Home Artikel Konsep Akal : Dimensi Hati Sebagai Pengikat Ilmu Pengetahuan

Konsep Akal : Dimensi Hati Sebagai Pengikat Ilmu Pengetahuan

by Muhammad Ismail
Konsep Akal Dalam Islam

Untuk mengetahui makna akal, kita dapat menganalisa melalui makna aslinya. Dalam al-Mu’jam al-Wasith, kata akal disebutkan dengan istilah al-‘Aql. Kata tersebut merupakan salah satu bentuk derivasi dari akar kata “aqala’ yang berarti “memikirkan hakekat di balik suatu kejadian” atau rabatha (mengikat).

Dalam tradisi Arab Jahiliyyah, kata aqala seringkali digunakan untuk menunjuk suatu “pengikat unta” (‘aql al-ibil). Selain itu, kata ‘aqljuga memiliki makna al-karam (kemuliaan), maksudnya adalah orang yangmenggunakan akalnya sesuai petunjuk Allah SWT dapat disebut sebagai orang yang berakal (‘aqil) dan ketikaia istiqamah dengan hasil pemikirannya yang benar maka ia menjadi muliadengan hakekat-hakekat yang diketahuinya tersebut.

Dari akar kata yang sama (aqala) juga didapatkan turunan lainnya. Misalnyadalam bentuk kata kerja yaitu ta’aqqul (berpikir). Ta’aqqulberarti habasa (mengikat) atau menahan atau mencegah. Istilahtersebut juga dapat diartikan dengan tafakkur (berpikir), dan pemahaman (tafaqquh).

Dengan berpikir inilah manusia hendaknya mampumembedakan antara khair (baik) dan syarr (buruk), haqq (benar) dan bathil (salah). Dalam dunia kedokteran, kata al-‘aqul(satu akar dengan aql) digunakan untuk menunjuk “obat penahan sakit perut”. Menurut Sibawaih (ulama Nahwu),akal merupakan sifat hati.

Kata al-‘aql di dalam al-Qur’andisebutkan sebanyak 49 kali. Dalam bahasa Arab, makna dasar dari kata ‘aqladalah al-imsak (menahan). Disebut demikian karena akal mampu menahanmanusia yang menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang tidak benar.

Manusia yang mampu menggunakan akalnya secarabenar akan memperoleh ilmu pengetahuan yang benar pula. Oleh sebab itu dalam al-Qur’andisebutkan bahwa manusia yang ‘alim adalah mereka yang mampumengoptimalkan akalnya dalam memahami sesuatu.

Akal merupakan kemampuan yang diberikan oleh AllahSWT untuk memahami suatu ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi manusia. Adapunakal terbagi menjadi dua kategori yaitu akal yang bersifat naluriah yang suci (fithrah),dan akal yang diperoleh melalui pencarian ilmu (muktasab).

Akal muktasab juga terbagi ke dalam duakategori yaitu baik dari upaya pencarian, percobaan, analisa, denganmengandalkan pengetahuan duniawi, dan juga akal yang didapatkan dari ilmuakhirat atau bersifat ilhamy.

Akal merupakan dimensi hati yang menjadisarana untuk mengikat ilmu, tanpa akal maka manusia akan menjadi lemah dantidak mengetahui hakekat ilmu Allah SWT. Al-Maidani mengatakan bahwa ad-Dimagh(otak) terletak pada organ kepala manusia, dan otak adalah tempat untukberpikir.

Dan ketika manusia menggunakan akal makamanusia akan melakukan beberapa proses berpikir yaitu at-tafakkur,at-tafaqquh, at-tadzakkur, dan at-tadabbur. Proses yang melibatkankonsep dasar berpikir inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kemampuuanmemperoleh ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an seringkali menggunakan istilah “la’allakumta’qilun” dalam memberikan isyarat kepada manusia untuk mempergunakanakalnya dengan benar. Lafadz “la’allakum” berarti suatu harapan (raja’).Allah SWT seringkali menjelaskan ayat kauniyyah agar manusia memikirkanhakekat dibalik penciptaan untuk mencapai kepada tingkat ketaqwaan yangsesungguhnya.

Adapun menurut al-Qur’an,organ manusia yang berpikir ialah hati (al-qalb). Memang posisi akaldalam hal ini tidak dapat diindra sebagaimana posisi mata dalam diri manusia.Akan tetapi,  posisi akal dalam hatidapat dianalogikan sebagaimana posisi jiwa (al-nafs) dalam tubuhmanusia. Antara keduanya menjadi kesatuan yang saling melengkapi. Antara hatidan akal tidak dapat dipisahkan begitu saja sebab keduanya bukanlah materisebagaimana tangan kanan dan kiri yang jelas posisinya.

Ketika berbicara tentang akal maka secaratidak langsung juga menyinggung hati sebagai organ yang berpikir. Penjelasan lebih detailnya dapat kita pelajari lebih lanjut melaluikarya-karya Imam al-Ghazali, Hakim at-Tirmidzi, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah danIbn Rusyd.

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkanoleh Abu Hurairah bahwa akal merupakan ciptaan Allah yang paling baik danpaling mulia.. Sebab, pada akal inilah Allah memberikan cahaya-Nya untukmenuntun manusia ke jalan yang lebih baik.

عنأبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لما خلق الله تعالى العقلقال له: قم، فقام ثم قال له: أدبر، فأدبر، ثم قال له: أقبل فأقبل، ثم قال له : أقعد،فقعد. فقال الله تعالى : ما خلقت خلقا خيرا منك، ولا أكرم منك، ولا أفضل منك، ولا أحسنمنك، بِكَ آخُذُ،وَبِكَ أُعْطِي، وَبِكَ أُعِزُّ، وَبِكَ أُعْرَفُ، وَإِيَّاكَ أُعَاتِبُ، بِكَ الثَّوَابُ،وَعَلَيْكَ الْعِقَابُ (أخرجه الطبراني(

Terjemahan bebasnya yaitu ketika Allahmenciptakan akal dan Allah menyuruhnya untuk berdiri maka akal akan berdiri,Allah menyuruh berpikir maka akal akan berpikir, Allah menyuruh untuk duduk dantunduk maka akal pun melakukannya.

Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhlukyang lebih baik dari akal, dan tidak lebih mulia dari akal, tidak lebih utamadari akal, berdasarkan akal inilah Allah memberi, memuliakan, memberikanbalasan, atas dasar akal juga manusia dapat mengetahui Allah SWT, dan karenaakal jugalah manusia akan diberi hukuman atas segala yang diperbuat.

Dalam bahasa Inggris, akal (reason) seringkali diartikan dengan “thepower of the mind to think, understand.” atau kemampuan otak untukberpikir. Dalam perspektif ini terlihat perbedaan secara konseptual. Berbeda dengan bahasa al-Qur’an yangmendefiniskan akal sebagai kemampuan hati untuk berpikir. Atas dasar inilah al-Qur’anmenggunakan terminologi “qulubun ya’qilun biha dan bukan “dimaghun ya’qilu”.

Perbedaan tersebut tentu tidak dapat dianggapsebagai hal yang sepele, sebab antara hati (qalb) dan otak (mind)memang sangat berbeda secara esensinya. Orangyang hatinya mati, dalam al-Qur’an disebut dengan “kafir”, sedangkanorang yang otaknya tidak berfungsi secara baik biasa disebut dengan istilah“orang gila”. Dan tidak semua orang kafir bisa disebut “orang gila”. Inimenunjukkan bahwa secara gramatikal ketika kedua istilah tersebut digunakanbaru akan terlihat perbedaannya.

Secara epistemologi terdapatperbedaan mendasar antara carapandang Barat dan Islam dalam memahami konsep akal. Filsafat Barat memahamiakal setidaknya dengan dua istilah, yaitu intellect (intelek/kecerdasan)dan reason (rasio/akal). Mereka mengklasifikasikan intelek (intelectus)sebagai alat yang berfungsi untuk merenungkan hakekat ruhaniah, dan rasio (ratio)untuk memahami serta menguasai alam dhahir. Terminologi rasioberhubungan dengan istilah kognisi (fungsi akal). Dalam pemikiran Barat, yangterlihat dari diri manusia hanyalah rasio.

Pemikiran yang demikian dapat kita lihat dariperspektif kaum modernis yang memandang rasio sebagai alat yang sangat vital,sentral, dominan, serta paling utama dalam membentuk wajah peradaban manusia.Dengan perspektif tersebut mereka telah mewarnai agama Kristen denganmemisahkan kepercayaannya pada ilmu dan keyakinan terhadap tuhan. PemahamanBarat seperti ini pada perkembangannya telah berhasil menciptakan berbagaimacam paham yang sangat berbahaya seperti sekularisme, dualisme, humanisme, liberalisme,dan lain sebagainya yang semuanya melandaskan pemikirannya kepada pahamrasionalisme.

Sedangkan dalam Islam, sebagaimana diungkapkanoleh Imam al-Ghazali bahwa antara akal (al-‘aql) dan hati (al-qalb)tidak dapat dipisahkan. Sebab substansi antara keduanya sama halnya substansikonsep an-nafs dan ar-ruh yang mana keduanya menunjuk hal yangsatu yaitu jiwa. Adapun perbedaan yang terdapat antara konsep-konsep tersebutterletak pada posisi serta fungsi dari setiap esensi (jauhar)masing-masing.

Sedangkan akal dan hati memiliki kemampuanuntuk membentuk karakteristik pada jiwa manusia serta semua perilakunya. Halsenada juga disampaikan oleh Baharuddin bahwa Al-Aql dan al-Qalb merupakan dua unsur yangmenentukan kadar dan nilai kejiwaan manusia, sebagai karakteristik manusia danmemberikan ciri khas dalam dimensi nafs. Mungkin atas dasar kajiankonseptualnya inilah al-Ghazali sampai pada kesimpulan bahwa manusia terdiridari dua elemen dasar yaitu jasmani (substansi material) dan rohani (substansiimmaterial).

Lebih lanjut, dalam kitabnya Kimya’as-Sa’adah, al-Ghazali mendeskripsikan jiwa manusia. Menurutnya, tubuhmanusia layaknya sebuah kota, dan hati (Qalb) sebagai rajanya, badan (Jism)adalah daerah kekuasaannya, akal (‘Aql) sebagai perdana menteri, syahwatbagaikan gubernur wilayah daerah tersebut, amarah adalah musuh, dan anggotabadan (jawarih) sebagai tentara kerajaan.

Dalam suatu sistem pemerintahan, seorang rajamemiliki kewajiban dalam mengatur masyarakatnya serta menjalin kerjasama yangharmonis dengan perdana menterinya. Sebab, perdana menteri memiliki kemampuandaya nalar berpikir yang berguna untuk menjaga keadaan negara yang aman.Terutama dalam mengontrol kerja gubernur dan mengawasi para musuhnya.

Apabila kerja organ tubuh (jasmani dan rohani)manusia itu sesuai dengan apa yang telah digambarkan oleh Imam al-Ghazali makabisa dipastikan jiwa seseorang tersebut akan baik dan begitu pula sebaliknya.Artinya, untuk menciptakan kondisi yang baik (khair) dalam diri manusiadibutuhkan integrasi atau kerjasama antar semua unsur tubuh baik yang terlihatmaupun yang tidak terlihat. Dan kondisi tubuh yang baik tersebut hanya akantercipta apabila hati (qalb) seseorang itu mampu bekerja sesuaifungsinya yaitu untuk membedakan baik dan buruk

Lebih terperinci lagi al-Ghazali membedakanantara substansi dan daya yang ada dalam diri manusia. Baginya, akal merupakansubstansi sedangkan daya dibagi menjadi dua bagian yaitu daya bathini(internal) dan daya dzahiri yang meliputi seluruh anggota badan(eksternal). Akal berfungsi untuk menggerakkan daya tangkap dari dalam (batin)sebagaimana daya imajinasi (mutakhayyilat), pengingat (dzakirat),estimasi (wahmiyat), representasi (khayaliyyat), dan indrabersama (al-hiss al-musytarak) yang mana semua fungsi tersebut terdapatdalam organ tubuh manusia yang disebut dengan rongga otak manusia.

Akal merupakan dimensi jiwa manusia yangtergolong unik. Akal manusia terletak pada dimensi psikis manusia dari aspeknafsiah yang berada di antara dua dimensi lainnya yang saling berbeda danberlawanan, yaitu berada di antara dimensi al-nafs dan dimensi al-qalb.Akal menjadi penengah kepentingan kedua dimensi yang berbeda tersebut.

Adapun dimensi al-nafs memiliki kecenderungan kepada sifat kebinatanganan, sedangkan dimensi al-qalb memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita rasa. Dengan adanya posisi yang demikianlah konsep akal menjadi penghubung antara kedua dimensi tersebut. Dimensi ini berperan penting sebagai pikiran manusia.

Berdasarkan kemampuannya, akal memilikibeberapa karakter. Akal dapat disebut dengan istilah al-hujjah, karenaakal mampu memperoleh bukti-bukti dengan argumentasi logis dan mampu melahirkankonsep-konsep dengan cara mengaktualisasikan hal-hal yang abstrak.

Konsep akal juga disebut dengan al-hijr. karena akal mampu menahan diri dari hal-hal yang dilarang dan menolak hal-hal yang tidak logis. Selain itu, akal juga disebut dengan al-nuha, karena akal menjadi puncak kemampuan manusia di bidang kecerdasan, pengetahuan, penalaran, dan lain-lain.

Apabila akal beraktifitas sebagaimana adanya,tanpa melibatkan daya qalb, maka ia hanya berpikir secara rasional tanpadisertai dengan berdzikir atau perbuatan spiritual lainnya. Berdasarkan objekberpikir, akal dapat dibedakan menjadi dua yaitu akal jasmani dan akal rohani.

Konsep akal jasmani yaitu akal yang terdapat di kepala atau yang lazim disebut dengan otak (ad-dimagh). Adapun objek pemikirannya yaitu hal-hal yang bersifat sensoris dan empiris. Sedangkal akal rohani berfungsi untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak, akal ini hanya bisa dirasakan tapi tidak dapat dilihat cara kerjanya. Ruang lingkupnya ialah ranah metafisika, seperti memahami proses penciptaan langit dan bumi. Hal ini dapat kita telaah melalui surat Ali Imran : 190-191 berikut ini:

إِنَّفِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِيالألْبَابِ * الَّذِينَيَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِيخَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَاعَذَابَ النَّارِ

Artinya :

Sesungguhnyadalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siangterdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yangmengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring danmereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “YaTuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau,Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran : 190-191)

Kajian tentang posisi akal memang selalumenarik untuk dikaji. Seorang pakar Fisiologi yang bernama Wilder Benvieldmencoba untuk meneliti dan ingin membuktikan aktivitas akal secara empirisbahwa kerja akal berjalan di rongga otak manusia. Ia melakukan penelitiantersebut kurang lebih dari tahun 1930 hingga 1975. Akan tetapi penelitiantersebut berakhir pada kesimpulan bahwa kerja akal tidak terletak di dalamrongga otak.

Penemuan tersebut telah diungkap secara jelas dalam bukunya yang berjudul The Mystery of Mind. Adapun kesimpulan akhir yang digagas oleh Wilder Benvield bahwa konsep akal bukan otak sebagaimana dipahami oleh masyarakat umum selama ini. Namun akal merupakan sifat yang mampu mengawasi dan mengarahkan dalam waktu yang bersamaan. Kesimpulan ini senada dengan apa yang telah diungkapkan oleh Hakim Tirmidzi bahwa akal merupakan sifat hati.

Namun, terlepas dari perbedaan pendapat mengenai posisi akal (antara di dalam organ hati atau dalam otak) pada hakekatnya yang terpenting daripada itu semua yaitu pemahaman yang benar terhadap konsep akal beserta fungsinya dalam upaya membedakan antara yang baik dan buruk. Serta mengetahui hakekat akal dan menggunakannya sesuai dengan ajaran Allah SWT.

Dalam aspek lain, konsep akal berkaitan eratdengan konsep ilmu (al-‘Ilm). Al-Ashfahany mengungkapkan bahwa akalmerupakan daya atau kekuatan yang berfungsi untuk menerima dan mengikat ilmu.Atas dasar itulah orang yang mampu menggunakan fungsi akalnya dengan benardisebut juga dengan alim (al-‘alim). Sebagaimana digambarkan dalam suratal-Ankabut : 43 bahwa orang yang alim ialah manusia yang mampu mengambilmanfaat dari perumpamaan yang telah disampaikan Allah SWT.

وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَاإِلا الْعَالِمُونَ

Artinya:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yangmemahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Q.S. Al-Ankabut : 43)

Mengenai ayat di atas At-Thabari menafsirkan, ungkapan al-‘alimun menujuk pada mereka yang mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dengan penuhkeimanan kepada-Nya. Artinya, konsep berpikir atau konsep akal sangat berkaitandengan konsep iman. Sebab tujuan diberikannya tanda-tanda kekuasaan Allah SWTialah untuk menunjukkan kebenaran agama Allah supaya manusia beriman denganpengetahuan yang telah dimilikinya tersebut.

Hal yang sama juga diungkapkan dalam al-Mu’jam al-Muhith bahwa akal adalah ilmu. Akan tetapi ungkapan tersebut digunakan sebagai majaz untuk menunjuk konsep akal sebagai sumber dan pengikat ilmu atau hasil yang didapatkan dari aktifitas menggunakan akal.

Abd. Ar-Rahman Hasan dalam karyanya Al-Akhlak Al-Islamiyyah wa Asasuha menjabarkan proses berpikir manusia. Menurutnya, proses berpikir berawal dari proses mengikat makna suatu pengetahuan, proses ini terdapat dalam konsep akal atau disebut juga dengan ta’aqqul yaitu proses mengikat makna suatu pengetahuan. Setelah seseorang mengikat pengetahuan maka ia dapat dikatakan sebagai orang yang  mengetahui (al-‘alim) suatu objek atau tanda-tanda (ayat), esensi ini terkandung dalam konsep ilmu (al’-ilm).

Akan tetapi tidak cukup sampai di situ.Aktifitas berpikir manusia harus bersifat terus-menerus. Dan setelah seseorangmengetahui suatu tanda (ayat) maka ia selanjutnya harus memikirkanhakekat yang terkandung di balik tanda tersebut, proses ini disebut dengan tafakkur.Dan ketika seseorang telah mendapatkan pelajaran dari aktifitas berpikirtersebut maka yang harus dilakukan ialah memahaminya secara benar dan mendalam,proses memahami hasil (natijah) proses berpikir itu disebut dengan tafaqquh.

Setelah seseorang memahami suatu ilmu makayang harus dilakukan selanjutnya ialah mengingat apa yang telah ia pahami darihakekat tersebut. Proses seperti ini disebut dengan tadzakkur. Danketika manusia selalu mengingat ilmu yang telah ia pahami maka upaya terakhiryang seharusnya dilakukan oleh orang yang berpikir ialah tadabbur ataumelihat kembali hakekat dari suatu peristiwa atau ilmu yang telah dipelajarisebelumnya.

Untuk memahami konsep berpikir secara mendalam tentu saja tidak sesederhana gambaran di atas. Akan tetapi perlu dipahami bahwa setiap istilah-istilah kunci dalam proses berpikir tersebut masih membutuhkan penjabaran secara mendetail lagi. Dan untuk memahami hakekat istilah kunci yang menunjuk proses berpikir yaitu tafakkur, tadzakkur, tadabbur, dan ta’aqqul akan dibahas pada bab selanjutnya.

Related Posts

2 comments

Konsep Ilmu Dalam Islam Dan Implikasinya Terhadap Kehidupan [part.1] – Muhammad Ismail | Educator, Author & Blogger March 4, 2020 - 7:36 am

[…] untuk menjelaskan suatu gejala menurut sebab-akibat (causality). Hal ini tentu sangat berbeda dari hakekat konsep ilmu dalam perspektif […]

Reply
Konsep Ilmu Dalam Islam Dan Implikasinya Dalam Kehidupan [part.2] – Muhammad Ismail | Educator, Author & Blogger March 10, 2020 - 6:58 am

[…] dasarnya, terminologi ‘ilm adalah ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu itu sendiri. Yaitu sesuatu yang diturunkan dari wahyu atau segala yang […]

Reply

Leave a Comment