Home Artikel Memahami Hakekat Pendidikan Karakter Dalam Islam (part.1)

Memahami Hakekat Pendidikan Karakter Dalam Islam (part.1)

by Muhammad Ismail
Hakekat Pendidikan Karakter

Karakter merupakan fokus utama dalam dunia pendidikan. Pendidikan di Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang mengakibatkan kemunduran moral masyarakat. Tantangan tersebut datang dari dalam (internal) dan juga dari luar (eksternal). Tantangan yang datang dari dalam (internal) seperti kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan, makna pendidikan, bahkan hakekat dari pendidikan itu sendiri.

Minimnya pemahaman tersebut tentu berdampak negatif terhadap proses pendidikan itu sendiri. Ketika masyarakat tidak memahami arti pentingnya pendidikan maka mereka pun tidak akan tahu akan tujuan pendidikan itu sebenarnya. Permasalahan seperti ini disebut juga dengan problem keilmuan. Untuk itu perlu adanya kesadaran diri terhadap arti penting serta tujuan dari pendidikan.

Namun, kesadaran diri saja belum cukup untuk menjadi orang yang mulia. Sebab, tantangan di dunia pendidikan juga datang dari luar (eksternal). Misalnya banyaknya konsep-konsep, ide-ide dan paham-paham asing yang merubah esensi dari semua konsep dasar Islam. Problem ini merupakan dampak dari minimnya pemahaman umat Islam terhadap konsep-konsep Islam. Sebagai akibatnya, ideologi (paham) yang datang dari pandangan Barat atau Orientalis dianggap sebagai bentuk pembaharuan pemikiran.

Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan Akhlak Usia Dini

Istilah “Pendidikan Karakter” merupakan kalimat yang terdiri daridua istilah yang berbeda yaitu Pendidikandan Karakter. Dua istilah tersebut memiliki makna masing-masing. Danketika digabungkan menjadi satu kalimat baru maka kalimat tersebut memilikimakna yang baru pula. Dalam diskursus pendidikan, wacana karakter memang sedangmenjadi pembicaraan yang hangat. Sebab, karakter dianggap sebagai solusi untukmemecahkan berbagai macam persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesiasaat ini.

Kata “pendidikan” dalam bahasa Arab berarti Tarbiyah. MenurutSuwaid, istilah Tarbiyah merupakan bentuk derivasi dari kata rabaa-yarbuuyang artinya bertambah dan berkembang, rabaa-yarbii yang berarti tumbuhdan mekar, dan juga rabba-yarubbu atau memperbaiki dan mengurus suatuperkara. Sedangkan menurut Miqdad Yaljan, istilah Tarbiyah berarti bertambah,memberi makan, memelihara, menjaga dan tumbuh. Istilah ini juga memiliki maknalain yaitu berkembang, meninggikan dan menangkat posisi atau derajat seseorang. (Ahmad Taufiq, 2011 : 218).

Ar-Raghib Al-Asfahani mengatakan bahwa kata Tarbiyah yakni menumbuhkan sesuatu dari satu keadaan ke keadaan yang lainhingga mencapai batas kesempurnaan. Menurut Naquib Al-Attas, jika penggunaankata rabb sama dalam bentuk madhi (past tense), (seperti pada ayatal-Isra 34 : kama rabbayani shaghira) dan mudari’nya (presenttense) (seperti pada ayat As-Syuara’ 18 : alam rubabbika fiina waliida),maka ini bermakna pendidikan, tanggung jawab, memberi makan, perkembangandan pertumbuhan. Oleh sebab itu untuk mengungkapkan arti kata pendidikan ada beberapa kata yang sesuai diantaranya kata Irshad, Tahdhib,Siyasah, dan Ta’dib.

DalamMu’zam al-Faazul al-Qur’an al-Karim dikatakan bahwa kata Rabaa-yarbuudengan makna bertambah atau berkembang (Zaada dan Namaa). Halini  sebagaimana tertulis dalam QS. arRum(30) : 39, QS. al-Baqarah (2) : 276, QS. al-Hajj (22) : 5, QS. al-Fhusilat(41): 29, QS. ar-Ra’dhu (13): 5, dan QS. an-Nahl (16) : 92. Sedangkan kata Rabaa-Yurbiiatas wazan Khafaa-yukhfii  yangmaknanya mengembangkan dan memelihara (Nasya’a dan ra’aa)memiliki landasan yaitu QS. al-Baqarah (2) : 276. Dan kata Rabba-yarubbudengan wazan Madda-yamuddu yang bermakna memperbaiki, memelihara, danmengajar terdapat pada QS. al-Isra (17) : 24 dan QS. as-Syu’ara (26) : 18. (Mu’zamal-Lukhatul al-‘Arabiyah, 1993 : 402).

Darikata dasar di atas, kata Tarbiyahsecara etimologi mempunyai banyak arti diantaranya adalah pendidikan (education),pengembangan (upbringing), pengajaran (teacing), perintah (intruction),pembinaan kepribadian (breeding), memberi makan (raising),mengasuh anak, (Alial-Jurzani,p.145) dan memimpin (MahmudYunus, 2003 : p.71). Sedangkan menurut Naquib al-Attas istilahtarbiyah berarti memelihara,mengarahkan, memberi makan, mengembangkan, menyebabkan tumbuh dewasa, menjaga, menjadikannyaberhasil, menjinakkan. (al-Attas, Islam andSecularism, p.15)

Secarakhusus kata tarbiyah (dalam bentukmasdar) tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Namun terdapat beberapaistilah kunci yang memiliki akar kata yang sama dengannya, yaitu al-rabb,rabbayani, nurabbi, yurbi, dan rabbani. Pengertian tarbiyah tersebut didasarkan pada firmanAllah SWT, yakni dalam QS. al-Isra’ (17) : 24, yang artinya: “Sebagaimanamereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(QS. Al-Isra’: 24)

Pada ayat di atas terdapat istilah rabbayani yang diambil dari fi’il madhi-nya (rabbayani), maka ia memiliki arti memproduksi, mengasuh, menanggung, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, membesarkan dan menjinakkan. Jadi istilah tarbiyah menunjukkan pengasuhan dan pendidikan orang tua kepada anak-anaknya lebih dominan pada dimensi jasmani jika dibandingkan dengan rohaninya. Makna tarbiyah sebagai “menumbuhkan” (of animals) (Hans Wehr, 1974 : 324) juga terdapat dalam QS. Asy-Syu’ara (26) : 18. Dalam ayat tersebut menunjukkan pengasuhan semata Fir’aun terhadap Nabi Musa sewaktu kecil yang hanya berupa pengasuhan sebatas aspek jasmani, tanpa melibatkan dimensi rohani.

Pendidikan Akhlak di Sekolah

MenurutFahr al-Razi, istilah tarbiyah yang berakar kata dari rabbayani memilikimakna at-tanmiyah (Fahral-Razi, Mawafiqu Lil Mathbu, p. 2797) yaitu pertumbuhan danperkembangan.  Sementara Sayyid Quthubmengartikan lafadz rabbayani dengan ra’ya dalam artian memeliharabukan hanya untuk manusia semata melainkan digunakan untuk makhluk lainnya juga. (Fi Zilal al-Qur’an, 1971:318).

Jadi,istilah tarbiyah memiliki arti pendidikan yang masih sangatluas. Oleh sebab itu, Al-Attas mengkritik penggunaan istilah tersebut untukmenggantikan istilah “pendidikan” dalam Islam. Menurutnya, istilah tarbiyah memiliki kesamaan makna dengan istilah konsep Barat yaitu education. (al-Attas, 1999:28).

Selainistilah tarbiyah, ada juga konsep lain yang memiliki arti pendidikanyaitu ta’lim. Menurut Hans Wher, kata ta’lim berartipemberitahuan tentang sesuatu (information), nasihat (advice),perintah (intruction), pengarahan (direction), pengajaran (teaching),pelatihan (training), pembelajaran (schooling), pendidikan (education),dan pekerjaan sebagai magang, masa belajar suatu keahlian (apprenticeship). (HansWehr , p.267).

Senadadengan hal itu, Mahmud Yunus mengartikan ta’lim sebagai hal yangberkaitan dengan mengajar dan melatih.(Mahmud Yunus, p.136). Sedangkan Muhammad RasyidRidha mengartikan ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmupengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. (M. Rasyid Ridha, p.262). Berbeda dengan hal itu,Quraisy Shihab, mengartikan istilah ta’lim dengan berlandaskan kata yu’allimuyang terdapat pada surat al-Jumu’ah(QS. (62) 2, dengan arti mengajar yang intinya mengisi pikiran anak didikdengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika. (M.Quraish Shihab, p.172).

Katata’lim banyak dijumpai di dalam al-Qur’an dan sunnah. Di antaranya ta’limdigunakan oleh Allah untuk mengajar nama-nama yang ada di alam jagat rayakepada Nabi Adam as. (QS. al-Baqarah (2): 31), mengajar manusia tentangal-Qur’an dan bayan (QS. ar-Rahman (55): 2), mengajarkan al-Kitab,al-Hikmah, Taurat, dan Injil (QS. al-Maidah (5): 110), mengajarkan ta’wil mimpi(QS. Yusuf (12): 101), mengajarkan sesuatu yang belum diketahui manusia (QS.al-Baqarah (2): 239), mengajarkan tentang sihir (QS. al-Kahfi (18): 65),mengajarkan cara membuat baju besi untuk melindungi tubuh dari bahaya (QS.al-Anbiya’ (21): 80), mengajarkan tentang wahyu dari Allah (QS. at-Tahrim (65):5). (AbuddinNata, 2010, p.13-16).

Dengandemikian, kata ta’lim  dalamal-Qur’an menunjukkan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan suatu ilmupengetahuan, hikmah, kandungan kitab suci, wakyu, sesuatu yang belum diketahuimanusia, keterampilan membuat alat pelindung, ilmu laduni (ilmu yanglangsung dari Allah), nama-nama atau simbol dan rumus-rumus yang berkaitandengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baikyang disampaikan melalui proses ta’lim tersebut dilakukan oleh Allah SWT,malaikat, dan para nabi.

Istilahta’lim lebih sesuai diartikan dengan “pengajaran”. Namun, karenapengajaran merupakan bagian dari bentuk pendidikan maka kedua istilah tersebut(tarbiyah dan ta’lim) memiliki makna yang sama. Keduanya lebih mengutamakanaspek pendidikan berbentuk jasmani daripada rohani. Menuurt Al-Attas kedua katatersebut belum mewakili makna pendidikan yang sesungguhnya. Untuk itu, al-Attasmengajukan satu terminologi lain yang menunjuk makna pendidikan yaitu ta’dib.

Katata’dib berasal dari kata addaba,yuaddibu, ta’diban (ta’dib) yang artinya pendidikan (udecation),disiplin, patuh dan tunduk pada aturan (discipline) peringatan atauhukum (punishment). (AbuddinNata, 2010, p.47). Ada juga yang memberikanarti ta’dib sebagai beradab, bersopan santun, tata krama, adab, budipekerti, akhlak, moral, dan etika.(Abdul Mujib, 2006,p.10).

Adapunal-Attas mengartikan kata ta’dib yang seakar dengan adab memiliki artipendidikan, peradaban, dan kebudayaan sebagai pengenalan dan pengakuan yangsecara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat yang tetapdari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arahpengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. (Al-Attas, p.32).  Melalui ta’dib inial-Attas ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilaiakhlak mulia yang bersumber pada ajaran agama ke dalam diri manusia, sertamenjadi dasar terjadinya proses islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmupengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruhpaham-paham asing seperti materialisme, liberalisme, sekularisme, dandikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Orientalis Barat.

Istilah ta’dib lebih tepat diartikan sebagai pendidikan. Sebab, istilah tersebut mencakup semua aspek manusiawi. Istilah ini tidak terbatas hanya pada aspek kognitif, tetapi juga meliputi pendidikan spiritual, moral dan sosial. (Wan Mohd Nor Wan Daud, 1998, p.184). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah yang mampu mewakili pendidikan ialah terkandung dalam konsep ta’dib.

Baca Selanjutnya : Memahami Hakekat Pendidikan Karakter (part.2)

Related Posts

Leave a Comment