Home Article Liberalisasi Pendidikan : Gagasan Terorisme Ilmiah

Liberalisasi Pendidikan : Gagasan Terorisme Ilmiah

by Muhammad Ismail
1 comment

Virus liberalisasi saat ini semakin melebarkan sayapnya. Jika dulu, liberalisasi hanya disebarkan ke ranah pemikiran agama, kini, virus tersebut sudah menggerogoti setiap urat saraf nilai-nilai keIslaman. Pendidikan misalnya. Pendidikan adalah salah satu sendi terpenting dalam agama Islam. Mungkin atas pandangan inilah kaum liberal menganggap perlu meliberalkan dunia pendidikan.

Dalam ajaran Islam, kegiatan mendidik merupakan dasar pembentukan cara pandang (worldview) manusia. Apabila cara pandangnya salah sejak awal maka sudah bisa dipastikan bagaimana ia memandang seluruh aspek kehidupan saat dewasanya yaitu sesat. Dan inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam. Di mana akan tercipta manusia-manusia yang tidak lagi mengindahkan Worldview dalam menyikapi segala sesuatu. Worldview di sini adalah Islam.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Artinya, di mana manusia benar-benar ditempatkan sebagaimana kedudukannya. Bukan dijadikan tuhan, wakil tuhan atau bahkan penghujat tuhan. Karena esensi manusia adalah makhluk maka sudah semestinya ia hidup untuk menyembah Sang Khaliq. Akan tetapi, dalam beribadah menyembah Allah SWT tentu membutuhkan ilmu pengetahuan yang baik, dan ilmu tersebut akan bisa didapatkan melalui proses pendidikan atau proses memanusiakan manusia.

Masalahnya, bagaimana apabila pendidikan tersebut liberal?. Ini tentu bukan suatu hal yang remeh. Terlebih, jika yang diliberalkan ini adalah pendidikan Islam. Esensi dari pendidikan Islam adalah al-Ta’dib atau menjadikan manusia yang beradab atau berakhlak mulia (Naquib al-Attas). Berarti, mendidik bukan sekedar mengajarkan atau transformasi ilmu.

Lebih dari itu, mendidik adalah menyatukan antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama dalam diri seorang manusia. Tujuannya adalah supaya ia beradab dan bukan hanya sekedar tahu ilmu. Ini penting, sebab pada dasarnya ilmu yang meninggalkan agama adalah sekuler. Dan inilah yang diidam-idamkan pendidikan liberal yang mana manusia tidak lagi menempatkan ilmu agama sebagai satu kesatuan dalam proses mendidik.

Pada dasarnya, konsep pemisahan ilmu dan agama adalah sebuah terorisme ilmiah. Gagasan tersebut dapat kita lihat melalui “bualan” Nietzsche. Ia menganggap bahwa nilai-nilai mulia dan kaidah-kaidah akhlak adalah ciptaan orang-orang lemah. Nietzsche menyerukan sekolah-sekolah agar memberikan pengajaran ilmu yang menyenangkan semata (ilmu umum) dan terbebas dari akhlak-akhlak manusia.

Sementara kebenaran dan kebaikan, lanjut Nietzsche, adalah bendungan-bendungan yang harus dihancurkan, karena itu adalah upaya orang-orang lemah yang ingin menyelamatkan diri dari orang-orang kuat. (Lathifah Ibrahim Khudhari, Ketika Barat Menfitnah Islam, Jakarta : GIP, 2005, p.26).

Dari gagasan tokoh barat tersebut kita tahu bahwa liberalisasi pendidikan adalah proyek penyesatan manusia (proyek setan). Manusia “dipaksa” untuk keluar dari nilai-nilai ketuhanan. Karena ini adalah pemaksaan maka penulis mengatakan bahwa liberalisasi pendidikan adalah tindakan teroris ilmiah.

Sebagaimana dijelaskan dalam Black’s Law Dictionary, bahwa kegiatan terorisme bermaksud mengintimidasi penduduk sipil, mempengaruhi kebijakan pemerintah serta mempengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara pembunuhan. Berdasarkan pengertian tersebut, jelas sudah bahwa liberalisasi pendidikan adalah tindakan terorisme.

Oleh sebab itu, penghapusan doktrin-doktrin liberalisme di bidang pendidikan adalah mutlak dilakukan oleh siapa pun. Akhirnya, penyatuan kembali konsep-konsep ilmu dan agama (Islamisasi) adalah harga mati yang harus segera diwujudkan.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More