkan kebenaran dari ilmu tersebut. (Lihat: Q.S. Al-Isra’ : 36).

Selain itu, qalb juga merupakantempat bersemayamnya keimanan manusia. Hal tersebut dapat ditelaah melalui Q.S. An-Nahl : 106.

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَوَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْغَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapatkemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenangdalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanyauntuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.(An-Nahl :  106)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa keimanandan kekafiran seseorang sangat bergantung pada hatinya. Lebih jelasnya,terminologi iman seringkali disandingkan dengan istilah qalb (waqalbuhu muthma’innun bil iman). Sementara istilah kufr berhubungandengan terminologi shadr (bil kufri shadran).

Senada dengan hal tersebut sebagaimanadijelaskan oleh Hakim Tirmidzi dalam kitabnya Bayan Al-Farq baina As-Sadr,Al-Qalb, Al-fuad wa Al-Lubb bahwa hati (qalb) merupakan tempatketaqwaan, kedamaian (as-sakinah), at-tuma’ninah, kesucian (at-thaharah),dll. Beliau juga menambahkan bahwa tidak ada suatu penciptaan apapun sebaikpenciptaan hati yang tunduk kepada cahaya tauhid, ma’rifah dan iman.

Hati juga berfungsi sebagai dimensi yang mampumenerima kebenaran. Dan orang yang tidak menggunakan hatinya untuk memikirkankebenaran ilmu-ilmu Allah  SWT justruhatinya akan mati. Dan ketika hati seseorang telah mati maka sumber ketaqwaan,keimanan pun tertutup dan akhirnya yang terjadi adalah kekafiran dankemusyrikan.

Sebaliknya, dimensi hati yang telah memahami kebenaran, menurut terminologi Islam disebut qalbun salim. Menurut Fathullah Gulen, istilah qalbun salim adalah hati yang selamat dari penyakit atau kerusakan apapun. Adapun pengertian khususnya ialah hati yang tidak mengenal Tuhan selain Allah SWT.

Dengan kata lain, hati yang selamat ialah hati yang bebas darisegala hal yang membahayakan manusia. Hal ini tentu sejalan dengan hadith Nabi:“yang disebut muslim ialah orang yang kata-kata dan perbuatannya tidakmenyakiti muslim lainnya”. Artinya, perkataan dan perbuatan manusiamerupakan cerminan dari hati manusia.

Istilah qalb juga seringkalidisandingkan dengan istilah nafs (jiwa) dan ‘aql (akal).Ketiganya memiliki perbedaan, nafs memiliki pengertian yang lebih luasyaitu sebagai diri manusia yang terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Istilah nafslebih bersifat umum dari pada qalb yang berarti hati.

Akan tetapi, kadang juga bersifat khusus yakni ruh yangterdapat dalam diri manusia yang mengarahkan perilaku manusia. Adapun qalbbersifat lebih umum dari pada ‘aql. Ketiga hal tersebut masing-masingmemiliki karakteristik tersendiri.

Akan tetapi, ketika nafs dan qalb disebutkan dalam al-Qur’ansecara bersamaan, maka pada saat itu pula definisi qalb adalah tempat dimanasuatu keinginan bersemayam dan nafs merupakan tempat dimana syahwatmanusia bersemayam.

Sedangkan apabila disebutkan hanya salah satu maka definisinya tergantung pada struktur kalimat yang ada. Namun, yang terpenting untuk dipahami adalah bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh dan bukan dimensi yang terkotak-kotak terpisah.

Baca Juga:

  1. Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan
  2. Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman
  3. Lubb: Dimensi Hati Sebagai Sumber Kebenaran Ilahi

Dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 4, dikatakan bahwa Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya. Hal ini menunjukkan bahwa hati dalam perspektif Islam adalah jantung sebagaimana dipahami dalam ilmu Biologi. Sebab, kedua terminologi tersebut sama-sama menunjuk terhadap tanggung jawab hati sebagai fungsi penggerak tubuh secara keseluruhan. Maka sangat mustahil jika hati dan jantung adalah organ yang berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula.

Adapun dalil yang menunjukkan fungsi hatisebagai alat untuk memahami ayat-ayat Allah adalah Q.S. al-A’raaf ayat 179. Dalamayat tersebut Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa orang yang berpikir tidakmenggunakan hatinya, sama halnya seperti binatang ternak dan bahkan lebih sesatlagi. Dan itulah tanda-tanda orang yang lalai terhadap firman Allah SWT.

Dalam perspektif ilmu psikologi Islam, hatibeserta dimensinya memiliki fungsi yang saling berkaitan yang dapat dilihatdalam penggunaan terminologi dalam al-Qur’an. Adapun hati berdasarkan fungsinyaantara lain ialah: 1) as-Sadr, yaitu tempat perasaan was-was, 2) al-Qalbmerupakan tempat iman, 3) as-Syagaf yaitu tempat cinta, 4) al-fuadyang memiliki kemampuan dalam memelihara kebenaran, 5) Habat al-Qalbsebagai tempat cinta dan kebenaran, 6) al-Suwida, yaitu tempat ilmu danagama, 7) Mahajah al-Qalb, yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah SWT,8) al-Dhamir, merupakan tempat merasa dan daya rekoleksi (al-quwwahal-hafidzah), 9). Al-Sirr, sebagai bagian qalb yang paling halus dan rahasia.

Jika kita mengkaji secara mendalam, fungsi qalbpada dasarnya berkaitan erat dengan fungsi akal. Sebagaimana yang disampaikanoleh Baharuddin bahwa qalb juga memiliki beberapa fungsi selain yang telahdisebutkan di atas. di antaranya adalah fungsi kognisi yang mampu menimbulkandaya cipta, seperti berfikir (al-fikr), memahami (al-fiqh),mengetahui (al-ilm), memperhatikan (dabaro), mengingat (dzikr),dan melupakan (ghufl).

Selain itu, qalb juga memiiki fungsi emosiyang mampu menimbulkan daya rasa seperti tenang (tuma’ninah), sayang (ulfah),senang, santun dan penuh kasih sayang (ra’fah wa rohmah), tunduk danbergetar (wajilat), mengikat (ribat), kasar (galiz), takut(ru’b), dengki (gill), berpaling (dzaiq), panas (ghalit),sombong (hamiyah), dan kesal (isyma’azza). Serta fungsi konasiyang mampu menimbulkan daya karsa, seperti berusaha atau bekerja (kasb).

Berbicara tentang hati dan fungsinya memangsulit untuk digambarkan secara sempurna. Ini dikarenaka sifat qalb yang ghaib dan tidak tampak dengankasat mata dan tidak dapat dideteksi oleh indera apapun. Sebagaimana dikatakanoleh al-Ghazali sulitnya mengkaji kerja hati lebih disebabkan karena hatimerupakan alam al-amri.

Kerja hati tidak dapat dibuktikan secaraempiris dan maupun dengan eksperimen, sehingga hasil kajian atau ilmu yangmembahas tentang hakekat ruh masih sangat sedikit. Dan memang seperti itulahcara Allah SWT menyimpan sebagian ilmunya. Ini menunjukkan bahwa ilmu manusiabenar-benar sangat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT yangmencakup alam dhahir dan ghaib.

Related Posts

3 comments

Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan December 16, 2019 - 1:51 am

[…] 1. Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang selalu Berbolak-balik […]

Reply
Lubb: Dimensi Hati sebagai Sumber Kebenaran Ilahi December 29, 2019 - 12:34 pm

[…] Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang Selalu Berbolak-Balik […]

Reply
Inilah Alasan Umat Muslim Harus Mendirikan Shalat – Muhammad Ismail | Lecturer, Researcher & Author July 27, 2021 - 7:53 pm

[…] dengan bentuk yang sempurna yaitu manusia yang memiliki akal, hati dan ruh/nafs. Sebab, dengan hati (qalb) manusia akan mampu membedakan antara yang haqq dan bathil. Dan dengan akal, manusia akan mengetahui […]

Reply

Leave a Comment