Home Article Makna Lafadz “Allah” Sebagai Konsep Tertinggi Dalam Islam [part.1]

Makna Lafadz “Allah” Sebagai Konsep Tertinggi Dalam Islam [part.1]

by Muhammad Ismail
2 comments

Dalam kajian semantik, sebuah nama dalam arti sebuah kata adalah simbol dari sesuatu, karena nama merupakan nama sesuatu. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan, ketika seseorang menggunakan nama untuk menunjuk sesuatu, ada pemahaman yang berbeda yang tidak dimengerti oleh orang lain. Dan untuk mengetahui apa makna di balik nama “Allah”, secara semantik kita dapat menggunakan analisa makna dasar dan makna relasional.

Konsep Tuhan (Allah) dalam Islam dapat dipahami melalui makna bahasa yang digunakan dalam al-Qur’an yaitu bahasa Arab. Sebab konsep Allah (الله) merupakan konsep kunci dan konsep tertinggi di dalam al-Qur’an. Yang mana semua konsep dalam al-Qur’an selalu menyebut Allah SWT sebagai penguasa alam semesta serta Tuhan seluruh makhluk. Abdul A’la al-Maududi dalam kitabnya Mushthalahat al-Arba’ah fi al-Qur’an menjelaskan bahwa secara etimologi lafadz “Allah (الله)” seringkali dianggap sebagai gabungan dari al- (sang) dan ilah (tuhan). Pandangan atau teori seperti ini tentu menyalahi kaedah bahasa Arab. Sebab bentuk definitif (ma’rifah) dari lafadz ilah yaitu al-ilah (الإله), dan bukan Allah.

Dalam bahasa Arab terdapat kaidah bahwa setiap ism (kata benda atau kata sifat) nakirah (umum) yang memiliki bentuk dua (mutsanna) dan jamak maka ism ma’rifat tersebut memiliki bentuk mutsanna dan jamak. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku pada lafadz Allah, kata Allah tidak memiliki bentuk ma’rifat mutsanna dan jamak. Sedangkan lafadz ilah memiliki bentuk ma’rifat baik mutsanna (ilahani/ilahaini) atau pun jamak (al-alihah). Dengan demikian maka antara lafadz Allah dan al-Ilah merupakan dua kata yang berbeda.

Dalam bahasa Inggris terminologi Tuhan (Allah) seringkali diartikan dengan istilah “God”. Sebenarnya, istilah Allah tidak dapat diartikan atau disamakan dengan istilah God. Sebab kata God sebenarnya lebih menunjuk kepada makna “tuhan” dan bukan “Allah”. Lafadz Allah tidak untuk diterjemahkan dengan kata lain sebab lafadz tersebut adalah ism atau nama yang Maha Agung, Allah tidak memiliki gender dan bentuk jamak. Hal ini tentu berbeda dengan God yang memiliki bentuk jamak yaitu Gods atau dalam bentuk gender feminim yaitu Goddess. Oleh sebab itu, orang yang menerjemahkan lafadz Allah dengan God pada hakekatnya akan menghilangkan hakekat Allah SWT itu sendiri.

Penjelasan tentang hakekat nama Allah dapat dipahami melalui Q.S. An-Naml : 9 – يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ. Dalam ayat tersebut Allah SWT memperkenalkan nama-Nya kepada Musa as. dengan sebutan “Allah” dan bukan Ilah, Rabb, atau yang lainnya. Ini mempertegas bahwa lafadz Allah adalah sebuah nama yang bukan dihasilkan dari bentuk derivasi kata ilah.

Di dalam al-Qur’an lafadz “Allah” diulang sebanyak 2697 kali. Selain lafadz Allah, istilah yang digunakan dalam menjelaskan hakekat Tuhan dalam al-Qur’an adalah Al-Rabb, Al-Ilah, serta 99 al-asma’ al-husna. Semua istilah yang digunakan seringkali mengarah pada tujuan yang sama yaitu menjelaskan tentang tauhid.

Ibn al-Qoyyim mengatakan bahwa Allah (الله) merupakan nama yang merujuk kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, Dialah Tuhan segala sesuatu. Lafadz Allah (dalam bahasa Arab) bukan bentuk derivasi dari akar kata alif-lam-ha’. Sebab dalam kitab Mu’jam Alfadz al-Qur’an al-Karim disebutkan bahwa إلة atau أ-ل-ه berarti “tuhan” memiliki makna “segala sesuatu yang disembah”. Dalam al-Qur’an, lafadz إله juga digunakan untuk menyebut tuhan orang kafir. Sedangkan lafadz الله adalah nama yang digunakan untuk menunjuk Dzat Maha Tinggi yang berhak untuk disembah.

Untuk memahami konsep Tuhan dalam Islam secara mendalam kita dapat mempelajarinya melalui isyarat yang disampaikan dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Dan untuk mengetahui hakekat Tuhan (dalam hal ini adalah Allah SWT) dapat dipelajari melalui asma al-husna yang digunakan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Misalnya, Q.S. Al-‘Alaq ayat 1-5, dalam ayat tersebut Tuhan menunjukkan diri-Nya sebagai Pengajar manusia yang menunjukkan berbagai hal penting, termasuk di antaranya tentang hakekat keTuhanan itu sendiri.

Pada hakekatnya, seluruh umat manusia telah memiliki iman kepada Allah SWT sejak ia berada dalam kandungan. Sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an bahwa sebenarnya manusia sejak di dalam kandungan telah mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seisinya dan diimani oleh semua manusia adalah Allah SWT. Hal tersebut dapat dipahami melalui makna ayat berikut ini:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Artinya:

“…dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (Q.S. Al-A’raf :172)

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa sejak manusia masih dalam bentuk roh sebelum lahir ke dunia, Allah telah mengenalkan diri-Nya dengan cara menguji keimanan manusia terhadap-Nya. Menurut para ulama, proses pengakuan manusia terhadap Allah SWT menjadi sifat alamiah bahwa manusia pada hakekatnya telah mengenal dan mengakui keberadaan Tuhan sejak sebelum dilahirkan ke bumi. Peristiwa pengakuan manusia sebelum dilahirkan ini disebut juga dengan “perjanjian primordial”. Hal tersebut dipertegas lagi ketika manusia mendapatkan ujian dengan kesulitan atau musibah yang menimpahnya maka manusia akan otomatis mengingat Tuhan. Artinya, kesadaran berTuhan sebenarnya selalu melekat pada diri manusia.

Untuk memahami realitas Tuhan kita dapat mempelajari hubungan antara konsep Tuhan dengan konsep-konsep yang lainnya di dalam al-Qur’an. Di dalam al-Qur’an Surat al-Hadid ayat 3 dijelaskan bahwa:

هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡأٓخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ٣ 

Artinya:

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Hadid : 3)

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa konsep Allah merupakan konsep kunci yang tertinggi di dalam Islam. Yang mana konsep Tuhan menjadi konsep tunggal yang akan menjelaskan semua konsep yang ada di dalam al-Qur’an. Oleh sebab itu, semua konsep tidak dapat terpisah begitu saja dengan konsep Tuhan. Sebab hal tersebut akan menjadikan makna suatu konsep tidak sempurna. Hal ini dipertegas oleh Vincent J.Cornell, karena Tuhan adalah konsep tertinggi maka konsep lainnya harus sesuai dengan apa yang digambarkan oleh konsep Tuhan.

Tuhan memiliki hak dalam menjelaskan asal-muasal semua hal yang ada. Manusia tidak memiliki hak untuk merubah esensi dari suatu konsep tertentu. Tugas manusia adalah untuk mempelajari dan mengimani akan hakekat Tuhan sebagai Maha Pengatur tatanan syariat. Dan ketika manusia menghilangkan unsur keterkaitan konsep dengan konsep Tuhan maka yang akan terjadi adalah dekonstruksi konsep.

Pada dasarnya worldview al-Qur’an bersifat teosentrik dan konsep Allah menguasai seluruh konsep yang ada dan memasukkan unsur-unsur ilahiyyah-Nya secara mendalam pada semantik semua kata kunci. Segala aspek pemikiran tidak dapat terlepas begitu saja dari unsur-unsur keTuhanan. Aspek apapun yang ingin dikaji seseorang dari ayat-ayat al-Qur’an, maka ia perlu memiliki gagasan yang jelas tentang bagaimana konsep ini terstruktur secara semantik.

Mengenai konsep Allah, akan lebih jelas apabila dibahas dengan menggunakan semantik yang fokus pada masalah hubungan antara manusia dan Tuhan. Sebab, hampir dalam seluruh elemen makna dalam al-Qur’an, kata “Allah” tidak pernah tersusun dengan frase tunggal yang menandakan hidup dalam kemuliaan-Nya sendiri, mencukupi diri-Nya sendiri dan tetap jauh dari manusia.

Sebagaimana konsep Tuhan dalam filsafat Yunani, konsep Tuhan dibedakan dan tidak ada keterkaitan sama sekali dengan aktifitas manusia. Sama halnya dengan si pembuat sepatu yang tidak lagi bertanggungjawab atas jam ciptaannya. Akan tetapi, Allah dalam perspektif al-Qur’an selalu melibatkan diri-Nya dalam setiap urusan manusia. Jadi konsep Allah menurut worldview al-Qur’an selalu menjadi landasan utama setiap konsep yang ada dan tidak berdiri sendiri terlepas dari makhluk-Nya.

Pembahasan selanjutnya….

You may also like

2 comments

Makna Lafadz "Allah" Sebagai Konsep Tertinggi Dalam Islam [part.2]] April 2, 2020 - 5:18 am

[…] al-Qur’an tidak menggunakan kata yang baru dalam menyebut “Tuhan”. Permasalahannya, apakah konsep Allah dalam al-Qur’an itu sama dengan konsep Allah pada masa Jahiliyyah?, atau konsep Allah dalam […]

Reply
Konsep Manusia Yang Berpikir Dalam Terminologi al-Qur'an June 12, 2020 - 7:12 am

[…] kebaikan yang terdapat dalam segala urusan dengan cara yang adil dan benar, karena perbuatan Tuhan selalu adil (al-‘adl) dan benar (al-haqq). Manusia hendaknya tidak berbuat salah dzulm) kepada sesamanya, […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More