Home Opini Pesantren dan Drama Terorisme Versi Indonesia

Pesantren dan Drama Terorisme Versi Indonesia

by Muhammad Ismail
Terorisme di Indonesia

Baru-baru ini kita sibukkan dengan berita tentang upaya berbagai kalangan untuk melakukan penutupan pondok pesanten Umar Bin Khottob di NTB. Penutupan ini dilakukan karena telah terjadi ledakan bom di dalam area pondok pesantren tersebut. Pondok yang dipimpin oleh ustadz Abrori, yang saat ini sedang menjalani proses pengadilan boleh jadi sebagai bentuk tindakan pelemahan kekuatan Islam.

Pondok pesantren, yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidik kader umat Islam justru telah tercemari hanya karena satu ledakan bom dengan skala ringan.

Atas kejadian tersebut tidak menutup kemungkinan semua pondokpesantren yang jumlahnya bahkan telah mencapai ribuan itu akan menjadi lembagayang paling ditakuti di Indonesia, imbasnya akan semakin sedikit pula calonkader umat yang mau mondok lagi, sehingga berkuranglah kader umat Islam.

Boleh jadi, target atas peristiwa ini adalah berkurangnya siswayang belajar di pondok pesantren. Ini tentu akan memudahkan mereka dalam upayamenghapus istilah “jihad” dalam otak dan mental setiap kaum Muslim.

Atas kelicikan musuh Islam inilah citra pondok pesantren semakinkental dengan budaya teror. Dengan kata lain, saat ini pesantren sedangdigiring ke dalam stigmatisasi sebagai sarang “teroris”. Setelah pondok Ngruki,Pondok Umar bin Khottob kini menjadi bulan-bulanan, bisa jadi tidak hanyasampai di situ, suatu saat pondok-pondok yang lainnya pun akan dihajar dengan dalihyang sama.

Masalahnya, tindakan dan usaha melaranb pesantren ini di dukungoleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj denganmembentuk Densus 99 dengan alasan untuk membantu peran Densus 88. Tentu hal iniakan menjadikan opini public yang kuat bahwa pondok pesantren identik dengan“aksi teror” sehingga perlu diawasi selama 24 jam sehari.

Islam, Jihad dan Era Penghancuran Agama

Era penghancuran dasar-dasar agama Islam saat ini semakinmenjadi-jadi. Sekarang bukan lagi secara diam-diam akan tetapi telah membesarbahkan mencakup ranah kenegaraan. Semua pihak –dengan dukungan media—melakukanberbagai upaya, agar Negara Islam tidak lagi dipercaya untuk melakukan tanggungjawab kepemimpiannya atas rakyatnya sendiri.

Islam dan Negara Islam, inilah target utama konspirasiNegara-negara penindas. Islam yang menduduki mayoritas penduduk setiap Negaraseperti hidangan lezat di atas meja yang siap santap dengan cara yang tidaklazim. Mereka memiliki tujuan dan keyakinan bahwa dengan menguasai Negara Islamyang memiliki kekayaan berupa ladang minyak tersebar ini maka proses menguasaidunia internasional akan semakin mudah seperti mudahnya kita meludah.

Salah satu usaha pertama dalam usaha penghancuran dasar-dasaragama Islam adalah menghilang kata dan makna jihad.

Salah satu upaya menghilangkan makna “jihad” dalam Islamtercermin dalam kamus Al Munjid. Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dankomperehensif –antara lain karena dihiasi dengan gambar-gambar—dan dijadikankamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia. Bahkanbeberapa pondok pesantren menjadikannya sebagai satu mata pelajaran khusus yangdisebut Mata Pelajaran Fathul Munjid—ini ternyata di susun dua orang pendeta(rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottelal-Yassu’i. Kamus ini dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuahpercetakan Katolik sejak tahun 1908.

Penggunaan Kamus al-Munjid di pesantren ini bukanlah tanpapenentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut merupakan bagian darioperasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam.

Salah satu contohnya, adalah diterangkan Lowis Ma’luf Al-Yasu’itentang kata “jihad” yang diartikan “Perang membela kejayaan agama” (p.106).Sepintas, arti kata ini sudah terlihat rancu, terlepas dari disengaja atautidak, yang jelas ini merupakan salah satu bentuk pengaburan maknaistilah-istilah syar’i dalam Islam.

Adapun upaya pengaburan makna lainnya yaitu pada kata“al-Qur’an” (p.617), ketika pendeta ini menulis kata al-Qur’an, ia tidak pernahmenyertakannya dengan “al-karim” (yang mulia). Namun, ketika menyajikan katayang berhubungan dengan kitab orang Nasrani seperti pada kata “Injil”, iamengkaitkannya dengan kata “al-muqoddas” (yang disucikan).

Sengaja penulis memaparkan fakta tersebut sebagai bukti bahwaorang yang benci terhadap Islam tidak akan pernah puas melakukan segala carauntuk membasmi Islam dari atas bumi ini.

Berangkat dari paparan tersebut, jelas menunjukkan bahwa upaya menghilangkan istilah penting dalam khasanah Islam, termasuk “jihad” akan terus terjadi. Yang terjadi adalah sekarang ini. Jika orang menggunakan istilah/kata itu, maka mereka akan segera mendapat cap sebagai “teroris”.

Padahal, dalam kamus Lisanul ‘Arab karya Ibn Mandhur,menyebutkan, kata “Jihad” berasal dari Jahada–Yajhadu-Al Juhdu Wa Al Jahdu yangmemiliki arti lebih dari 20 makna yang berkisar pada arti “kemampuan”(al-Thoqoh), “kesulitan” (al-Masyaqqoh) , “keluasan” (al-Wus’u), “memerangimusuh/orang-orang kafir” (al-qitaal).

Sedangkan menurut syar’i sebagaimana yang dituturkan di dalamkitab al-Mughniy, karya Ibn Qudaamah, menyatakan, bahwa jihad yang dibahasdalam Kitaab al-Jihaad tidak memiliki makna lain selain yang berhubungan denganpeperangan, atau berperang melawan kaum kafir, baik fardlu kifayah maupunfardlu ain, ataupun dalam bentuk sikap berjaga-jaga kaum Mukmin terhadap musuh,menjaga perbatasan dan celah-celah wilayah Islam.

Dalam Islam, jihad merupakan suatu wujud dari pengorbananseorang hamba kepada sang khaliq. Dengan berkorban harta dan nyawa inilah Islammampu bertahan dari fitnah yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Islam.

Jadi secara defenisi sudah jelas. Perkara dalam prakteknya adakekeliruan, salah tafsir atau disalah-gunakan, itu soal lain. Namun, tak adasatu ulama salaf pun berbeda pendapat atas definisi dan makna tersebut.

Hanya saja, Amerika dan sekutunya nampak takut kekuatan ini.Kebencian Amerika dan sekutunya terhadap jihad dalam Islam tercermin darisetiap bentuk tindakannya terhadap Negara-negara Islam. Tentu saja usahapenghilangan ini ada maksudnya. Jika kata dan makna “jihad” dalam Islam akanterhapus, maka, dengan sendirinya umat Islam kehilangan ruh nya.

Dalam buku “Dasar-Dasar Intelijen” (2006), ZA. Maulanimengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dalam operasi intelijen asingdi Indonesia dalam rangka membangun stigma-stigma negative terhadap Islam.

Semakin meningkatnya operasi intelijen asing di Indonesia makabisa dipastikan akan menjadi semakin banyak pula cap-cap teroris yang akandisematkan pada organisasi-organisasi keislaman yang ada di Indonesia. Hal inisebagaimana diungkapkan oleh John Howaard dari Australia yang menuduh melaluimajalah The Far Eastern Economic Review Hongkong bahwa di Indonesia terdapatratusan gerakan Islam radikal yang berpotensi sebagai organisasi teroris.

Kampanye asing yang ingin menguasai negeri dengan pendudukmuslim terbesar di dunia ini akan mengecap banyak organisiasi keIslamankhususnya di Indonesia sebagai sarang teroris.

Kesimpulan

Dari paparan di atas, penulis melihat bahwa di Indonesia saatini sedang terjadi pemaksaan opini negative terhadap lembaga-lembaga Islam. Halini semakin memperjelas bahwa kampanye pencegahan terorisme sebenarnya tidaklahmurni berdiri sendiri untuk meredam aksi teror. Lebih dari itu yaitu untukmemperkuat stigma negative terhadap kelompok-kelompok Islam.

Mungkin bagi kita yang mengetahui skenario intelijen asing diIndonesia tentu hal ini tidak aneh. Akan tetapi opini yang digiring dengan aksiteror yang dilakukan dengan perencanaan licik seperti ini jika dibiarkan akansemakin mudah untuk meruntuhkan bangunan akidah Islam. Banyaknya masyarakatyang terprovokasi atas aksi tersebut justru akan semakin menambah lebar senyumpara penindas Negara dan agama ini.

Lantas, bagaimana tindakan kita saat ini? penulis tidak bisa mendikte setiap individu untuk berbuat sesuatu. Akan tetapi ada hal yang perlu kita pegang yaitu kembali pada al-Qur’an dan Hadits. Secara mendasar memang kedua sumber tersebutlah yang tidak boleh ditinggalkan, namun untuk mempertahankan keilmuan kita alangkah baiknya kita lebih percaya kepada sesama Muslim yang terbukti kualitas keilmuannya daripada percaya pada orang yang tidak dapat membuktikan apa-apa atas tuduhan yang mereka lakukan pada golongan tertentu. Apalagi jika percaya pada orang fasiq atau media fasiq yang saat ini jumlahnya bertebaran. Yang tidak kalah penting, berhati-hatilah terhadap orang yang teriak “teroris” pada golongan kita sendiri!

Artikel ini telah dimuat di Hidayatullah.com pada 26 Juli 2011

Related Posts

Leave a Comment