Home Article Pandangan Islam Atas Tren Ateisme di Barat

Pandangan Islam Atas Tren Ateisme di Barat

by Muhammad Ismail
1 comment

Tuhan telah mati, itulah ungkapan sakral bagi mereka yang meninggalkan Tuhan. Ungkapan tersebut bukanlah slogan tanpa makna. Akan tetapi, itu merupakan ekspresi pikiran Nietzsche atas budaya ateisme di Barat. Artinya, Nietzsche merasa bahwa manusia di Barat mulai terbiasa menafikan keberadaan Tuhan. Bahkan, lebih dari itu, mereka telah berani menghujat esensi Tuhan. Fenomena tersebut memang telah terjadi sejak lama. Pada abad kegelapan (the dark age), masyarakat Eropa merasa dipenjara oleh doktrin-doktrin gereja selama ratusan tahun.

Kasus Copernicus (1473-1543) dan Galileo (1564-1642) yang telah dihukum karena berani berpendapat dengan teori heliosentrisnya telah membuat pihak gereja geram. Pasalnya, mereka berlawanan dengan doktrin gereja. Sejak kasus seperti itulah masyarakat Eropa mulai tidak percaya dengan institusi gereja. Sebagai wujud ekspresinya, mereka pun mendeklarasikan bahwa agama adalah musuh yang harus dibumihanguskan. Termasuk juga dengan Tuhan. Saat itulah mereka menyebut masa itu dengan abad pencerahan (renaissance). Sejak itu paham “anti Tuhan” atau ateis mulai disebarluaskan.

Melihat fakta tersebut, penulis merasa akan pentingnya menelusuri jejak-jejak ateisme di Barat. Tulisan ini akan membahas bagaimana sejarah ateisme serta pandangan Islam terhadap tren ateisme di Barat.

Sejarah Ateisme di Barat

Salah satu krisis yang dihadapi oleh masyarakat Barat adalah krisis teologi. Hal ini dapat diketahui melalui persentase orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan yang semakin meningkat menjadi 15% sejak tahun 1990.  S ementara di Inggris, meningkat menjadi 22% pada tahun 2004. Sebagian orang Barat memandang Tuhan bukan sebagai hal yang menyejukkan. Sebagaimana ungkapan  Charles Kimballs, “Kata agama telah menampilkan gambaran perilaku destruktif atau bahkan menjengkelkan”. Dan sebagai dampak dari hal tersebut ialah ateis atau tak berTuhan. Dan ateisme inilah yang menjadi tren di Barat saat ini.

Doktrin utama pengikut ateisme ialah tidak mempercayai akan keberadaan Tuhan. Bukan hanya wujud Tuhan. Lebih dari itu, kekuasaan bahkan sifat-sifatnya juga tidak lagi dipercaya. Hal yang demikian dapat ditelusuri melalui argumen-argumen pengikutnya seperti Sigmund Freud, August Comte yang menegaskan bahwa Tuhan adalah hasil imajinasi manusia yang tidak bisa menghadapi alam”. Senada dengan mereka, Karl Marx mengatakan, “semua kejadian yang ada di alam semesta ini berjalan dengan sendirinya dan tidak perlu melibatkan Tuhan”.

John Lenon pun ikut berpartisipasi dengan argumennnya yaitu “there is no religion”. Semua pendapat tersebut tidak lain hanya wujud keputusasaan mereka karena tidak bisa memikirkan eksistensi Tuhan. Karena merasa tidak mampu memikirkan keberadaan Tuhan, mereka (pengikut paham ateis) merasa perlu untuk menalar Tuhan. Kebingungan ini pun telah menjadi obsesi filsafat yang ingin menggapai Tuhan melalui pikiran. Dalam kajian filsafat, wacana mengenai perlunya menalar eksistensi Tuhan pun mulai menggema. Khususnya ketika meletakkan Tuhan berada di luar batas-batas wacana rasional. Sebagai akibat kajian tersebut (ateisme) ialah munculnya paham komunisme.

Diskusi mengenai Tuhan telah menghasilkan gambaran-gambaran tentang Tuhan yang bermacam-macam. Pada awalnya, Tuhan digambarkan secara manusiawi dengan harapan bisa dijangkau oleh orang awam. Berbeda dengan hal tersebut, para filosof menggambarkan wujud Tuhan yang berbeda dengan gambaran orang awam. Asumsi tersebut muncul sejak Darwin mengumumkan teori evolusinya. Sejak itu pula posisi Tuhan sebagai pencipta alam semesta dengan segala isinya menjadi absurd.

Teori evolusi berhasil menghantam jantung teologi dengan mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta tumbuh dan berkembang secara evolutif dari hal-hal yang sangat sederhana dengan cara acak dan serba kebetulan. Dan yang berhak untuk hidup hanyalah mereka yang lolos dari seleksi alam. Alam semesta digambarkan oleh Darwin sebagai arena persaingan yang tidak bertuan dan tidak bertujuan. Dunia hanya milik siapa yang kuat. Teori evolusi Darwin telah memberikan suntikan spirit atau justifikasi bagi paham ateisme. Yaitu kehidupan bukanlah ciptaan Tuhan, melainkan berjalan dengan sendirinya.

Seiring dengan perkembangan paham anti Tuhan (ateis), otoritas gereja di Barat pun mulai runtuh. Akibatnya, bangsa Eropa terbagi menjadi dua aliran.Aliran tersebut sangat kritis dalam menyikapi agama sebagai dogma. Pertama, aliran Deisme, di mana aliran tersebut masih mempercayai adanya Tuhan tapi tidak percaya akan ayat-ayat Tuhan. Artinya, aliran pertama ini masih bimbang dalam menafsirkan wujud Tuhan. Adapun aliran kedua adalah ateisme atau materialisme.

Francis Fukuyama dengan teorinya The End of History, mengasumsikan tentang sejarah. Menurutnya, sejarah yang memiliki ciri-ciri manusia yang berkembang dalam berbagai lini kehidupan, suatu saat nanti akan berhenti. Sejarah akan berhenti pada prototype liberal Barat dan seluruh dunia harus mengikuti nilai-nilai di dalamnya. Saat itu, lanjut Fukuyama, peradaban Barat bisa mencapai kesuksesan dan kemajuan material seperti sekarang karena menggunakan paham liberal dan demokrasi Barat. Dan itulah tujuan akhir yang dapat dicapai manusia.

Paham anti Tuhan ini ternyata tidak berhenti hanya di bumi belahan Barat. Islam, sebagai agama yang meyakini Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa juga tidak luput dari tuduhan. Tuduhan tersebut ialah ateisme dalam Islam. Abdurrahman  Badawi menerangkan bahwa ateis dalam Islam ialah zindiq. Nafas ateisme dalam Islam dihembuskan melalui terminology ilhad. Akan tetapi, terminologi tersebut tentu sangat tidak tepat apabila diartikan dengan ateis. Sebab, arti kata tersebut mengacu pada penyimpangan atau pengingkaran terhadap agama di satu sisi, sedangkan ateis sendiri dalam pengertiannya yang paling dasar adalah tidak mengakui Tuhan di sisi lain.

Melihat doktrin ateis yang semakin meluas, John F. Haught mencoba menampilkan Tuhan dalam wajah baru yang lebih bisa diterima oleh bangsa modern. Berbeda dengan doktrin sebelumnya, Haught menyatakan bahwa Tuhan tidak mati. Dia masih dan sedang berkarya dalam alam semesta. Untuk memahami Tuhan, kata Haught, diperlukan pengalaman religious. Sebab, dengannya akan mampu memunculkan rasa percaya yang ada dalam dirinya.

Selain ateisme, paham yang semisal dengannya adalah agnostic. Agnostic adalah orang yang berpikir bahwa tidak mungkin mengetahui kebenaran dalam masalah-masalah seperti Tuhan dan kehidupan akhirat. Sama halnya dengan  deisme (faith without Religion) yang beriman pada Tuhan tetapi tidak merasa perlu untuk beragama tertentu, mereka yang beraliran deisme ini berpandangan bahwa agama-agama formal (organized religions) semisal Yahudi, Nashrani, dan Islam adalah sebagai agama yang tidak memiliki masa depan. Yang bertahan bagi mereka adalah pesan-pesannya yang universal, namun ritus-ritus formal dan label-label yang membungkusnya akan semakin ditinggalkan orang, tokoh terkemuka darialiran ini adalah Thomas Jefferson dan Albert Einstein. Bagi mereka agama-agama formal mempersempit universalitas ajaran Tuhan.

Pada hakekatnya, paham ateis ini muncul ketika manusia bungkam dalam menghadapi persoalan kemanusiaan di Barat. Parahnya, sebagian besar menjadikan agama sebagai alat justifikasi untuk melakukan kekerasan. Dan sebagai bentuk protes, para pemikir Barat memaksa gereja untuk menerangkan bagaimana bentuk Tuhan yang mereka (agamawan) sembah di gereja. Karena tidak menemukan solusi, kaum ateis lebih bangga menyembah elektronik dan benda lainnya dari pada Tuhan.

Pandangan Islam atas Ateisme di Barat

Salah satu tuntunan yang diajarkan oleh Allah SWT kepada umat_Nya ialah berpikir. Maksudnya ialah berpikir dalam koridor keIslaman.Tentunya, aktifitas berpikir seperti ini membutuhkan keyakinan dan ketenteraman. Sebab, dengan kedua hal itulah manusia akan mampu memahami segala yang Allah SWT anugerahkan. Termasuk anugrah yang berbentuk akal. Dengan akal inilah manusia mampu memahami ayat-ayat Allah yang tersurat dan tersirat. Tidak menutup kemungkinan ayat-ayat atau tanda-tanda keTuhanan Allah SWT.Dengan harapan, umat Islam tidak mengingkari atas wujud Allah SWT.

Fathullah Gullen dalam bukunya Islam Rahmatan lil Alamin mengatakan bahwa ateisme berarti pengingkaran. Sedangkan penyebarannya bergantung pada ketidakberadaan kehidupan hati. Artinya, paham ateis atau ingkar atas keberadaan Tuhan akan lebih mudah masuk ke pemikiran seseorang ketika ia tidak menghidupi hatinya. Adapun cara untuk menghidupi hati tersebut ialah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, lawan kata dari ateis ialah percaya akan keberadaan Tuhan (Allah SWT) atau iman.

Dalam Islam, berpikir harus tetap dalam koridor keimanan. Artinya, berpikir dengan menanggalkan keimanan berarti ia telah melepaskan imannya. Sama halnya ia sedang tidak beriman. Untuk itu, ketika manusia berpikir atau mencari ilmu Allah SWT hendaknya mampu menambah keimanannya pula. Sebab dengan keimanan itulah manusia mampu mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Itulah salah satu hakekat diciptakannya akal untuk berpikir. Dalam makna lain, hasil berpikir seharusnya tidak menafikan keberadaan Allah SWT sebagai pencipta akal itu sendiri.

Mutawalli Asy-Sya’rawi mengatakan bahwa pada dasarnya akal mampu mencapai kebenaran. Dengan akal, manusia dapat menangkap pengertian dan menyadari adanya Sang Pencipta, yang menjadikan tidak ada menjadi ada, akan tetapi akal tidak dapat memahami kehendak sang Pencipta, bagaimana cara beribadah kepada-Nya, serta apa yang disediakan untuk manusia sebagai balasan terhadap amalannya yang berupa pahala dan ganjaran bagi yang menaati perintah dan larangan-Nya, dan siksaan bagi yang menentang-Nya.

Islam berbeda dengan ateisme. Penganut ateis percaya akan ketiadaan Tuhan. Mereka percaya bahwa alam ada dengan sendirinya dan mampu mengatur dirinya sendiri. Sama halnya dengan manusia. Manusia (bagi ateis) mampu menentukan arah hidupnya sendiri. Manusia tidak perlu bantuan siapa pun. Termasuk bantuan Tuhan. Paham seperti ini tentu tidak selaras dengan Islam. Islam percaya  akan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan yang Maha Esa. Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Dan hanya kepada Allah SWT sajalah seluruh makhluk akan kembali.

Maka, percaya akan wujud Allah SWT adalah sarat utama menjadi seorang muslim. Allah SWT, tidak serupa dengan makhluk_Nya. Selain itu, menyekutukan Allah SWT berarti telah berbuat dosa besar. Dosa besar (dalam Islam) tidak akan pernah diampuni. Dan bagi pelaku dosa besar tersebut adalah neraka.Inilah prinsip utama dalam berIslam.

Penutup

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa paham anti Tuhan atau yang lebih akrab disebut dengan ateisme memiliki cacat sejarah. Cacat di sini bukan berarti cacat secara fisik. Tapi, cacat akan nilai-nilai keTuhanan. Permasalahan utama penganut paham ini adalah pemahanan akan makna Tuhan. Bagi pengikut ateis, Tuhan itu tidak ada. Alam semesta mampu berjalan dan mengatur dirinya sendiri. Bahkan alam sudah tahu ke mana ia akan menuju.

Sama halnya dengan manusia. Manusia diyakini mampu menentukan nasibnya sendiri. Manusia tidak butuh Tuhan. Ateisme muncul dari kegelisahan manusia yang tidak lagi peduli dengan agama. Agama dianggap sebagai pengganggu pola pikir. Untuk itu, agama dan Tuhan harus disingkirkan dari kehidupan manusia. Itulah doktrin ateisme yang cacat sejarah.

Berbeda dengan Islam. Islam (dari awal) telah meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Maha Esa dan Maha Pencipta. Keyakinan ini merupakan sarat utama bagi siapa saja yang beriman terhadap al-Qur’an dan al-Hadits. Sebab, dengan kedua sumber agama itulah manusia akan mampu memahami al-Haqq (kebenaran) yang melekat pada Dzat Allah SWT.

Dan keyakinan akan keesaan Allah SWT itu pun akan mampu menuntun manusia ke arah yang lebih baik. Oleh sebab itu, Allah SWT tidak layak untuk disandingkan dengan makhluk apapun. Terlebih menggantikan perannya dengan makhluk lain. Lebih parah lagi, tidak mengakui akan esensi keTuhanan_Nya.Untuk itu, Islam sangat menentang paham ateis yang mencoba menghilangkan Tuhan dari diri Manusia.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More