Home Writing Tips Mengikat Makna dari ‘Mengikat Makna Update’

Mengikat Makna dari ‘Mengikat Makna Update’

by Muhammad Ismail
1 comment

Untuk memenuhi keinginanku membaca buku, tanpa berpikir panjang lebar aku pun langsung mengambil salah satu buku yang covernya berwarna biru mencolok. Kebetulan sekali buku tersebut baru saya beli hasil nitip ke salah satu teman saya di Jogja. Tepat dua hari setelah penantian akhirnya buku tersebut bisa sampai ke tangan.

Sebenarnya judul buku tersebut sudah sangat familiar di kalangan penulis. Salah satu alasannya adalah buku tersebut sudah dicetak pada tahun 2009. Akan tetapi, berhubung saya baru tahu akan keberadaan buku tersebut, saya pun langsung terpikat. Keterpikatan saya terhadap buku itu bukan tanpa alasan. Saya berminat membelinya karena saya sudah bertemu langsung dengan penulisnya.

Hernowo Hasim, itulah nama penulis buku tersebut. Adapun judul buku yang saya maksud adalah “Mengikat Makna Update”. Ada tambahan kata “update” karena Bapak Hernowo telah menerbitkan buku itu sebelumnya pada tahun 2001 lalu. Saat itu judulnya hanya “Mengikat Makna” tanpa tambahan “Update”. Akan tetapi, perbedaan antara keduanya tidak terlalu jauh. Ada suplemen-suplemen tambahan yang sengaja diberikan oleh Bapak Hernowo dalam buku versi updatenya ini dengan harapan pembaca benar-benar mampu mengenali potensinya sebagai penulis. Tanpa peduli apapun latar belakang dia, ia wajib bisa menulis.

Setelah berkenalan dengan buku tersebut rasanya sangat sayang jika saya melewatkan satu lembar saja. Untuk itulah saya sengaja ingin menikmati proses mengikat makna melalui buku tersebut selembar demi selembar. Baca punya baca akhirnya saya mendapatkan informasi yang harus saya ikat dengan segera supaya saya dapat merasakan apa saja yang telah saya dapatkan setelah membaca pendahuluan buku Mengikat Makna Update tadi.

Dalam bukunya Bapak Hernowo menjelaskan proses pembuatan buku tersebut. Dengan gaya bahasa penyampaian yang khas, Bapak Hernowo menceritakan dengan serius bahwa pembuatan buku tersebut telah melalui proses yang sangat panjang. Termasuk proses berpikir akan adanya tipe pembuatan buku.

Secara garis besar, pembuatan buku bisa dilakukan dengan cara: Pertama, Berasal dari kumpulan tulisan, Kedua, menggunakan sistem bab dan sub bab, dan Ketiga, menulis secara bercerita.

Secara umum ketiga model itulah yang seringkali dilakukan oleh para penulis. Baik penulis profesional maupun penulis buku pemula pasti tidak jauh dari ketiga sistem pembuatan buku tersebut.

Dalam hal ini, Buku “Mengikat Makna Update” merupakan buku yang disusun dengan sistem bercerita. Memang inilah ciri khas tulisan-tulisan Bapak Hernowo. Beliau banyak menceritakan tentang proses mengikat makna yang terjadi dalam dirinya akan tetapi cerita tersebut bisa dinikmati oleh orang lain. Sebab, beliau memiliki banyak kosa kata yang diolah secara profesional sehingga mampu membentuk kalimat-kalimat yang mengandung makna.

Sebagaimana buku-buku lainnya, melalui buku “Mengikat Makna Update” ini penulis ingin menyampaikan pesan-pesannya bahwa menulis itu memerlukan membaca dan membaca sangat memerlukan menulis. Inilah sebenarnya proses mengikat makna.

“Anda tidak akan pernah bisa menulis secara bagus jika tidak pernah membaca. Begitu pula sebaliknya, bacaan anda tidak akan pernah menghasilkan makna berkualitas yang bisa diingat dan dicerna apabila anda tidak menuliskannya”.

Mungkin pesan itulah yang ingin disampaikan Bapak Hernowo melalui bukunya ini. Mengikat makna merupakan kegiatan personal yang terjadi di dalam ruang privat yaitu dalam diri pembaca sendiri. Proses mengikat makna ini sangat bagus digunakan untuk melatih kreatifitas menulis. Sebab pada dasarnya menulis adalah upaya melatih kekreatifan. Dalam segi ini pembaca diuntungkan.

Pada proses mengikat makna ia tidak dipengaruhi oleh orang lain yang bisa saja mengacaukan makna yang akan atau sedang ia ikat. Untuk itu perlu adanya keinginan dan kejujuran yang tinggi akan upaya mengikat makna yang harus dilakukan secara personal.

Supaya aktifitas mengikat makna bisa berbuah matang dan siap dipetik, perlu ada yang namanya kontinuitas dan konsistensi. Yang dimaksud dengan kontinuitas yaitu melakukan aktifitas (membaca dan menuliskan apa yang dibaca) secara terus menerus. Tidak ada alasan apapun untuk berhenti mengikat makna. Sekecil apapun hal yang didapati dari membaca harus segera ditulis sesegera mungkin.

Sebab dengan melakukannya terus menerus inilah kemampuan akan terasah dan akan memunculkan ide-ide orisinil yang baru. Tapi, kontinuitas saja belum cukup. Perlu juga yang namanya konsistensi. Dalam bahasa islamnya “istiqamah”, yaitu tiada hari tanpa melakukan aktifitas membaca kemudian mengikatnya dengan sebuah susunan kata-kata yaitu tulisan.

Jadi intinya, ada empat pondasi penting yang wajib diingat oleh calon penulis yaitu:

  1. Memadukanmembaca dan menulis
  2. Melibatkan diri pribadi yang paling dalam
  3. Memerlukan kontinuitas dan konsistensi

Ada tips tambahan yang ingin saya bagikan kepada anda yang membaca artikel ini sampai paragraf akhir. Pesan pribadinya yaitu:

“Menulislah dengan menggunakan kata ganti pertama, “aku” atau “saya”. Gunakan kata ganti pertama ini untuk memanggil bahan/informasi yang ada dalam pikiran. Ini berguna untuk mengevaluasi diri. Dengan menggunakan kata ganti pertama maka anda akan tahu sejauh mana kualitas informasi yang anda miliki sebenarnya”.

Tanpa terasa saya sudah mengikat makna dari buku yang saya baca hari ni, “Mengikat Makna Update”  karya Hernowo Hasim (meskipun belum selesai membaca). Melalui artikel ini saya ingin mengikrarkan diri saya untuk selalu mempraktekkan Mengikat Makna dengan harapan segala informasi yang saya dapat bisa saya daur ulang menjadi karya pribadi yang spektakuler. Aamin.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More