Home Article Makna Lafadz “Allah” Sebagai Konsep Tertinggi Dalam Islam [part.2]

Makna Lafadz “Allah” Sebagai Konsep Tertinggi Dalam Islam [part.2]

by Muhammad Ismail
2 comments

Dalam sejarah, nama “Allah” bukanlah sesuatu yang baru. Melainkan sudah dikenal sejak masa Jahiliyyah. Dan ketika al-Qur’an menggunakan kata tersebut, al-Qur’an tidak menggunakan kata yang baru dalam menyebut “Tuhan”. Permasalahannya, apakah konsep Allah dalam al-Qur’an itu sama dengan konsep Allah pada masa Jahiliyyah?, atau konsep Allah dalam al-Qur’an merupakan konsep yang berbeda secara menyeluruh dengan konsep sebelumnya, atau masih ada kaitan antara kedua masa tersebut (Jahiliyyah dan Islam).

Pada masa-masa pra Islam, setiap suku memiliki tuhan atau dewa lokal yang dikenal dengan nama diri yang berbeda-beda. Pada awalnya, masing-masing suku memiliki makna sendiri, ketika dibandingkan dengan makna tuhan tersebut. Hal tersebut terjadi pada keyakinan umat Yahudi dan Kristen yang dalam kitab sucinya menggunakan nama Allah untuk menyebut Tuhan mereka. Akan tetapi, konsep atau makna dari satu nama yang digunakan memiliki konotasi yang sangat berbeda.

Sama halnya dengan masa pra Islam (Jahiliyyah) yang mana kata “Allah” dapat dikatakan telah memiliki “makna dasar” yaitu dewa-dewa. Secara historis, nama Allah masuk ke dalam sistem Islam melalui sistem yang lain yaitu sistem konsep religious pra-Islam. Dalam kedua sistem tersebut (pra Islam dan Islam) kata Allah sama-sama menempati posisi tertinggi).

Akan tetapi, nama Allah dalam tradisi Jahiliyyah terdapat kekeliruan atau dengan kata lain, nama Allah pra-Islam tidak sesuai dengan konsepsi religiusnya yang baru. Adapun unsur makna relasional tersebut salah satunya adalah gagasan bahwa Allah, meskipun diakui sebagai Tuhan tertinggi, ternyata di lain sisi mereka mengizinkan konsep sekutu (syuraka’) selain Allah.

Dalam kepercayaan kaum Pagan, nama Allah selalu identik dengan konsep pencipta dunia. Selain itu, mereka juga percaya bahwa Allah adalah yang menurunkan hujan, pemberi kehidupan, pemimpin dunia atau alam semesta, bahkan menurut mereka, Allah adalah penguasa Ka’bah. Beberapa hal fundamental tersebut bisa dilihat dari struktur konsep Allah dalam worldview Paganisme Arab. Hal tersebut dapat dilihat dari ayat-ayat al-Qur’an yang bercerita tentang kehidupan orang-orang Pagan. Dari beberapa keyakinan terlihat ada kesamaan konsep dengan Islam meskipun terdapat pula yang berbeda.

Dalam al-Qur’an Surat al-Ankabut : 61-63 disebutkan:

Artinya :

“Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) (61).  Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba- hamba-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu (62). Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya) (63).”  (Q.S. Al-Ankabut : 61-63).

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa konsep Allah sudah ada dalam masa Jahiliyyah. Dan konsep yang mereka pahami tentang Allah adalah sebagai pencipta dunia, pemberi hujan, pemberi kehidupan kepada semua yang ada di bumi. Hanya saja, mereka  salah dalam menarik kesimpulan yang masuk akal dari pengakuan terhadap Allah sebagai pencipta langit dan bumi, bahwa mereka harus menyembah Allah semata-mata bukan yang lainnya. Akan tetapi mereka justru membuat berhala (syuraka’) sebagai perantara menyembah Allah. Selain itu, ayat di atas juga menjelaskan tentang bagaimana kaum Jahiliyyah dapat menyimpang dari jalan yang benar. Hal tersebut tenyata lebih disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana menggunakan akal mereka dalam mengambil kesimpulan yang benar.

Maka bisa dikatakan bahwa orang Arab Pagan memiliki keyakinan monoteisme sementara dan tidak sempurna. Sebab mereka hanya ingat kepada Allah disaat mendapatkan musibah. Dan tidak ingat kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Mulia ketika dalam kondisi normal. Hal tersebut digambarkan dalam Q.S. Luqman : 32,

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٞ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ فَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞۚ وَمَا يَجۡحَدُ بِ‍َٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ كَفُورٖ ٣٢

Artinya :

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar. (Q.S Luqman : 32)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keadaan darurat atau dalam musibah tidak membuat mereka (orang Jahiliyyah) sadar akan keesaan Allah. Ketika mereka merasa kehidupannya terancam maut maka mereka meyakini keesaan Allah sementara waktu saja. Sehingga kepercayaan mereka tidak dapat dikatakan sebagai ketulusan, ketundukan, kepatuhan atau bahkan penghambaan diri yang total.

Ayat-ayat dalam al-Qur’an juga menggambarkan tentang keyakinan mereka terhadap posisi Allah. Dalam keyakinan Pagan, nama Allah memiliki posisi yang sangat tinggi dan suci. Hal tersebut dapat dilihat melalui Q.S. Fathir : 42 dan Q.S. An-Nahl : 38. Selain itu, karena kepercayaan yang meninggikan konsep Allah, akhirnya mereka memiliki kesimpulan bahwa Allah adalah penguasa Ka’bah. Penjelasan tentang hal itu dapat kita baca dalam Q.S. Quraish : 1-3. Paling tidak, dalam masalah ini mereka tercerahkan dengan menganggap bahwa Allah adalah pemilik Ka’bah. Meskipun hal tersebut tidak begitu berpengaruh pula terhadap keyakinan mereka kepada Allah sebagai Tuhan semua makhluk.

Adapun dalam konsep Allah menurut pandangan dunia (worldview) al-Qur’an adalah tuhan orang-orang “hanif”. Kata “hanif” dalam bahasa Arab memiliki bentuk jama’ (hunafa’), konsep hanif memiliki makna monoteisme yang bertolak belakang dengan konsep politeisme atau lebih tepatnya para penyembah berhala yang disebut dalam al-Qur’an sebagai konsep “musyrik”. Hal tersebut dapat ditelaah melalui Q.S. Ali Imran : 67, 95;

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٦٧

Artinya :

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. (Q.S. Ali Imran : 67)

Dan juga,

قُلۡ صَدَقَ ٱللَّهُۗ فَٱتَّبِعُواْ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٥

Artinya:

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S. Ali Imran : 95)

Untuk itu hendaknya manusia selalu menggunakan akalnya untuk memikirkan kebenaran agama Islam. Sebagaimana tentang keyakinan yang benar menurut konsep al-Qur’an yang telah digambarkan  dalam Q.S. Al-Mu’minun : 84-85.

قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٨٤ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٨٥

Artinya :

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” (84). Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” (85). (Q.S. Al-Mu’minun : 84-85)

Dalam ayat di atas Allah menyinggung tentang konsep berpikir sebagai isyarat bahwa manusia juga seharusnya memahami hakekat penciptaan bumi. Dalam ayat tersebut terdapat frase “afala tadhakkarun”, yang berarti “Maka apakah kamu tidak ingat?”. Makna tersebut dapat juga dipahami bahwa secara tidak langsung ayat tersebut mencela orang-orang Pagan yang salah dalam mengambil kesimpulan tentang konsep Allah meskipun mereka telah memahami hakekatnya. Alasan ini diperkuat oleh Q.S. Al-Mu’minun : 88-89 yang menjelaskan bahwa Allah tidak sekali-kali menipu orang-orang Jahiliyyah. Sebab, Allah telah mengutus nabi Muhammad sebagai pembawa risalah kebenaran. Justru aneh jika orang-orang pagan tetap berpegang pada konsep Allah yang salah. Sedangkan telah diutus kepada mereka seorang Rasulullah.

Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep Allah menurut perspektif al-Qur’an berbeda dengan konsep Allah menurut orang Jahiliyyah, Yahudi dan Kristen. Konsep Allah dalam Islam adalah Tuhan sebagai pencipta alam, pengatur kehidupan, pemberi rizqi, dan yang terpenting ialah Allah tidak memiliki sekutu yang sebanding dengannya.

Hal inilah yang membedakan konsep Allah dalam Islam dengan konsep Allah yang ada dalam agama atau keyakinan lainnya. Yang mana, dalam tradisi pagan, konsep Allah sejajar dengan dewa-dewa yang mereka sembah. Konsep Allah dalam masa pagan bukanlah konsep utama dan tinggi, melainkan sejajar dengan konsep-konsep yang lainnya dan tidak saling terkait antara satu konsep dengan konsep Allah. Sama halnya dengan konsep Allah dalam Kristen yang mengakui bahwa Allah itu adalah satu dalam tiga atau tiga dalam satu. Sehingga mereka membuat konsep tuhan yang baru dengan terminologi “trinitas”. Model konsep seperti itu tentu tidak dapat disamakan dengan konsep Allah dalam Islam.

You may also like

2 comments

Konsep Penciptaan Alam Semesta dan Seisinya Dalam al-Qur'an June 1, 2020 - 6:31 am

[…] konsep kunci yang saling terkait dalam konsep penciptaan lebah. Adapun konsep-konsep tersebut ialah konsep keTuhanan (rububiyyah), konsep penciptaan, konsep manusia, konsep tanda (ayat) serta konsep berpikir. […]

Reply
Konsep Kenabian Dalam Islam November 7, 2020 - 7:19 am

[…] Sayyid Husein Afandi al-Jisr istilah Rasul memiliki arti manusia yang mendapatkan tugas khusus dari Allah SWT untuk menyampaikan pesan-Nya. Rasulullah yang mendapatkan wahyu memiliki kewajiban untuk […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More