Home Article Konsep Ilmu Dalam Islam Dan Implikasinya Dalam Kehidupan [part.2]

Konsep Ilmu Dalam Islam Dan Implikasinya Dalam Kehidupan [part.2]

by Muhammad Ismail
1 comment

Konsep ilmu dalam al-Qur’an seringkali berhubungan dengan konsep taqwa. Dalam konteks ini dapat kita lihat surat al-Baqarah : 194 yang menjadikan “orang-orang yang bertakwa (muttaqin)” sebagai objek mengetahui. Namun tidak cukup demikian, Allah SWT pun mempertegas bahwa orang-orang yang bertakwa sesungguhnya hati dan pikirannya selalu ingat kepada Allah. Jadi, manusia yang bertakwa ialah manusia yang selalu ingat Allah. Tentunya, mengingat tidak sekedar ingat, lebih dari itu, mengingat Allah berarti menjalankan syariat Allah serta segala ketetapan yang dimilikinya.

Adapun orang yang paling takut dengan Allah hanyalah orang yang berilmu (‘ulama). Ketakutan ulama kepada Allah SWT berarti takut akan melanggar segala apa yang dilarang-Nya. Untuk itu, tidak semua orang yang cerdas, pandai dan memiliki keilmuan yang banyak bisa disebut ulama. Al-‘Ulama merupakan terminologi khusus yang dapat disematkan kepada mereka yang mengetahui hakekat di balik isi al-Qur’an.

Konsep Kedokteran Islam

Tidak cukup demikian, disebut ulama karena dia memiliki kelebihan dalam ilmu dan amalnya. Selain itu, seorang ulama juga selalu meyakini (iman) bahwa ilmunya merupakan bagian yang sangat kecil dari sifat Allah SWT yaitu al-‘aliim. Jadi ulama ialah orang yang mengintegrasikan antara iman, ilmu dan amal. Dan apabila seseorang belum mengintegrasikan ketiga hal tersebut, maka ia belum sampai pada derajat ulama.

Pada dasarnya, terminologi ‘ilm adalah ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu itu sendiri. Yaitu sesuatu yang diturunkan dari wahyu atau segala yang berkaitan baik langsung atau tidak langsung dengan wahyu. Meskipun, dalam perkembangannya, istilah tersebut digunakan untuk pengertian yang lebih luas yang mencakup tentang pengetahuan manusia. Dan jika ditelusuri lebih mendalam, maka akan didapatkan lima konsep dasar yang menjadi landasan pandangan hidup (worldview) Islam.

Lima konsep dasar tersebut ialah konsep kehidupan, konsep dunia, konsep pengetahuan, konsep nilai dan konsep manusia. Konsep-konsep tersebut dapat digali melalui asas pengetahuan Islam yaitu al-Qur’an serta penjelasan dari para ulama muslim terdahulu. Inilah yang disebut dengan Scientific Conceptual Scheme (Struktur Konseptual Keilmuan) dalam tradisi intelektual Islam. Sebagaimana digambarkan oleh Franz Rosenthal dalam bukunya Knowledge Triumphant, The Concept of Knowledge in Medieval Islam bahwa ilmu adalah salah satu konsep yang mendominasi Islam dan yang memberi bentuk dan karakter yang khas terhadap peradaban muslim. Sebenarnya tidak ada konsep lain yang sebanding dengan konsep ilmu yang secara efektif menjadi faktor atau penentu dalam peradaban muslim dalam berbagai aspek.

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Dari ungkapan Rosenthal tersebut, dapat dipahami bahwa budaya ilmu sangat berdampak pada peradaban Islam. Yang mana, peradaban Islam sejatinya dibangun atas dasar ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Namun, sebagai dampak dari kemunduran umat Islam yang terjadi sejak beberapa abad belakangan ini, sangat mungkin disebabkan oleh kerancuan ilmu (corruption of knowledge) dan lemahnya penguasaan umat terhadap ilmu pengetahuan.

Problem kerancuan ilmu tersebut hanya mampu diselesaikan dengan satu cara yaitu pembenahan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini tentu sangat membutuhkan peran lembaga pendidikan. Karena ilmu sangat erat kaitannya dengan pandangan hidup, maka yang seharusnya menjadi fokus pembenahan ialah penanaman nilai-nilai dasar pandangan hidup Islam ke dalam sistem atau kurikulum pendidikan.

Dalam pandangan alam (worldview) Islam, manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Namun, kedudukan tinggi manusia dapat lebih tinggi bahkan lebih tinggi dari malaikat karena adanya ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dengan ilmu juga, manusia mampu memikul tanggungjawab sebagai khalifah di muka bumi ini. Untuk amanah itulah (khalifah) Islam meletakkan ilmu pengetahuan pada tempat yang tinggi. Senada dengan itu, Majid bin Aziz al-Zindani menulis, ilmu pengetahuan ialah kebijaksanaan. Hal tersebut dapat ditelaah melalui kisah nabi Sulaiman yang lebih memilih kebijaksanaan dari pada kekuasaan dan kekayaan. Maksudnya, nabi Sulaiman lebih memilih ilmu pengetahuan dibandingkan kekuasaan.

Franz Rosenthal dalam bukunya Knowledge Triumphant mendefinisikan pengetahuan (‘ilm) dengan beberapa pengertian. Di antaranya ialah pengetahuan merupakan proses mengetahui suatu objek berpikir atau dengan kata lain pengetahuan ialah kognisi tentang objek yang diketahui sebagaimana keadaan aslinya. Pengetahuan juga dapat diartikan dengan suatu proses “memperoleh” (daraka/idrak), mencari (thalaba/bahasa), penjelasan (bayan), pernyataan (taqrir), dan keputusan (itsbat). Lebih lanjut ia mengajukan definisi lain yang hampir senada juga namun lebih jelas yaitu pengetahuan merupakan suatu bentuk (surah), suatu konsep atau makna, suatu proses pembentukan mental dan imaginasi (tashawwur) atau persepsi dan pengujian mental yang mengarahkan kepada keimanan (iman).

Ilmu Pengetahuan Islam

Pengetahuan manusia sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang Maha Luas. Dalam al-Qur’an, Allah seringkali menggunakan istilah “Tuhan Mengetahui dan manusia tidak mengetahui” sebagai bentuk penegasan bahwa ilmu manusia tidaklah sebanding dengan ilmu Allah SWT. Allah memiliki ilmu yang tidak dimiliki manusia. Seperti pengetahuan tentang ilmu ghaib yang digambarkan dalam ayat berikut:

۞وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩

Artinya:

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (Q.S. Al-An’am : 59)

Selain ayat tersebut kita juga dapat menelaahnya dalam Q.S. Hud : 31-33. Pada dasarnya, ilmu manusia datangnya dari Allah, dan inilah yang menunjukkan bahwa ilmu yang diketahui oleh manusia tidak pernah melebihi ilmu Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah : 140-143. Sama halnya dengan ilmu para malaikat dan para nabi yang sama terbatasnya. Mereka (para malaikat) hanya mengetahui apa yang Allah kehendaki untuk diketahui. Hal ini tersurat dalam Q.S. Al-Baqarah : 32, 30. Maka, tidak ada ilmu pengetahuan yang diketahui oleh makhluk kecuali dengan kehendak Allah.

Al-Qur’an seringkali menjelaskan tentang adanya keterkaitan antara berpikir, pemahaman, ilmu dan iman. Keempat terminologi tersebut disampaikan dengan tata bahasa yang saling melengkapi dari beberapa ayat. Misalnya, Q.S. al-An’am : 97-99 yang menjabarkan sebagai berikut : “Dan kami telah menjelaskan tanda-tanda kepada orang yang mengetahui (ya’lamun) …, kepada orang yang memahami (yafqahun) …, kepada orang yang beriman (yu’minun)”. Selain itu, kita juga dapat menelaah Q.S. al-Jathiyah : 3-6/2-5 yang menjelaskan sebagai berikut: “tanda-tanda untuk orang yang beriman (lil mu’minin) …, tanda-tanda untuk orang yang meyakini (yuqinun) …., bagi kaum yang berakal (ya’qilun) …, dan sesudah Allah dan tanda-Nya, dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman (yu’minun)”.

Menurut al-Farabi, ilmu metafisika adalah ilmu yang paling bermanfaat karena berhubungan dengan Tuhan, kebaikan tertinggi, dan dengan wujud-wujud spiritual yang dekat dengan Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan dicari demi dirinya sendiri karena ia merupakan kebahagiaan hakiki manusia. Adapun ilmu yang kurang bermanfaat ialah ilmu alam. Sebab, ilmu alam pada hakekatnya baik, akan tetapi kebaikan ilmu alam bersifat relatif. Ilmu alam bisa menjadi pendukung kejahatan manusia sehingga nilai kebaikan ilmu tersebut hilang tergantung dengan manusia yang menggunakannya. Berbeda dengan ilmu alam, ilmu matematika yang mengandung bilangan justru lebih berguna. Khususnya sifat dari bilangan-bilangan tersebut. Bagi al-Farabi, bilangan tersebut mengandung unsur perwujudan dari keadilan ilahi.

Adapun al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua yaitu ilmu fardhu ‘ain danilmu fardhu kifayah. Bagi al-Ghazali, ilmu fardh ‘ain merujuk pada kewajiban agama yang mengikat setiap muslim. Dia merujuk pada hal-hal yang merupakan perintah ilahi dan bersifat mengikat bagi komunitas muslim sebagai suatu kesatuan walaupun tidak mesti mengikat setiap anggota komunitas. As-syafi’i, sebagai pelopor ulama’ yang memperkenalkan istilah tersebut mengatakan bahwa ilmu fardh ‘ain bersifat wajib dan apabila tidak dilakukan oleh seorang muslim maka ia akan berdosa.

Adapun maksud dari ilmu fard ‘ain adalah ilmu agama atau syariat Islam yang mana syariat tesebut wajib dilakukan oleh setiap muslim. Sementara ilmu fardh kifayah ialah ilmu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu umum. Dan ketika ilmu umum ini telah dipelajari oleh orang maka kewajiban orang lain menjadi gugur. Lebih tepatnya, ilmu fardh kifayah ini disebut dengan ilmu yang sunnah untuk dipelajari seperti ilmu biologi, kimia, fisika, dsb. 

You may also like

1 comment

Ramadhan : Momentum Perubahan Dan Rekonstruksi Peradaban April 25, 2020 - 8:31 am

[…] mengatakan bahwa konsep ilmu yang dipahami umat Islam saat ini lebih mengedepankan akal dari pada wahyu. Inilah yang menjadi […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More