Home Opinion Korelasi Antara Pola Internet Sehat Dengan Pendidikan Anak

Korelasi Antara Pola Internet Sehat Dengan Pendidikan Anak

by Muhammad Ismail
0 comment

Internet merupakan sebuah media komunikasi dan informasi global. Berjuta-juta manfaat bisa didapatkan hanya dengan modal kemampuan dan kemauan menggunakan internet. Misalnya, berkorespondensi dengan rekan/relasi di penjuru dunia dengan mudah, murah dan cepat menggunakan email. Selain itu, keleluasaan dalam menggunakan data atau informasi pun lebih mudah didapat.

Akan tetapi, tidak seluruh isi di internet dapat bermanfaat, jika tidak pandai-pandai dalam menggunakan internet maka informasi negatif pun dengan sangat mudah masuk dalam pikiran. Dunia internet lebih cenderung bersifat bebas tanpa kontrol pihak manapun. Sebutlah semisal pornografi, perjudian, sadisme dan rasialisme bertebaran di mana-mana dan sewaktu-waktu itu semua dapat dikonsumsi oleh anak didik.

Tapi semua hal-hal yang negatif di internet tersebut bisa diatasi dengan mudah. Dengan bermodalkan pemahaman yang cukup tentang dunia internet serta didukung kedewasaan anak didik dalam memilih maupun memilah hal yang baik dan buruk, maka anak didik akan mampu memaksimalkan dampak positif internet serta sekaligus meminimalkan dampak negatifnya. Pastinya, semua pihak harus terlibat dan mengambil peran dalam membantu, menyediakan atau menyelenggarakan internet yang sehat, aman dan nyaman bagi anak, remaja atau dewasa.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk memaksimalkan pola internet sehat, antara lain yaitu:

  1. Orang tua harus tetap mendampingi anaknya ketika mereka bereksplorasi dengan internet di rumah.
  2. Guru harus senantiasa membimbing siswa didiknya agar dapat menggunakan internet dengan baik dan benar saat di sekolah.
  3. Komunitas, termasuk pengelola warung internet (warnet), pelaksana program ekstra-kulikuler, lembaga pelatihan dan sebagainya harus bahu-membahu dalam mengedukasi masyarakat tentang berinternet yang sehat.
  4. Anak, remaja maupun siswa didik diharapkan dapat belajar bertanggungjawab atas perilaku mereka sendiri, termasuk ketika mengunakan internet, tentunya dengan bimbingan dan arahan dari orang tua, guru dan komunitas.

Antara metode pendidikan islam dengan pola internet sehat yang digalakkan oleh pemerintah terdapat kesamaan dalam segi nilai-nilai kependidikan. Dalam pendidikan islam, metode pendidikan anak meliputi : a) Mendidik Dengan Keteladanan, b) Mendidik Dengan Pembiasaan, c) Mendidik Dengan Nasehat, dan d) Mendidik Dengan Memberi Hukuman. Sedangkan, pola internet sehat memiliki penekanan yang sama yaitu strategi pemanfaatan media internet sebagai sarana pendidikan yang lebih edukatif dan positif. Semua nilai pendidikan tersebut terdapat dalam pola penggunaan internet sehat. Untuk itu, berikut ini penulis akan mengutarakan korelasi antara metode pendidikan islam terhadap pola internet sehat.

Mendidik Dengan Keteladanan

Dalam usia balita, anak yang mulai berinteraksi dengan komputer harus didampingi oleh orang tua atau orang dewasa. Ketika banyak aktifitas dan situs yang bersesuaian dengan usia balita melakukan surfing bersama orang tua adalah hal yang terbaik. Hal tersebut bukan sekedar persoalan keselamatan anak, tetapi juga untuk meyakinkan bahwa anak tersebut bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan emosional antara sang anak dengan orang tua.

Sejak masuk usia ketiga, beberapa anak akan mendapatkan keuntungan jika mendapatkan lebih banyak kebebasan untuk melakukan eksplorasi, menemukan pengalaman baru dan belajar dari kesalahan yang dibuatnya sendiri. Hal tersebut bukan berarti mereka dibiarkan menggunakan internet secara bebas. Yang menarik adalah orang tua tetap memilihkan situs yang cocok untuk mereka kunjungi dan tidak membiarkan sang anak untuk keluar dari situs tersebut ketika masih menggunakan internet. Orang tua pun tidak perlu terus-menerus berada di samping sang anak, selama orang tua yakin bahwa dia berada di dalam sebuah situs yang aman, layak dan terpercaya.

Dengan memberikan panduan terhadap anak berarti sama halnya dengan memberikan keteladanan. Peran orang tua sebagai suri tauladan yang baik hendaknya ditanamkan sejak anak usia dini. Sebab, apapun yang dilakukan orang tua terhadap anak sebenarnya anak merekam dalam otaknya dan akan teringat sampai ia dewasa. Dengan mengarahkan hal-hal yang positif itulah anak akan tumbuh dengan baik. Inilah cara memaksimalkan fungsi internet sebagai media informasi yang mampu memberikan dampak positif  bagi pendidikan anak.

Mendidik Dengan Pembiasaan

Ketika anak mulai mampu mencari informasi dari kehidupan sosial di luar keluarga, maka metode pembiasaan inilah yang akan berperan penting dalam mengawasi anak didik dalam berselancar. Anak memang harus terus didorong untuk melakukan eksplorasi sendiri, meskipun tidak berarti tanpa adanya partisipasi dari orang tua. Dalam berupaya membiasakan anak-anak terhadap hal-hal yang positif di internet orang tua seharusnya memperhatikan pola peletakan komputer di rumah. Jika komputer diletakkan dalam tempat tertutup sama halnya orang tua memberikan peluang kepada anaknya untuk bertindak yang negatif melalui media internet. Akan lebih baik apabila komputer diletakkan di tempat terbuka sehingga bisa diawasi oleh keluarga. Dengan demikian maka orang tua sudah meminimalisir terjadinya dampak negatif yang diberikan media internet ini.

Dengan membiasakan anak terhadap hal-hal positif akan mampu membentuk pribadi anak yang baik. Akhlak seseorang secara kasat mata belum dapat dijadikan ukuran bahwa seorang anak itu memiliki kepribadian yang baik. Akan tetapi pribadi yang baik seharusnya ada pula dalam diri anak (rohani) tersebut. Anak usia dini meskipun belum dapat menggunaka daya nalarnya dengan optimal, sebenarnya sudah mampu menangkap getaran kasih sayang orang yang mengasuhnya. Dalam kondisi seperti inilah metode pembiasaan sangat baik diterapkan. Pola pikir yang cerdas dan baik inilah yang nantinya akan mewarnai pribadi seseorang. Dengan demikian, ketika anak beranjak dewasa pun akhlak baik akan tetap melekat dan terpatri kuat dalam diri anak.

Mendidik Dengan Nasehat

Waktu memiliki peran tersendiri dalam proses pendidikan. Mendidik anak dalam lingkungan keluarga bukan berarti harus mengabaikan waktu. Kadang kala ketika anak mulai berselancar di internet, sering kali tidak menghiraukan waktu. Mereka terlena dengan asyiknya berinternet. Untuk itu, pembatasan waktu menggunakan internet sudah seharusnya menjadi perhatian oleh para orang tua. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah anak supaya tidak berlebihan atau terlena dalam berinternet, salah satunya yaitu: membiasakan anak memiliki tujuan sebelum membuka internet, memberikan waktu-waktu tertentu saja untuk berselancar di internet sehingga anak tidak akan terlena. Selain itu, memberikan arahan atau nasehat bahwa internet harus menjadi media yang positif sehingga apapun yang dicari pun sudah seharusnya hal-hal yang positif juga.

Anak memiliki pemikiran yang cerdas dan siap diisi apapun. Otak anak kecil sebenarnya terdapat informasi-informasi pemberian Allah SWT tentang mana yang baik dan yang buruk. Akan tetapi, sering kali lingkungan mewarnai atau bahkan mengotori pikiran tersebut. Sehingga perilaku anak pun mengikuti lingkungannya. Dalam hal inilah nasehat dari keluarga menjadi penting. Orang tua harus terus-menerus dan tidak bosan dalam memberikan nasehat positif kepada anaknya mengenai cara-cara berinternet yang sehat. Dengan harapan, pola internet sehat nantinya akan memberikan dampak yang positif terhadap pribadi anak.

Mendidik Dengan Memberi Hukuman

Hukuman tidak selamanya negatif dan harus dihindari. Hukuman terkadang harus diberikan apabila anak-anak melakukan hal-hal yang negatif tentunya dengan memperhatikan berbagai catatan. Hukuman tidak selamanya berbentuk pukulan. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghukum anak supaya merasa jerah. Pukulan memang telah menjadi cara yang paling efektif dalam memberikan efek jera terhadap anak. Metode tradisional inilah yang saat ini seharusnya mulai dikurangi.

Sebab, anak sekarang lebih mudah berontak apabila ia mendapatkan pukulan. Sebenarnya, ini tidak lain merupakan efek dari seringnya pukulan. Secara tidak langsung, ketika orang tua memukul anak proses tranformasi perilaku sedang terjadi, sehingga tidak menutup kemungkinan nantinya anak pun meniru perilaku orang tuanya.  Masih banyak cara yang lain seperti tidak memberikan izin untuk menggunakan internet, tidak memperbolehkan keluar rumah, tidak memberikan uang jajan dan lain sebagainya.

Sejatinya, tujuan dari hukuman yaitu untuk memberikan efek jerah terhadap anak dan untuk memberitahukan kepada anak bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan. Dengan timbulnya efek jerah inilah anak diharapkan mampu berpikir dewasa dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk atau mana yang boleh dan tidak. Biasanya ini sering terjadi saat anak lepas kontrol saat menggunakan internet. Ketika anak lebih akrab dengan hal negatif yang ditimbulkan dari berinternet, maka ia akan terkena candu dari efek buruk tersebut. Jika akan sudah terkena candu negatif dari internet, maka tidak menutup kemungkinan hati anak tersebut akan mengeras dan susah untuk dinasehati. Akhirnya, hukuman dengan kekerasan pun harus menjadi solusinya.

Hukuman fisik dan teriakan keras bukan satu-satunya cara yang paling bermanfaat untuk merespon anak-anak yang sulit dikendalikan. Hukuman model ini tidak hanya merusak hubungan orang tua dengan anak, tetapi juga gagal membantunya untuk membangun kesadaran dan nilai-nilai moral dalam dirinya. Namun pada dasarnya, hati bisa dijinakkan dengan cinta dan kewibawaan bisa tertanam dengan menahan diri dan memaafkan orang lain. Di samping itu, pukulan tidak menunjukkan kekuatan pendidik, akan tetapi sebaliknya, menunjukkan bahwa pendidik lemah dan tidak bisa menguasai dirinya ketika marah.

Ibnu Khaldun menyatakan bahwa orang yang mendidik dengan cara kekerasan dan paksaan, maka kekerasan pun akan menguasai dirinya, menyempitkan pikirannya, menghilangkan kreativitasnya, juga akan menimbulkan kemalasan dalam dirinya serta mendorong anak untuk melakukan kebohongan, menampilkan sikap yang tidak sesuai dengan yang ada di dalam hatinya, serta takut berterus terang karena terpaksa melakukan apa yang diperintahkan.

Seiring dengan pesatnya arus globalisasi, terpaksa dunia pendidikan pun harus ikut di dalamnya. Banyak metode pendidikan dalam islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai pijakan utama dalam mendidik anak, maka akhlakul karimah pun akan dengan mudah diserap oleh anak. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Wasiat Nabi Muhammad SAW seakan ikut hilang ditelan arus globalisasi tersebut. Karena terbiasa dengan modernisasi, akhirnya semua konsep-konsep yang dulu telah digagas oleh ulama islam tergerus dan hilang oleh perkembangan zaman.

Pendidikan merupakan upaya membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Pribadi seorang anak (baik buruknya) tergantung pada orang tua. Sebab, orang tua adalah pendidik utama yang mengerti dan memiliki kewajiban penuh dalam mendidik pribadinya. Untuk itulah, orang tua harus paham dan mengerti tentang metode pendidikan islam yang sesuai ajaran Rasulullah SAW. Dengan mengedepankan metode : Mendidik Dengan Keteladanan, Mendidik Dengan Pembiasaan, Mendidik Dengan Nasehat, dan Mendidik Dengan Memberi Hukuman inilah pribadi yang baik akan terbentuk dari dalam diri anak. Sehingga ketika anak beranjak dewasa, orang tua tidak perlu hawatir untuk melepasnya.

Banyak faktor yang menjadi penghambat atau bahkan penghancur ajaran pendidikan islam. Selain pesatnya arus modernisasi, media informasi pun turut menyumbang efek negatif ke dalam dunia pendidikan. Internet salah satunya, internet yang baru ditemukan setelah wafatnya Rasulullah ternyata mampu menyita pemikiran banyak golongan. Bukan hanya kalangan pemikir barat, dunia islam pun turut ambil porsi dalam pengembangan internet.

Sebagai suatu yang baru, internet membawa dampak positif dan negatif. Dampak tersebut sebenarnya tidak akan berpengaruh terhadap konsumen internet apabila pengguna internet cerdas dalam memilah informasi yang ada. Dampak positif akan mudah didapatkan dan akan berpengaruh positif terhadap penggunanya. Akan tetapi hal sebaliknya dapat terjadi apabila penggunanya memiliki niat yang salah dan tidak mengindahkan nilai-nilai ketuhanan ketika berinternet.

Pada akhirnya, penulis beranggapan bahwa tidak berlebihan kiranya orang tua ikut andil dalam mendukung pola internet sehat. Dengan mendukung pola tersebut, para orang tua akan terbantu dengan maksimal. Karena berjuta-juta kemudahan dapat didapatkan melalui internet, maka tidak menutup kemungkinan metode pendidikan islam pun dapat diaplikasikan dalam pola berinternet sehat. Sebagai catatan akhir, para orang tua hendaknya tetap memegang teguh al-Qur’an dan Hadits sebagai pondasi dalam mengaplikasikan metode pendidikan islam serta tidak menghilangkan nilai-nilai ketuhanan ketika mengembangkan pola internet sehat.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More