Home Article Makna Terminologi Tadzakkur Sebagai Konsep Berpikir

Makna Terminologi Tadzakkur Sebagai Konsep Berpikir

by Muhammad Ismail
0 comment

Manusia lahir ke dunia dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Tapi manusia dibekali dengan perantara (washilah) untuk mencari ilmu dan ma’rifah yaitu dengan akal (‘aql), pendengaran (sam’), dan penglihatan (bashar). Semua perantara tersebut diberikan kepada manusia dengan tujuan untuk mengetahui kebenaran (haqq) dan menjadikannya dalil atas argumennya dalam berpikir.

Adapun kebenaran yang dipahami dapat berfungsi sebagai alat untuk mengontrol diri supaya tidak terjerumus dalam kesesatan (bathil). Dan untuk mengetahui kebenaran tersebut diperlukan cara berpikir yang benar pula (tafakkur). Apabila cara berpikirnya salah maka objek dan hasil yang dipahaminya pun akan menjadi salah.

Berikut ini akan dibahas mengenai konsep berpikir dalam al-Qur’an sebagai aktifitas yang mampu mengantarkan manusia kepada keimanan dan kesesatan.

Konsep At-Tadzakkur

Tadzakkur merupakan bentuk derivasi dari kata dasar dhakara yang berarti mengingat. Ibn Mandzur berpendapat bahwa Tadzakkur adalah upaya untuk menjaga sesuatu yang pernah ia ingat atau pahami. Sedangkan dhikr berarti segala yang terucap oleh lisan.

Adapun Ar-Raghib al-Ashfahany membagi makna dhikr menjadi dua yaitu Dhikr bi al-Qalb (berpikir dengan hati) dan Dhikr bi al-Lisan (mengingat dengan lisan). Lebih lanjut ia menekankan bahwa masing-masing mengandung makna sebagai proses mengingat kembali tentang apa yang telah terlupa dan mengingat untuk memahami hal yang baru atau ilmu yang baru bagi orang yang berpikir.

Selain itu, Tadzakkur juga memiliki makna leksikal di antaranya ialah darasa (mempelajari) yang memiliki turunan tadarasa yang berarti mempelajari kembali atau mempelajari secara berulang-ulang untuk mengingatnya. Lawan kata dari dhikr adalah nisyan (lupa). Artinya, Tadzakkur berfungsi untuk menjaga ilmu (‘ilm) yang ada supaya terhindar dari penyakit lupa.

Lupa merupakan akibat dari tidak diulangnya atau tidak dipelajarinya kembali ilmu pengetahuan yang pernah diketahui sebelumnya. Sebagaimana Abi Zayd yang menyimpulkan bahwa al-dhikr berarti al-sharaf (kemuliaan). Kata al-dhikr juga digunakan sebagai nama lain dari al-Qur’an al-Karimyaitu sebagai pengingat manusia akan syariat Islam.

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Tadzakkur berarti proses mengulangnya hati terhadap ilmu-ilmu yang telah diketahui sebelumnya dengan tujuan untuk memantapkan pikiran dan pengetahuan yang pernah dipelajari supaya tidak hilang begitu saja. Proses mencari ilmu pengetahuan terkandung dalam istilah tafakkur sedangkan Tadzakkur berfungsi untuk menjaga ilmu yang telah diperoleh manusia.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumi ad-Din bahwa Tadzakkur adalah upaya mencari pengetahuan ketiga (ilmu baru). Namun ketika seseorang hanya berhenti pada proses memahami dua ilmu dalam pikiran maka itulah Tadzakkur sedangkan apabila ia mengolah dua ilmu tersebut menjadi ilmu ketiga maka itulah tafakkur.

Dari argumen al-Ghazali tersebut sangat jelas bahwa aktifitas berpikir dalam konteks Tadzakkur sangat bermanfaat dalam proses mengulang-ulang pengetahuan dalam hati agar pengetahuan itu menancap dan tidak lepas.

Dalam al-Qur’an, konsep dhikr memiliki jaringan konsep (conceptual network) yang saling terkait antara konsep yang satu dengan yang lainnya. Makna konsep tersebut dapat dipahami dari ayat-ayat yang berbicara dalam konteks berpikir (dalam hal ini Tadzakkur).

Dalam al-Qur’an terdapat kurang lebih 256 ayat yang mengandung kata dhikr dengan segala bentuk derivasinya. Pada beberapa ayat tersebut mengandung makna yang berbeda. Akan tetapi, perbedaan makna dalam ayat-ayat tersebut bukan berarti saling bertentangan. Akan tetapi justru maknanya saling menguatkan sehingga membentuk medan makna yang kuat dan rumit untuk dijelaskan secara mendalam.

Beberapa ayat tersebut dapat kita teliti maknanya secara leksikal dan gramatikal. Di antara makna leksikal dari kata dasar dhikr yaitu al-Qur’an, shalat (al-shalah), bertasbih (at-tasbih), do’a (ad-du’a’), dan menjaga (al-hifz). Selain itu, konsep Tadzakkur juga memiliki makna relasional (gramatical semantic) dengan beberapa konsep utama dalam Islam.

Artinya, aktifitas berpikir tidak dapat lepas dari konsep-konsep dasar yang mengikat makna Tadzakkur dalam al-Qur’an. Adapun konsep yang mengikat konsep Tadzakkur di antaranya yaitu konsep Allah dan nama-nama-Nya, al-Qur’an, ayat-ayat Allah, Nikmat, Manusia, Hidayah, Ulu-L-Albab, Takwa, Rasulullah, Qalb, Sharaf, dan Akhirat.

Dari keterikatan jaringan konsep tersebut dapat dipahami bahwa konsep berpikir dalam Islam memiliki makna yang sangat mendalam. Artinya aktifitas berpikir mengandung dua konsekwensi yang saling bertolak-belakang.

Meskipun Allah  menyeru hamba-Nya berulang kali untuk mengambil jalan yang benar dengan menunjukkan kepada manusia tanda-tanda (ayat), namun apabila manusia tidak mampu memahami maknanya seperti orang-orang kafir yang tuli, buta dan tidak memahami, maka ayat atau tanda-tanda tersebut tidak ada gunanya.

Suatu ayat baru akan menunjukkan pengaruh positifnya ketika manusia mampu memahami maknanya secara mendalam. Di sinilah peran sisi kemanusiaan yang sangat penting dalam memahami makna ayat tersebut yaitu berpikir (Tadzakkur).

Aktifitas berpikir merupakan bentuk manifestasi dari fungsi kerja hati. Hati adalah organ yang mampu memahami makna ayat Allah, sehingga apabila organ tersebut terkunci, tertutup dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka manusia tidak akan dapat memahami ayat-ayat yang ada.

Dan ketika qalb tidak berfungsi maka ia akan mendustakan (takdhib) ayat-ayat tersebut. Sehingga konsekwensi dari pendustaan atau pengingkaran ayat tersebut ialah kekufuran (kufr).

Tapi, ketika hati dapat berfungsi secara benar maka hati akan mampu memahami dan membenarkan (tashdiq) konsep nikmat, rahmat, kemurahan Allah, pengampunan Allah, dsb. Dan sebagai konsekwensi bagi orang yang membenarkan (tashdiq) dan memahami makna ayat Allah ialah ketaqwaan (al-taqwa), keimanan (al-Iman) dan rasa syukur (al-syukr). Dengan demikian maka ia akan menghasilkan keimanan kepada Allah SWT.

Jadi, melalui konsep Tadzakkur ini jelas bahwa aktifitas berpikir yang diproses dengan hati secara benar dapat menunjukkan manusia ke jalan kebenaran, begitu pula sebaliknya

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More