Home Article Worldview Barat Dan Pengaruhnya Dalam Konsep Efisiensi

Worldview Barat Dan Pengaruhnya Dalam Konsep Efisiensi

by Muhammad Ismail
1 comment

Pandangan alam (worldview) Islam memang tidak selalu sejalan dengan worldview Barat. Hal ini terjadi dalam setiap urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi (meskipun orang Barat tidak memiliki konsep ukhrawi akan tetapi mereka mempermasalahkannya). Salah satu contoh nyata yang seringkali dipermasalahkan oleh orang Barat yaitu mereka tidak bisa menerima akan adanya konsep “najis”.

Bagi mereka, najis adalah sesuatu yang di luar jangkauan pikir manusia, maka tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sama halnya dalam masalah aurat atau masalah ibadah. Sebab, bagaimana mungkin dalam suatu wilayah yang panas, misalnya, masih diwajibkan menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh (bagi wanita). Justu ini akan menyiksa diri sendiri. Ini menurut pandangan orang Barat. Jika dipandang dengan worldview Barat tentu saja akan tidak masuk akal.

Bukan hanya dalam masalah-masalah ibadah. Bahkan konsep-konsep sosial pun berbeda antara worldview Barat dan Islam. Sebagai contoh, konsep efisiensi yang hingga saat ini diajarkan di berbagai lembaga pendidikan adalah berasal dari pandangan alam orang Barat. Definisi efisiensi adalah menggunakan sumber daya (manusia, uang, waktu, alam) seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. (Fuad Mas’ud, dosen fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro dalam makalahnya yang berjudul Efficiency Reconsidered (Efisiensi Ditinjau Kembali).

Bukan hanya dalam masalah-masalah ibadah. Bahkan konsep-konsep sosial pun berbeda antara worldview Barat dan Islam. Sebagai contoh, konsep efisiensi yang hingga saat ini diajarkan di berbagai lembaga pendidikan adalah berasal dari pandangan alam orang Barat. Definisi efisiensi adalah menggunakan sumber daya (manusia, uang, waktu, alam) seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. (Fuad Mas’ud, dosen fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro dalam makalahnya yang berjudul Efficiency Reconsidered (Effisiensi Ditinjau Kembali).

Konsep-Efisiensi-dalam-Islam

Dilihat dari pengertiannya memang ini sangat menguntungkan jika diterapkan dalam dunia bisnis. Maksudnya, dengan memberlakukan konsep efisiensi pedagang bertujuan untuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, dibalik keuntungan tersebut ada efek negatif yang ditimbulkan, yaitu merugikan orang lain dan inilah yang dinafikan oleh orang Barat.

Memang dasarnya konsep Barat selalu ingin menguntungkan diri sendiri. Begitu halnya dengan konsep efisiensi tadi, mereka berdagang demi meraup keuntungan tanpa memperdulikan dampak negatif yang akan dialami oleh orang lain. Pasalnya, pedagang hanya mengeluarkan sedikit modal tapi ingin untung besar, dengan menghalalkan berbagai macam cara. Halal atau haram tidak dijadikan ukuran dalam konsep efisiensi ini. Jadi sah-sah saja pedagang berlaku curang (asal tidak ketahuan orang) demi menghasilkan untung berlipat. Inilah jeleknya konsep Barat. Agama tidak diberi ruang dalam segala kegiatan yang mereka lakukan.

Apa dampak negatif yang terjadi dibalik konsep efesiensi ini?. Secara tidak sadar, apabila konsep efisiensi ini diterapkan dalam amalan-amalan seperti bisnis maka yang terjadi sebenarnya adalah ia sedang mempraktekkan prinsip dikotomi atau prinsip sekularisme Barat. Dalam kasus ini, pedagang sedang berupaya memisahkan dirinya dari agama, yang mana ia tidak lagi mementingkan dampak yang dirasakan oleh orang lain. Ia hanya peduli dengan nasib dirinya sendiri. Meskipun orang lain merugi, ia tetap bangga karena bisa untung besar.

Inilah salah satu kelemahan konsep Barat jika ditinjau dengan worldview Islam. Maka konsep efisiensi sangat tidak tepat jika diprektekkan oleh umat Islam. Umat Islam tetap harus memikirkan keuntungan dan kerugian yang akan ditimbulkan dari perbuatan yang ia lakukan, tidak terkecuali dalam berbisnis sekalipun.

Pebisnis harus berpegang dengan cara pandang Islam, bukan meminjam konsep-konsep Barat demi untuk menjustifikasi keuntungan sepihak. Urusan sosial, bisnis misalnya, tidak bisa dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan (agama). Begitu pula dalam dunia pendidikan atau pun yang lainnya. unsur agama harus selalu dilibatkan dalam setiap aktifitas manusia.

Maka, benar apa yang disampaikan oleh Fuad Mas’ud bahwa konsep Barat tidaklah tepat jika diterapkan dalam kehidupan umat Islam. Sebab, umat Islam memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat sesuatu. Urusan agama dan kepentingan sosial harus selalu diintegrasikan

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More