Home Article Implementasi Hidden Curriculum dalam Pendidikan Akhlak di Pesantren

Implementasi Hidden Curriculum dalam Pendidikan Akhlak di Pesantren

by Muhammad Ismail
0 comment

Kenapa pesantren mampu bertahan hingga saat ini?, mungkin seakan-akan pertanyaan ini hanya mengada-ada, tetapi tidak menutup kemungkinan para peneliti pendidikan pesantren khususnya, juga memiliki pertanyaan yang sama. Sejak dilancarkannya modernisasi pendidikan Islam dalam dunia muslim, tidak banyak lembaga pendidikan Islam yang mampu untuk bertahan seperti pesantren. Kebanyakan lembaga-lembaga pendidikan mengalami transformasi menjadi lembaga pendidikan umum. (Jalaluddin Rahmat, 2003, p.22)

Orientasi Pendidikan Akhlak di Pesantren

Pesantren telah eksis di tengah masyarakat selama enam abad (mulai abad ke-15) dan sejak awal berdirinya, pesantren telah menawarkan pendidikan kepada mereka yang masih buta huruf. Di samping itu Pesantren juga pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat melek huruf (literacy) dan melek budaya (cultural literacy).

Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berorientasi masa depan tentu memiliki tujuan, kurikulum, visi dan misi dalam usaha membentuk bangsa yang lebih beradab. Adapun tujuan yang dicanangkan oleh pesantren yaitu pendidikan yang sesuai dengan norma-norma agama Islam dan selalu bersifat tafaqquh fi ‘l-dīn.

Perkembangan pesantren -dari pesantren salaf (bandongan dan sorogan) sampai pesantren modern- yang sangat pesat hingga saat ini tidaklah lepas dari adanya sistem pendidikan yang jelas dan kurikulum yang terencana dengan baik. Karena kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam keberhasilan suatu pendidikan, maka perlu adanya perencanaan dalam penerapannya, tanpa adanya kurikulum yang baik dan tepat, akan sulit untuk mencapai semua tujuan dan sasaran pendidikan yang telah dicita-citakan.

Omar Hamalik (1990:56) mengungkapkan perlunya pemikiran-pemikiran yang inovatif dalam aspek kurikulum. Mengingat masyarakat yang selalu berubah, maka kurikulum pun akan selalu berubah. Berdasarkan pemahamannya, kurikulum dapat dipandang sebagai kurikulum tradisional dan kurikulum modern. (Abdullah Idi, 1999, p.4).

Secara tradisional, kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Menurut Nasution (1993:9), kurikulum tradisional seperti ini masih banyak dipakai sampai sekarang. Secara modern, kurikulum mempunyai pengertian tidak hanya sebatas mata pelajaran (course) tapi menyangkut pengalaman-pengalaman diluar sekolah sebagai kegiatan pendidikan juga.

Realita menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia kurang menyentuh nilai-nilai universal manusia dalam rangka mendidik bangsa yang pada dasarnya memiliki mutu tinggi. Lebih dari 63 tahun bangsa Indonesia merdeka, tapi usaha untuk mencerdaskan kehidupan rakyat seolah-olah hanya usaha jalan ditempat.

Di satu pihak, perangkat lunak pendidikan, termasuk sistem pendidikan dan kualitas SDM guru dan pengelola masih tersangkut kebijakan tambal sulam. Dipihak lain, sarana dan prasarana pendidikan masih jauh dari memadai karena anggaran biaya pendidikan sangatlah rendah.

Pendidikan di Indonesia difahami sebagai “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang System Pendidikan Nasional, Pasal 1, No.1).

Hal ini mengakibatkan, tingkat aksesibilitas anak negeri terhadap pendidikan yang bermutu sangatlah rendah. Sementara itu, kualitas pembelajaran secara umum tidak meningkat bahkan kesejahteraan guru pun tidak berlangsung membaik. Tetapi satu hal yang terpenting dari hal itu semua adalah bagaimana cara yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dalam menempuh taraf pendidikan yang lebih memadai untuk meningkatkan dan mengembangkan kurikulum dengan baik dan benar.

Di samping itu, kurikulum tidak hanya meliputi semua kegiatan yang direncanakan saja melainkan juga merupakan tindakan-tindakan yang terjadi tanpa perencanaan terlebih dahulu yang disebut dengan “the hidden curriculum”. (Herbert Spenser, 1820-1950). Kurikulum ini memang tidak terencana tetapi memiliki pengaruh yang besar dalam proses pembentukan pribadi seseorang.

Dalam hal ini lembaga sekolah umum khususnya di Indonesia kurang begitu memperhatikannya, karenakan mereka memaknai pengajaran hanyalah pertemuan tatap muka antara guru dan murid hanya sebatas pembelajaran dikelas saja, dan kegiatan selanjutnya yang berada di luar kelas bukan merupakan tanggung jawab seorang guru lagi. Di sinilah sebenarnya letak kurikulum tersembunyi itu.

Hidden Curriculum dalam Pendidikan Akhlak di Pesantren Modern

Kurikulum tersembunyi (the hidden curriculum) adalah kurikulum yang tersembunyi. (Abdullah Idi, p.10). Hilda Taba mengatakan bahwa “curriculum is a plan for learning”, yaitu aktifitas dan pengalaman anak di sekolah harus direncanakan agar menjadi kurikulum, menurut Nasution (1993:11) kurikulum sebenarnya mencakup pengalaman yang direncanakan tetapi juga yang tidak direncanakan yang disebut dengan “hidden curriculum” seperti, cara anak menjawab, mencontek, sikap terhadap asatidz (guru), disiplin dalam belajar, membina mental diri, dan masih banyak hal lainnya. Dalam hal selanjutnya kurikulum dapat dipandang sebagai “ideal/real” curriculum, “potential/actual”, dan juga disebut hidden curriculum. (S. Nasution, 1991, p.1)

Ada beberapa macam kurikulum dalam pendidikan di antaranya adalah kurikulum formal, informal, dan non formal. Kurikulum formal mencakup kegiatan di kelas dan bersifat terencana, kemudian, kurikulum non formal terdiri atas aktifitas-aktifitas yang juga direncanakan akan tetapi tidak berkaitan langsung dengan pelajaran akademis dikelas, dan keberadaan kurikulum ini dipandang sebagai pelengkap (suplement) kurikulum formal.

Disamping kurikulum-kurikulum tersebut, terdapat juga kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Kurikulum ini antara lain berupa aturan-aturan tak tertulis dikalangan siswa. Seddan (1983) dalam Print (1995:10) menyatakan bahwa:

“….the hidden curriculum refers to the outcomes, which are not explicitly intended by educators. These outcomes are generally not explicitly intended because they are not stated by teachers in their oral or written list of objectifies, nor are they included in educational statement of in intent such as syllabus, school policy documents or curriculum projects….”.

Berdasarkan pandangan di atas dapat diambil gambaran bahwa hidden curriculum tidak direncanakan oleh sekolah dalam menjalankan berbagai programnya serta tidak ditulis dan dibicarakan oleh para pendidik (teacher). Kurikulum ini murni usaha anak didik (santri/murid) dalam mengembangkan potensi dalam dirinya baik yang mampu berkonotasi dengan positif maupun negative. Dalam hal ini murid berperan sebagai  perencana dan pelaku yang berhak akan masa depan yang dia inginkan, dengan kata lain murid sebagai penentu keberhasilan dalam hidupnya.

Hidden curriculum dapat didefinisikan sebagai kurikulum yang berorientasi pada pembentukan masa depan. Sebab bila dikaitkan dengan kurikulum pendidikan Islam terdapat kesamaan dalam segi tujuannya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah Idi yang mengatakan bahwa kurikulum pendidikan akhlak merupakan rencana kegiatan dan bukanlah sebuah aktivitas. Jadi segala yang dialami oleh anak didik sebagaimana adanya tanpa perencanaan terlebih dahulu dan dapat berpengaruh terhadapnya merupakan suatu bentuk kurikulum.

Kurikulum pendidikan Islam mengandung makna sebagai suatu rangkaian program yang mengrahkan kegiatan belajar mengajar yang terencana dengan sistematis dan berarah tujuan, dalam definisi luas, maka kurikulum pendidikan akhlak berisikan materi yang untuk pendidikan seumur hidup.

Dalam konteks penerapan kurikulum ini, ada satu lembaga pendidikan yang secara tidak langsung telah menerapkan kurikulum tersebut sejak awal berdirinya hingga saat ini dalam lembaga pendidikan Islam yaitu Pesantren. Sebagai satu-satunya lembaga pendidikan Islam tulen/asli yang dimilik bangsa Indonesia yang selalu mengedepankan pendidikan agama hingga saat ini masih mampu bertahan ditengah-tengah arus globalisasi dan modernisasi pendidikan. Dalam dunia pesantren terdapat manhaj yang lebih memprioritaskan terbentuknya para ulama-ulama masa depan.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More