Home Artikel Konsep Tafakkur : Kemampuan Akal Menemukan Ilmu Pengetahuan

Konsep Tafakkur : Kemampuan Akal Menemukan Ilmu Pengetahuan

by Muhammad Ismail
Konsep Tafakkur dalam Islam

Istilah at-tafakkur berasal dari kata fakara yang berarti kekuatan atau daya yang mengantarkan kepada ilmu. Dengan kata lain bahwa tafakkur adalah proses menggunakan daya akal (‘aql) untuk menemukan ilmu pengetahuan. Istilah fikr memiliki beberapa makna yang berdekatan. Di antaranya ialah al-tafakkur, al-tadhakkur, al-tadabbur, nazhar, ta’ammul, i’tibar, dan istibshar. Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa tafakkur adalah proses memahami kebenaran suatu perintah antara yang baik (al-khair) dan yang buruk (al-sharr) untuk mengambil manfaat dari yang baik-baik serta bahaya dari suatu keburukan.

Adapun objek kajian berpikir (tafakkur) ialah ilmu. Sebab, berpikir berarti upaya untuk mencari ilmu pengetahuan, maka konsep berpikir juga memiliki makna relasional dengan konsep ilmu (‘ilm) dalam al-Qur’an. Untuk itu, orang yang selalu berpikir tentang suatu ilmu disebut ‘arif atau ‘alim. Kata ‘arif atau ’alim memiliki lawan kata jahil (orang yang tidak tahu). Maksudnya, orang yang tidak berilmu tidak dapat dijadikan sandaran menuju kebenaran karena ia tidak tahu hakekat ilmu.

Ar-Raghib al-Ashfahany dalam al-Mufradat fiGharib Al-Qur’an berpendapat bahwa berpikir (tafakkur) merupakanaktifitas hati (qalb) dalam memahami ilmu-ilmu Allah untuk menemukanmakna yang disampaikan melalui ayat-ayat-Nya yang akan menunjukkan kepadakebenaran (haqq).

Dalam Al-Mu’jam Al-Wasit pun dikatakanbahwa tafakkur berarti menggunakan akal (i’mal al-‘aql) dalamsuatu masalah dengan tujuan untuk mencari solusi dari masalah tersebut. Hal inisenada dengan kesimpulan Ibn al-Qayyim bahwa aktifitas berpikir (tafakkur)adalah tugas hati (al-qalb), dan ibadah adalah pekerjaan anggota tubuh (jawarih),termasuk otak yang merupakan tempat rasio.

Hati (qalb) adalah organ manusia yang mulia dan aktifitas hati lebih mulia dari pekerjaan anggota tubuh lainnya. Maka berpikir (tafakkur) hendaknya mengarahkan seseorang kepada keimanan dan bukan pada kesesatan karena keimanan lebih mulia. Jadi, berpikir merupakan kunci untuk menuju kebaikan (al-khair) dan keselamatan (al-sa’adah/al-salamah).

Adapun manfaat berpikir adalah memperbanyak pengetahuan dan menarik pengetahuan yang belum diperoleh. Al-Ghazali menggambarkan berpikir sebagai “penyulut cahaya pengetahuan”. Ia juga menyatakan bahwa cahaya pengetahuan yang muncul dari pikiran dapat mengubah hati yang memiliki kecenderungan pada sesuatu yang sebelumnya tidak disenangi.

Selain itu, anggota tubuh berfungsi untukbekerja sesuai dengan tuntutan situasi hati. Lebih lanjut, al-Ghazali menyebutaktifitas berpikir merupakan hasil dari proses dari lima tingkatan: 1)mengingat, yaitu menghadirkan dua pengetahuan ke dalam hati, 2) berpikir, yaitumencari pengetahuan yang dituju dari dua pengetahuan tersebut, 3) diperolehnyapengetahuan tersebut dan tersinarinya hati oleh pengetahuan tadi, 4) perubahankondisi hati, dan terakhir, 5) kesiapan anggota tubuh untuk mengabdi padaketentuan hati sesuai dengan kondisi yang baru dialami oleh hati.

Inilah proses berpikir secara benar, yaitu mendatangkan ilmu pengetahuan ke dalam diri kemudian memikirkannya untuk mencari makna yang sebenarnya dari ilmu tersebut. Setelah mendapatkan pengetahuan (makna) baru, maka selanjutnya ialah mengubah sikap hati tentang hasil pemikiran tadi dan yang terakhir ialah menerapkan ilmu atau pemahaman baru tersebut dalam kehidupan. Dengan demikian, berpikir adalah proses terintegrasinya antara akal (‘aql), hati (qalb), dan anggota tubuh (jawarih).

Toshihiko Izutsu menjelaskan bahwa sifat pemikiran (tafkir) dibedakan menjadi dua lapisan dalam pembahasan tentang moral. Pertama, kelompok yang tersusun dari apa yang disebut dengan nama-nama Tuhan (Maha Pemurah, Maha Adil, Maha Agung, dll). Kedua, menyangkut hubungan etika dasar antara manusia dan Tuhan. Dan antara kedua lapisan pemikiran (antara Tuhan dan Manusia) tersebut saling berkaitan.

Secara semantik hal ini berarti tidak ada konsep utama dalam al-Qur’an yang terlepas dari konsep Tuhan dan di bidang etika manusia masing-masing konsep kuncinya tidak lain adalah refleksi semu atau gambaran yang tidak sempurna dari sifat Tuhan itu sendiri, atau mengacu kepada perbuatan Tuhan.

Maksudnya, aktifitas berpikir merupakanrefleksi dari sifat-sifat yang disenangi dan yang tidak disenangi oleh Allah SWT.Masing-masing pola berpikir tersebut memiliki konsekwensi tersendiri. Dan semuamedan semantik konsep berpikir dalam al-Qur’an mengacu pada sifat Allah SWT.Jadi, aktifitas berpikir pun seharusnya merefleksikan sifat Allah.

Pemikiran di atas senada dengan pendapatAl-Ghazali yang menetapkan alur pemikiran manusia. Ia mengatakan bahwa alurpikiran terbatas hanya pada hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Seluruhpikiran manusia (‘abd) adakalanya berkaitan dengan manusia itu sendiribeserta sifat-sifat dan kondisi-kondisinya, adakalanya pula berkaitan denganyang disembah (ma’bud) dengan segala sifat dan perbuatannya.

Adapun yang terkait dengan manusia, adakalanyaberupa penalaran terhadap sesuatu yang disenangi Allah, atau terhadap sesuatuyang tidak disukai. Yang terkait dengan Allah adakalanya berupa penalaranterhadap substansi, sifat-sifat, dan juga nama-nama-Nya, atau terhadapperbuatan-perbuatan, kerajaan dan kebesaran-Nya, seluruh yang ada di langit danbumi serta yang ada di antara keduanya.

Berpikir untuk hal yang berkaitan dengan Allahhanya akan menghasilkan pengetahuan yang sangat sedikit jika dibandingkandengan yang diketahui oleh keseluruhan ulama dan wali. Apa yang mereka ketahuipun sangat sedikit kalau dibandingkan dengan yang diketahui oleh para nabi. Danapa yang diketahui oleh para nabi juga sangat sedikit apabila dibandingkandengan yang diketahui oleh nabi Muhammad SAW. Apa yang diketahui oleh seluruhnabi sangat sedikit jika dibandingkan dengan yang diketahui oleh para malaikatutama, seperti Israfil, Jibril dan lainnya,.

Sebenarnya objek pemikiran telah ditentukanoleh Allah SWT (sebagai pemilik ilmu pengetahuan). Dan Allah memiliki kuasauntuk menentukan ilmu apa saja yang dapat dipelajari oleh manusia dan ilmu yangtidak dapat diketahui secara langsung seperti ilmu yang bersifat ghaib. Inimenunjukkan bahwa tidak semua ilmu Allah mampu dipikirkan dan dipahami denganakal manusia. Melainkan hanya sebagian kecil dari ilmu Allah saja.

Ada beberapa objek yang boleh dipikirkan olehakal manusia. Di antaranya disebutkan sebanyak 18 kali yang tersebar dalam 13surat dan 18 ayat. Semua ayat yang menggunakan kata fakara (denganberbagai bentuk derivasinya) tersebut adalah dalam upaya memikirkan hal-halyang kongkret sampai hal-hal yang metafisik.

Diantaranya adalah ayat yang menjabarkan tentang aktifitas berpikir tentang kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta alam semesta, berpikir dalam kebenaran nubuwwah dan risalah, berpikir dalam keagungan mukjizat al-Qur’an serta pentingnya memahami makna di balik setiap ayat-ayatnya, memikirkan akibat dari ketidakpedulian terhadap manfaat dari ayat-ayat Allah SWT, memikirkan tentang hakekat hidup di dunia dan kematian dan berpikir tentang upaya mengambil hikmah dari suatu syariat, ini menunjukkan bahwa konsep berpikir memiliki makna relasional (relational concept) dengan konsep dasar lainnya dalam al-Qur’an.

Konsep berpikir dalam al-Qur’an tidak berdiri sendiri. Ia selalu terikat dengan konsep utama lainnya seperti konsep Allah, alam (al-‘alam), dunia (al-dunya), akhirat (al-akhirah), tanda (al-ayah), hati (al-qalb), akal (al-‘aql), hikmah (al-hikmah), kehidupan (al-hayah), dan kematian (al-maut). Jadi, untuk memahami konsep berpikir (tafakkur) dalam al-Qur’an hendaknya tidak memisahkannya dengan medan semantiknya tersebut yang telah diterangkan Allah SWT dalam al-Qur’an (huda).

Maka, tidak berlebihan apabila Ibn al-Qayyimal-Jauziyyah berkesimpulan bahwa kebebasan berpikir berarti menjauhkan diridari sifat taqlid yang mampu mencelakakan dirinya. Artinya seseorangyang membebaskan pikirannya berarti kembali kepada agama Allah SWT. Sebab,dengan mengimani dan melaksanakan segala apa yang disyariatkan oleh Allah SWT (at-ta’abbud)melalui al-Qur’an, secara tidak langsung telah menghindarkan diri darikejumudan berpikir.

Dalam bahasa Inggris, paling tidak, ada duakata yang paling dekat dengan terminologi tafakkur yaitu “meditation(meditasi)” dan “contemplation (kontemplasi)”. Meskipundemikian, kedua kata tersebut belum memberikan makna yang lengkap terhadapistilah tafakkur menurut perspektif Islam. Kedua istilah tersebut (meditationdan contemplation) merupakan sinonim yang memiliki makna berdekatan.Keduanya digunakan untuk menunjuk proses pengolahan rohani.

Akan tetapi, istilah meditasi belumrepresentatif untuk mewakili konsep tafakkur dalam Islam. Artinya,bahasa Inggris tidak mempunyai konsep berpikir yang lebih komprehensifdibandingkan dengan tafakkur. Tafakkur berarti melibatkan pemikiran yangmendalam dalam proses menyembah Allah SWT dengan merenungi hakekat di balikpenciptaan alam semesta ini.

Dalam Islam, tafakkur merupakan bagiandari ibadah kepada Allah SWT, bukan hanya pekerjaan rasio yang tidak berdampakapapun. Hal ini tentu sangat berbeda dengan kedua istilah yang hanya dilakukanuntuk menenangkan jiwa dan pikiran semata. Namun, tidak melibatkan unsurketuhanan di dalamnya.

Dalam al-Qur’an, tafakkur memilikimakna tersirat yang sangat dalam. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagaimacam aspek. Di antaranya, istilah tafakkur seringkali digunakan dalamayat-ayat Makkiyyah. Adapun tafakkur dalam konteks ayat-ayat Makkiyyahberarti anjuran atau isyarat untuk meyakini (iman) bahwa Allah SWTmerupakan Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kata tafakkur juga digunakandalam kurang lebih 4 ayat Madaniyyah yaitu surat al-Baqarah (dua kali), AliImran, dan al-Hasr. Masing-masing ayat menganjurkan manusia untuk menjalankansyariat Islam secara utuh.

Selain itu, tafakkur juga digunakandalam menjelaskan ayat-ayat kauniyyah, khususnya dalam penciptaanmakhluk. Hal tersebut bertujuan untuk memberitahukan kekuasaan Allah SWT yangtidak terbatas. Ada beberapa ayat yang berbicara mengenai penciptaan langit danbumi, gunung-gunung, air hujan yang turun dari langit, dan manfaat madu.

Semua isyarat yang disampaikan melalui objekberpikir tersebut bukan semata-mata untuk diketahui bentuk dan manfaatnya.Lebih dari itu, manusia diperintahkan untuk memikirkan makna yang tersirat darisemua tanda-tanda kebesaran Allah SWT tersebut. Akan tetapi, ada satu hal yangtidak diperintahkan Allah yaitu memikirkan perkara yang ghaib.

Sebab, itu merupakan rahasia Allah yang tidakakan pernah mampu dijangkau oleh daya pikir manusia. Dalam hal ini manusia hanyadiperintahkan untuk mengimani dan membenarkan adanya perkara ghaib saja. Adapunhikmah di balik larangan tersebut ialah lebih dikarenakan kemampuan daya pikirmanusia yang sangat terbatas. Serta untuk menguji kualitas keimanan hamba AllahSWT.

Perintah tafakkur juga seringkalidisandingkan dengan perintah menggunakan panca indra manusia. Misalnya, dalambeberapa ayat menyebutkan pendengaran (sam’) dan penglihatan (bashar).Tentunya hal ini berkaitan erat dengan penciptaan diri manusia itu sendiri.Artinya, tafakkur juga digunakan untuk memikirkan rahasia di balikpenciptaan diri manusia.

Pada hakekatnya, perintah tafakkur diikat dengan perintah menjalankan syariat Islam. Artinya, tafakkur sangat sarat akan nilai-nilai ibadah. Ini menunjukkan bahwa konsep tafakkur merupakan wujud relasi antara manusia dengan Tuhannya. Adanya ketergantungan manusia terhadap ilmu Allah SWT inilah yang menjadi poin utama dalam konsep tafakkur. Maka, untuk mendapatkan ilmu Allah secara benar ialah dengan cara memikirkan kembali segala apa yang telah diisyarakan dalam al-Qur’an.

Muhammad Fathullah Gulen menegaskan, tafakkurhendaknya bersandar pada berbagai informasi pendahuluan. Informasi pendahuluaninilah yang disebut oleh al-Ghazali sebagai mendatangkan dua ilmu untuk mencariilmu ketiga. Dan jika tafakkur tanpa itu, justru akan mengakibatkan tafakkuryang bodoh dan buta karena itu tidak akan menghasilkan apapun.

Gulen menambahkan, informasi tersebut merupakan objek berpikir yang telah disediakan yang positif dalam membaca dan menelaah kitab alam. Adapun kebiasaan yang pertama menurut Gulen ialah tafakkur dalam membaca kitab alam semesta ini. Manusia juga harus membuka hatinya untuk menerima berbagai ilham ilahi, serta akalnya untuk menerima prinsip syariah yang suci dan untuk melihat alam melalui lensa al-Qur’an sebagai kitab alam yang mampu dibaca.

Related Posts

6 comments

Konsep Akal : Dimensi Hati Sebagai Pengikat Ilmu Pengetahuan February 11, 2020 - 9:50 am

[…] mengetahui makna akal, kita dapat menganalisa melalui makna aslinya. Dalam al-Mu’jam al-Wasith, kata akal disebutkan […]

Reply
Memahami Makna Tadabbur dan Ta'aqqul Dalam Konsep Berpikir February 24, 2020 - 5:48 pm

[…] beberapa makna. Secara leksikal kata ta’aqqul berasal dari kata dasar ‘aqala yang memiliki makna berpikir. Kata ‘aqala dalam bentuk kata kerja (fi’l) berarti habasa yang berarti mengikat atau menawan. […]

Reply
Konsep Ilmu Dalam Islam Dan Implikasinya Dalam Kehidupan [part.2] March 19, 2020 - 12:42 pm

[…] konsep dasar tersebut ialah konsep kehidupan, konsep dunia, konsep pengetahuan, konsep nilai dan konsep manusia. Konsep-konsep tersebut dapat digali melalui asas pengetahuan Islam yaitu al-Qur’an serta […]

Reply
Konsep Penciptaan Alam Semesta dan Seisinya Dalam al-Qur'an June 1, 2020 - 6:31 am

[…] ternak yang mampu mengeluarkan susu. Untuk memahami hakekat dari kejadian tersebut sangatlah memerlukan pemikiran (tafakkur) serta perenungan (tadabbur) secara mendalam. Hal tersebut bertujuan untuk mengikat […]

Reply
Konsep Manusia Yang Berpikir Dalam Terminologi al-Qur'an July 2, 2020 - 11:28 am

[…] artinya “inti hati”. Ibn Mandzur mengatakan bahwa Al-Lubbu adalah Al-‘Aql (akal). Menurutnya orang yang berakal disebut dengan al-Labib/Labibun (al-‘aqil atau dzu lubbin). Selain itu dari akar kata yang sama […]

Reply
Konsep Kenabian Dalam Islam November 7, 2020 - 7:20 am

[…] tujuan diperintahkannya memikirkan tentang konsep kenabian Islam dalam ayat ini ialah supaya manusia memahami aqidah para nabi dan rasul secara benar. Aqidah […]

Reply

Leave a Comment