Home Artikel Lubb: Dimensi Hati sebagai Sumber Kebenaran Ilahi

Lubb: Dimensi Hati sebagai Sumber Kebenaran Ilahi

by Muhammad Ismail
Hati Sumber Kebenaran

Al-Lubb atau Lubb merupakan dimensi hati yang paling inti. Dimensi ini secara struktur berfungsi sebagai unsur yang mampu memahami kebenaran yang datangnya dari Allah. Dalam dimensi inilah keyakinan dan ketauhidan akan keesaan Allah sebagai Tuhan semesta alam itu bersemayam.

Baca Juga:

  1. Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran Dan Keislaman
  2. Qalb Sebagai Dimensi Hati Yang Selalu Berbolak-Balik
  3. Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan

Manusia menggunakan dimensi lubb untuk mengetahui hakekat segala hal yang menjadi ilmu Allah. Di dalamnya tidak terdapat keraguan sedikit pun. Mungkin inilah yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hati nurani. Sebab, Allah memberikan cahaya kekuasaanNya dalam dimensi lubb tersebut. Dan Allah adalah pengatur dari ketetapan atau isi dasar agama yang ada dalam dimensi ini.

Karena lubb adalah tempat bagi keyakinan akan tauhid, makadimensi ini hanya dimiliki bagi orang-orang yang beriman kepada Allah SWTdengan sepenuhnya keimanan. Adapun orang yang berpikir dan tidak mengimani Allahberarti ia tidak berpikir hingga dimensi lubb tersebut.

Sebab pada dasarnya, antara aktifitas berpikir dengan beriman seharusnya sejalan dan tidak dapat dipisahkan. Berpikir harus mengarah pada keimanan kepada Allah dan beriman pun membutuhkan pemikiran yang murni hingga ke hati. Untuk itulah Allah menyebut orang-orang yang berakal dengan terminologi “Ulu-l-Albab” yang artinya manusia yang menggunakan akalnya.

Dalam al-Qur’an istilah Ulu-l-Albab seringkali terkaitdengan konsep taqwa, hidayah, hikmah dan kebaikan (khair), berpikir (tadzakkur).Artinya, lubb memiliki kemampuan untuk memahami hakikat di balikilmu-ilmu Allah dan mampu untuk memilah yang baik-baik sebagai wujud ketakwaan kepadaAllah SWT.

Menurut Hakim Tirmidzi, beliau mengutip pendapat ahli sastra Arab,bahwa dimensi lubb adalah akal (al-‘aql) atau kemampuan berpikiryang merupakan kerja hati. Karena dimensi lubb adalah inti maka sangatwajar apabila ar-Raghib menyimpulkan bahwa semua lubb adalah ‘aql,dan tidak semua ‘aql adalah lubb. Akan tetapi antara keduanyaberbeda, seperti berbedanya sinar matahari dengan sinar lampu.

Lebih lanjut, Tirmidzi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Ulu-l-Albabialah orang-orang yang mengetahui Allah SWT (al-‘ulama bi-Allahi). Hanyasaja, tidak semua orang yang berakal (‘aqil) bisa disebut mengetahui Allah(‘alim), sedangkan setiap orang yang mengetahui Allah adalah orang yangberakal (‘aqil). Hal tersebut sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalamQ.S. Al-Ankabut : 43.

وَتِلۡكَٱلۡأَمۡثَٰلُنَضۡرِبُهَالِلنَّاسِۖوَمَايَعۡقِلُهَآإِلَّاٱلۡعَٰلِمُونَ٤٣ 

Artinya:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yangmemahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S. Al-Ankabut : 43)

Dengan demikian, antara akal, hati, ilmu, dan iman adalah medankonsep yang saling terkait. Selain al-‘aql, Allah juga menggunakanistilah an-Nuha untuk menunjuk akal. Disamping itu, orang yangmenggunakan akalnya juga seringkali disebut dengan istilah yatatafaqquhun.

Terminologi Tafaqquh lebih dekat dengan makna berpikir atau upaya menggunakan akalnya. Adapun orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berpikir secara benar dala al-Qur’an disebut dengan orang yang munafik.

 Lubb merupakan akalyang murni, suci, dan bersih dari segala macam kotoran hati. Lubb adalahdimensi hati yang paling inti, dengan lubb inilah manusia memahamihakekat segala sesuatu. Untuk itu, Allah SWT menggunakan istilah Ulu-l-Albabuntuk menunjuk hamba-Nya yang mampu menggunakan akalnya untuk memahami esensidari segala kejadian.

Oleh karena itu Ulu-l-Albab merupakan kriteria manusia yangdiberikan kemampuan untuk mengambil hikmah oleh Allah SWT, sebagaimanadijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah : 269.

يُؤۡتِيٱلۡحِكۡمَةَمَنيَشَآءُۚوَمَنيُؤۡتَٱلۡحِكۡمَةَفَقَدۡأُوتِيَخَيۡرٗاكَثِيرٗاۗوَمَايَذَّكَّرُإِلَّآأُوْلُواْٱلۡأَلۡبَٰبِ٢٦٩ 

Artinya:

Allahmenganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, iabenar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yangberakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S. Al-Baqarah: 269)

Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa tempat al-Islam adalah shadr(pusat hati), tempat al-Iman adalah al-Qalb (hati),tempat al-Ma’rifah ialah dalam al-fuad (nurani), sedangkanal-Tauhid  terletak pada al-Lubb  (akal pikiran). Adapun konsep Islam (al-Islam)yang terletak pada sadr memiliki potensi diantaranya, keraguan (as-shakk),kesyirikan (as-shirk), kemunafikan (an-nifaq), dan lainsejenisnya. Sehingga dalam sadr inilah terletak an-nafs al-ammarah bias-su’.

Sedangkan konsep iman (al-Iman) yang terletak pada hati (al-qalb) berpotensi untuk condong kepada ketakwaan (al-taqwa) dan kadangkala fujur (ketidaksesuaian). Dalam hati (al-qalb) inilah tempat an-nafs al-malhamah. Selain itu, konsep al-ma’rifah terletak dalam al-fuad. Al-fuad memiliki potensi untuk memahami karamah Allah, tawaddhu’, ketenangan, senang dengan nikmat Allah, dan dalam fu’ad inilah terletak an-nafs al-lawwamah.

Dan yang terakhir ialah konsep tauhid yang terletak pada lubb.Dalam lubb sendiri memiliki potensi untuk cenderung mentauhidkan Allah SWTsebagai Tuhan, keridhaan menghambakan diri, malu berbuat keburukan, dankecenderungan untuk selalu memikirkan ilmu (al-‘ilm) Allah SWT. Dalam lubbinilah terletak an-nafs al-mutmainnah.

Jadi, dalam konsep berpikir dengan hati, manusia tidak bisamemisahkan semua dimensi hati. Dan dimensi hati yang paling dalam ialah lubbsebagai sumber ketauhidan dan ilmu Allah SWT. Artinya, manusia yangberpikir akan ilmu Allah seharusnya mampu mengarahkan kepada penghambaan (‘ubudiyyah)yang total.

Bukan hanya semata mengarahkan kepada keberIslaman atau keberimanansemata. Lebih mendasar daripada itu, aktifitas berpikir hendaknya mampumemahamkan seseorang kepada makna pentauhidan Allah SWT melalui petunjuk-Nya (al-huda).

Related Posts

6 comments

Fuad : Dimensi Hati Untuk Memahami Hakekat Ilmu Pengetahuan December 29, 2019 - 12:39 pm

[…] Lubb: Dimensi Hati Sebagai Sumber Kebenaran Ilahi […]

Reply
Makna Terminologi Tadzakkur Sebagai Konsep Berpikir January 26, 2020 - 1:43 pm

[…] (sam’), dan penglihatan (bashar). Semua perantara tersebut diberikan kepada manusia dengan tujuan untuk mengetahui kebenaran (haqq) dan menjadikannya dalil atas argumennya dalam […]

Reply
Konsep Tafakkur : Kemampuan Akal Menemukan Ilmu Pengetahuan February 8, 2020 - 11:27 pm

[…] semantik hal ini berarti tidak ada konsep utama dalam al-Qur’an yang terlepas dari konsep Tuhan dan di bidang etika manusia masing-masing konsep kuncinya tidak lain adalah refleksi semu atau […]

Reply
Konsep Akal : Dimensi Hati Sebagai Pengikat Ilmu Pengetahuan February 24, 2020 - 5:41 pm

[…] memahami konsep berpikir secara mendalam tentu saja tidak sesederhana gambaran di atas. Akan tetapi perlu dipahami bahwa […]

Reply
Memahami Makna Term Tadabbur dan Ta'aqqul Dalam Konsep Berpikir February 24, 2020 - 5:48 pm

[…] yang mampu mengikat hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya tidak dapat menguasai dirinya. Selain itu, orang yang berpikir juga akan dapat mengendalikan dirinya terhadap dorongan nafsu dan juga dapat memahami kebenaran […]

Reply
Konsep Penciptaan Alam Semesta dan Seisinya Dalam al-Qur'an June 1, 2020 - 6:31 am

[…] ayat yang lain juga dijelaskan tentang adanya keterkaitan antara proses berpikir dengan proses mendengar dalam upaya mengambil pelajaran (i’tibar) dari suatu kejadian. Misalnya […]

Reply

Leave a Comment