Home Artikel Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam dan Barat

Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam dan Barat

by Muhammad Ismail
Pendidikan Akhlak Islam

Pendidikan merupakan diskursus yang penting dalam membangun peradaban. Dalam tradisi keilmuan Islam tidak mengenal istilah “karakter”. Sebab, istilah tersebut merupakan bentuk terminologi yang datang dari peradaban Barat. Islam sebagai agama dan peradaban memiliki konsep tersendiri untuk menyebut tingkah dan perilaku manusia. Adapun istilah yang menunjuk hal tersebut ialah akhlak. Istilah akhlak pada dasarnya tidak dapat disamakan dengan istilah character. Kedua istilah tersebut memiliki makna masing-masing yang berbeda. Karena sumber atau asal-usul kedua terminologi itu pun berbeda.

Menurut Az-Zarnuji pendidikan akhlak adalah upaya menanamkan akhlak mulia serta manjauhkan dari akhlak yang tercela dan mengetahui gerak hati yang dibutuhkan dalam setiap keadaan, ini wajib diketahui seperti tawakkal, al-inabah, taqwa, ridha, dan lain-lain. (Az-Zarnuji, 1367, p.5). Akhlak adalah sifat-sifat manusia untuk bermu’amalah dengan orang lain. (Hamid al-Hazimi, 2000, p.136). Sebagaimana yang disebutkaan Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dinukil dari Al-Qurtubi bahwa akhlak adalah sifat-sifat manusia untuk bermu’amalah dengan orang lain, baik sifat terpuji maupun sifat tercela. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, p.456).

Az-Zarnuji juga berpendapat bahwa ilmu itu memuliakan pemiliknya, karena ilmu adalah perantara kebaikan dan ketaqwaan untuk mengangkat derajat di samping penciptanya dan kebahagiaan yang abadi, ilmu sebagai perantara untuk mengetahui sifat-sifat manusia seperti: takabbur, tawadhu, lemah lembut, ‘iffah, isrof (berlebih-lebihan), bakhil (pelit), jubn (pengecut), maka dengan ilmu tersebut manusia akan bisa membedakan mana yang mulia dan mana yang tercela. (Burhan Az-Zarnuji, p.6).


Kemudian, belajar menurut Az-Zarnuji adalah bernilai ibadah, dan dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan sejalan dengan konsep pemikiran para ahli pendidikan, yaitu menekankan bahwa proses belajar mengajar diharapkan mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada tiga ranah, yang mana menjadi tujuan pendidikan atau pembelajaran, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dan ukhrawi menekankan agar belajar bermanfaat mendapatkan ilmu, hendaknya diniati untuk beribadah. Artinya, belajar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur manusia sebagai seorang hamba kepada Allah SWT. yang telah mengaruniakan akal.

al-Attas mengatakan bahwa orang yang terpelajar adalah orang baik,dan “baik” yang dimaksudkannya di sini adalah adab dalam artian yangmenyeluruh, “yang meliputi kehidupan spiritual dan material seseorang yangberusaha menanamkan kualitas kebaikan yang diterimanya. (Naquib al-Attas, p.1). Oleh karena itulah al-Attas mengatakan bahwa orang yang terpelajaradalah orang yang beradab. Dalam kitabnya Risalah Untuk Kaum Musliminbeliau menulis:

“Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya, yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju ke arah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab“.

Perkataan adab mempunyai arti yang sangat luas dan mendalam. Akantetapi kemudian dia digunakan dalam konteks yang terbatas, seperti untuksesuatu yang merujuk pada kajian kesusastraan dan etika profesional dankemasyarakatan. Al-Attas berpendapat bahwa ide yang dikandung dalam perkataanini sudah diIslamisasikan dari konteks yang dikenal pada masa sebelum Islamdengan cara menambah elemen-elemen spiritual dan intelektual pada dataransemantiknya.

Menurut al-Attas, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadaprealitas bahwasannya ilmu dan segala sesuatu yang ada terdiri dari hirarki yangsesuai dengan kategori-kategori dan tingkatan-tingkatannya, dan bahwa seseorangitu mempunyai tempatnya masing-masing dalam kaitannya dengan realitas tersebutdan dengan kapasitas serta potensi fisik, intelektual dan spiritualnya.

Adpaun yang dimaksud dengan pengenalan dalam definisi di atasadalah mengetahui kembali (re-cognize) perjanjian pertama (primordialcovenant) antara manusia dan tuhan. (QS. Al-A’raf: 172). Pentingnya makna adab yang ditulis di atas dan keterkaitannyadengan pendidikan manusia yang baik akan semakin terasa ketika disadaribahwasannya pengenalan, yang tentunya mencakup ilmu dan pengakuan yang mencakupilmu dan pengakuan yang meliputi tindakan akan tempat sesuatu sangatlahberhubungan dengan kata-kata kunci lainnya dalam pandangan hidup Islam, sepertikebijaksanaan (hikmah) dan keadilan (adl), realitas dan kebenaran(haqq).

Dalam konteks ilmu, maka adab berarti ketertiban budi yang mengenaldan mengakui hirarki ilmu berdasarkan kriteria tentang tingkat-tingkatkeluhuran dan kemuliaan yang memungkinkannya mengenal dan mengakui bahwaseseorang yang pengetahuannya berdasarkan wahyu jauh lebih luhur dan mulia darimereka yang pengetahuannya berdasarkan akal.

Al-Attas telah menolak istilah tarbiyah dan ta’lim untuk memaknai kata “pendidikan”. Beliau menganggap istilah ta’dib lebih sesuai karena beberapa alasan. Di antara alasan al-Attas adalah istilah tarbiyah hanya menyentuh aspek fisikal (jasmani) dalam mengembangkan tanam-tanaman dan hanya terbatas pada aspek fisikal dan emosional dalam pertumbuhanan dan perkembangan binatang dan manusia. Adapun penolakan al-Attas akan istilah ta’lim karena istilah tersebut hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif. Sedangkan istilah ta’dib berbeda dengan kedua istilah tersebut.

Jadi, sudah tentu bahwa ta’dib dapat diaplikasikan dalambentuk pengajaran personal yang diberikan oleh seorang guru (mu’addib)kepada anak raja-raja, sultan, menteri, pemimpin militer, kaum terpelajar ataupun keluarga yang kaya. Bentuk pendidikan dengan konsep ta’dib ini telahdiaplikasikan pada masa dinasti Umayyah sampai dinasti Usmaniyyah, dan telahberhasil memproduksi pemimpin-pemimpin yang bermutu dalam berbagai bidang.

Dengan demikian, untuk menciptakan manusia-manusia yang beradab maka lembaga pendidikan hendaknya mulai memperbaiki konsep pendidikan materialistiknya. Sebagai solusi konsep pendidikan lama maka konsep ta’dib sangatlah cocok untuk dijadikan konsep pengajaran yang komprehensif. (Mohd Nor Wan Daud, p.180). Sebab, dalam konsep tersebut sudah mencakup pendidikan dan pengajaran. Adapun keistimewaan konsep pendidikan berbasis adab adalah lebih mengedepankan nilai-nilai akhlakul karimah sebagai tolak ukur hasil pendidikan.

Related Posts

1 comment

Pendidikan Pesantren Sebagai Solusi Demoralisasi Dalam Pendidikan July 19, 2020 - 6:52 am

[…] ini, muncul paradigma baru dalam dunia pendidikan yaitu urgensi pendidikan karakter. Munculnya gagasan program pendidikan karakter ini berawal dari maraknya fenomena yang terjadi di […]

Reply

Leave a Comment