Home Article Memahami Hakekat Pendidikan Karakter dalam Islam (part.2)

Memahami Hakekat Pendidikan Karakter dalam Islam (part.2)

by Muhammad Ismail
3 comments

Secara konseptual, jika dibandingkan antara konsep-konsep tentang pendidikan tersebut maka akan terlihat aspek apa saja yang perlu untuk dididik dalam proses pendidikan. Namun, secara garis besar semua istilah pendidikan (tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib) telah menjadikan manusia sebagai objek pendidikan.

Manusia merupakan makhluk yang terdiri dari aspek jasmani dan rohani. Jadi yang perlu untuk dididik ialah kedua aspek tersebut. Adapun aspek rohani memiliki keterkaitan yang erat dengan akhlak atau karakter pribadi seseorang. Aspek inilah yang menentukan kualitas dan mutu seseorang. Untuk itu, perlu kiranya seorang pendidik mengetahui pula tentang hakekat di balik istilah karakter tersebut.

Pengertian Konseptual Pendidikan Karakter

Karakter berasal dari bahasa Latin yaitu kharakter, kharassein, kharax. Sedangkan dalam bahasa Inggris yaitu: character. Kata tersebut kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia  yaitu “karakter”. Istilah karakter memiliki makna di antara lain yakni membuat tajam, membuat dalam. Poerwadarminta mengartikan kata karakter sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. (Agus Wibowo,  2012, p. 35). Selain itu, Thomas Lickona juga mendefinisikan karakter sebagai istilah yang mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Thomas Lickona, 1992, p.23)..

Adapun ciri-ciri pribadi yang berakhlak di antaranya adalah meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran. (Hornby dan Parnwell, 1972: 49). Selain itu, karakter juga merupakan kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Hermawan Kertajaya (2010: 3) mendefinisikan karakter adalah “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah “asli” dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan ‘mesin’ pendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespons sesuatu. (Abdul Majid, 2011, p.11).

Selain itu, karakter juga dapat dikatakan sebagai sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari. Tapi bila belum jadi perilaku, sifat baik itu masih dalam bentuk nilai. Kemudian jika sudah menjadi perilaku baik, ternyata tidak cukup sekedar berperilaku baik. Orang pendiam belum tentu karena ‘rendah hati’, sebab bias jadi itu tanda dari “rendah diri’. Peragu bisa berdalih karena penuh pertimbangan. Orang santun juga belum tentu memang baik hatinya. Pendiam dan santun hanyalah gaya. Tidak berarti orang yang blak-blakan dan tegas pastilah jahat. (Erie Sudewo, 2011, p.45)

Karakter juga diartikan merupakan sesuatu yang mengualifikasikan seorang pribadi (Foerster); keadaan jiwa yang menyebabkan seseorang bertindak tanpa dipikirkan terlebih dahulu (Ibnu Miskawaih); sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral (Thomas Lickona); cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari pengertian terminologi “pendidikan karakter” yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa pendidikan karakter adalah sebuah upaya untuk membimbing perilaku manusia untuk memahami nilai-nilai, norma kehidupan serta cara pandang hidup (worldview) yang lebih baik. Mendidik karakter berarti menanamkan nilai-nilai yang baik dalam diri seseorang, serta membangun tatanan ilmu dalam diri peserta didik.

Artikel Sebelumnya : Memahami Hakekat Pendidikan Karakter (part.1)

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More