Home Opinion Metode Pendidikan Anak Perspektif Fiqih Parenting

Metode Pendidikan Anak Perspektif Fiqih Parenting

by Muhammad Ismail
2 comments

Kajian tentang fiqih sangatlah luas. Sebab Fiqih merupakan aktifitas penalaran manusia dalam memahami Shari’ah, dan sangat dipengaruhi oleh faktor internal individu, kondisi eksternal sosial, geografis, kultural, politis yang mengitarinya. Munculnya aneka ragam pendapat dalam fiqih merupakan suatu keniscayaan. Karena itu kajian tentang fiqih sangat multi-interpretatif.

Terma parenting yang disebut dalam judul di atas merupakan cakupan dari fiqih pendidikan. Menurut Cik Hasan Bisri, fiqih pendidikan itu meliputi beragam produk pemikiran ulama (keunikan, persamaan, perbedaan, hubungan) terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya dan tuntutan kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia, yang berkenaan dengan pengembangan potensi dan pembinaan dalam lingkungan domestik dan publik, antara lain menyangkut pemeliharaan dan pengasuhan anak, etika pergaulan di masyarakat, sosialisasi ajaran Islam dalam keluarga, serta pengembangan potensi individu dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Istilah parenting memang berasal dari bahasa Inggris dan sering digunakan dalam disiplin ilmu psikologi dalam pengertian pengasuhan, perawatan, dan pendidikan anak dari masa infansi sampai dewasa, sebagaimana berikut:

“Parenting is the process of promoting and supporting the physical, emotional, social, and intellectual development of a child from infancy to adulthood. Parenting refers to the activity of raising a child rather than the biological relationship.

Wikipedia

Intinya, parenting adalah segala sesuatu yang menyangkut tugas mendidik dan membesarkan anak. Pengasuhan ini merupakan hak anak yang secara tegas dilindungi oleh agama. Namun, sejauh ini pembahasan fiqih parenting dalam sudut pandang Islam sebagaimana tulisan Asti, sekedar memaparkan beberapa hal, antara lain kewajiban orang tua meng-adzani dan meng-iqamahi anak, mencukur rambut, memberi nama yang baik, aqiqah, khitan, tahnik, hingga masa penyusuan saja.

Padahal jika merujuk pada definisi parenting seperti kutipan di atas, sebenarnya kajian ini dapat dikembangkan dan diperluas, misalnya tidak hanya terbatas pada masa penyusuan anak semata, tetapi pengasuhan dan perlindungan anak sampai dewasa. Secara eksplisit hal ini ditegaskan pula dalam Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 pasal (1) yang berbunyi bahwa anak adalah seseorang yang belum genap berusia 18 tahun, bahkan termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sementara dalam kajian fiqih, anak dianggap mencapai dewasa itu ditandai dengan munculnya haid pada anak perempuan, dan mimpi basah pada anak laki-laki.

Di Negara Indonesia, setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi Hak Anak. Ada empat prinsip utama dalam Konvensi Hak Anak (KHA) tersebut: 1) Non-diskriminasi, 2) Prinsip yang terbaik bagi anak, 3) Hak untuk hidup dan berkembang, serta 4) Hak untuk ikut berpartisipasi. Yang dimaksud dengan prinsip non-diskriminasi artinya tidak membedakan anak berdasarkan asal-usul, suku, agama, ras dan sosial ekonomi.

Sedangkan yang dimaksud dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif, dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama. Sedangkan hak untuk hidup dan berkembang memiliki pengertian bahwa anak harus dijamin untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan usia, minat dan bakatnya. Hak untuk berpartisipasi dipahami bahwa anak memiliki hak untuk ikut serta berpartisipasi tanpa membeda-bedakan latar belakang anak.

Sejatinya, anak perlu mendapatkan perlakuan khusus agar dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik fisik, mental dan rohani.  Namun kenyataannya, anak-anak masih terus tereksploitasi, baik secara ekonomi menjadi pekerja anak (child labour), anak jalanan (street children) atau pun eksploitasi seks sebagai pekerja seks anak (prostituted children), perdagangan anak (child trafficking), penculikan anak, perlakuan kekerasan (violation) dan penyiksaan (turtore) terhadap anak. Sehingga masalah seputar kehidupan anak telah menjadi perhatian seluruh masyarakat internasional.

Memperkuat pernyataan di atas, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan hakekat hak dasar anak adalah hak agama, hak mendapatkan kesehatan yang layak, memperoleh pendidikan dan sosial. Dan yang tak kalah penting adalah terlindungi dari kekerasan, eksploitasi dan dan diskriminasi.

Tetapi menurutnya, kekerasan anak masih mendominasi kasus-kasus yang terkait dengan perlindungan anak Indonesia dalam rentang tahun 2010, 171 kasus pengaduan yang masuk KPAI sebanyak 67,8% terkait dengan kasus kekerasan, dan 17% terkait dengan kasus anak bermasalah dengan hukum. Sisanya terkait kasus anak dalam situasi darurat, kasus eksploitasi, kasus traficking, dan kasus diskriminasi. Dari data tersebut, tambahnya, jenis kekerasan yang paling banyak terjadi kepada anak adalah kekerasan seksual sebanyak 45,7% (53 kasus), kekerasan fisik sebanyak 25% (29 kasus), penelantaran sebanyak 20,7% (24 kasus), dan kekerasan psikis 8,6% (10 kasus). Data tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memberikan perlindungan anak.

Setiap individu menyetujui peranan anak (role of the child) adalah harapan masa depan. Sesuai amanat ketentuan Perundang-undangan Indonesia, yang bertanggungjawab dan memiliki kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada anak adalah Negara, Pemerintah, Masyarakat serta Orang tua dan Keluarga. Untuk itu, perlu adanya strategi atau metode yang tepat dalam mendidik anak untuk menjadi lebih baik. Berikut akan dipaparkan metode pendidikan islam sebagai upaya tepat dalam membentuk akhlak anak.

Metode Mendidik Anak Perspektif Islam

Dalam kitab Tarbiyatul Aulad fii al-Islam, Abdullah Nasih Ulwan menegaskan bahwa dalam mendidik anak hendaknya menggunakan metode seperti mendidik dengan keteladanan, mendidik dengan pembiasaan, mendidik dengan memberikan nasehat, mendidik dengan memberikan perhatian serta mendidik dengan hukuman.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut :

Mendidik Dengan Keteladanan

Mendidik dengan keteladanan merupakan metode pendidikan yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak dalam hal penanaman moral, spiritual dan sosial. Untuk membentuk akhlak anak atau kepribadiannya sosok orang tua adalah contoh yang paling tepat untuk seorang anak. Hal tersebut menjadi faktor utama dalam pembentukan karakter anak. Apabila seorang pendidik itu jujur, dapat dipercaya, mulia akhlaknya, serta lembut dalam bertutur kata, maka bukan suatu hal yang tidak mungkin anak juga akan berkembang dengan sifat-sifat tersebut.

Anak lahir ke dunia dalam keadaan suci untuk itulah syariat islam menganjurkan kepada orang tua untuk mengarahkan anaknya kepada ketauhidan, ajaran agama yang lurus serta iman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Mendidik melalui pembiasaan terbukti sangat efektif dalam upaya menanamkan nilai-nilai islam ke dalam diri anak.

Sebagaimana firman Allah SWT :

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(QS. at-Tahrim : 6)

Meskipun anak dilahirkan dalam keadaan suci hal ini belum menjaminnya untuk dapat memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan inti dari pendidikan moral. Dalam hal keteladanan, sudah sepatutnya umat islam menjadikan sosok nabi Muhammad SAW sebagai teladan yang harus dicontoh. Untuk itulah peran orang tua sangat penting dalam menerapkan akhlak terpuji sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ke dalam diri anak sejak dini.

Mendidik Dengan Pembiasaan

Peran pembiasaan dalam mendidik anak ketika masa pertumbuhan ialah untuk menemukan tauhid yang murni, keutamaan budi pekerti, spiritual dan etika agama yang lurus. Anak yang hidup di lingkungan yang baik akan mudah terpengaruh oleh perilaku masyarakat yang baik. Jadi dua faktor yang berperan aktif dalam upaya pembiasaan ini yaitu faktor pendidikan agama islam dan faktor lingkungan.

Adapun dalil yang hendaknya dijadikan landasan untuk membiasakan anak supaya menjadi anak yang beradab ialah :

“Seseorang yang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah dengan satu sha’.”

(H.R. Tirmidzi)

Makna dari hadits tersebut ialah perintah untuk menanamkan kebaikan kepada anak. Teman memiliki pengaruh terhadap tumbuh kembang anak, untuk itu orang tua harus mengarahkan atau memilihkan teman bermainnya dengan harapan pergaulan mereka tidak membawa dampat negatif bagi anak.

Mendidik Dengan Nasehat

Dengan nasehat dapat membukakan mata anak-anak yang akan mendorongnya untuk bersikap luhur. Metode nasehat sebenarnya merupakan metode yang digunakan Allah SWT dalam al-Qur’an. Melalui al-Qur’an Allah SWT menasehati makhluknya untuk berperilaku sesuai dengan syariat islam.

Sebagaimana yang tertulis dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 13-17 yang intinya adalah nasehat Luqman terhadap anaknya supaya tidak menyekutukan Allah SWT karena menyekutukan_Nya merupakan kedzaliman yang besar. Dengan metode pengajaran melalui nasehat inilah anak akan merasakan kasih sayang dari orang tuanya, dengan syarat nasehat tersebut disampaikan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Mendidik Dengan Memberikan Perhatian

 Masa anak-anak adalah masa yang mana mereka masih memerlukan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua. Ketika anak melakukan tindakan yang tercelah sudah barang tentu menjadi tanggungjawab orang tua. Perhatian bukan hanya bersifat controlling saja. Akan tetapi lebih daripada itu dengan mencurahkan perhatian serta kasih sayang kepada anak.

Nasikh Ulwan membagi “perhatian” disini menjadi perhatian dalam pendidikan sosial, perhatian dalam hal halal dan haram, perhatian dalam mendidik anak kecil, perhatian dalam pendidikan moral, pendidikan spiritual, pendidikan jasmani, perhatian pada keimanan dan kecerdasan.

Mendidik Dengan Memberi Hukuman

Hukum-hukum syariat Islam memiliki prinsip yang universal untuk menjaga akidah serta akhlak manusia. Dalam mendidik anak, hukuman tidak harus bersifat fisik. Justru apabila hukuman fisik lebih diutamakan maka akan berdampak negatif terhadap perkembangan mental anak. Hukuman yang bersifat membangun tentu lebih bermanfaat bagi anak. Pastinya sesuatu yang positif dan dapat menjadikan anak tersebut paham bahwa perilaku yang dilakukannya itu adalah tidak benar.

Dalam hadits Rasulullah SAW dikatakan :

“Suruhlah anak-anak kalian mengerjakan shalat sejak mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika melalaikannya ketika mereka berusia sepuluh tahun dan pisahkan mereka dari tempat tidurnya”.

(HR. Abu Dawud)

Hukuman yang bersifat pukulan ialah cara yang dianjurkan oleh agama Islam. Akan tetapi ini adalah metode yang paling akhir setelah memberikan nasehat, contoh dan ketegasan. Dengan catatan, hukuman pukulan tidak boleh dilakukan apabila cara yang lebih ringan sudah bisa mengatasi masalah tersebut.

Memberikan hukuman kepada anak-anak tetap harus dilakukan dengan cara yang mendidik, senakal apapun mereka. Kenakalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masa tumbuh kembang anak, terutama di masa 7 tahun pertamanya. Banyak orang tua yang merespon kenakalan anak dengan mengekspresikan kemarahan yang tidak seharusnya dilakukan, memberikan hukuman fisik, bahkan tidak sedikit yang melakukan kekerasan fisik. Padahal, bentuk hukuman seperti itu bisa mengganggu perkembangan emosi anak, hingga tidak jarang perilaku nakalnya semakin menjadi atau “semakin liar” dan bukan menjadi penurut.

Wallahu a’lam bi al-shawab

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More