Home Article Hubungan Sains dan Agama Dalam Peradaban Islam

Hubungan Sains dan Agama Dalam Peradaban Islam

by Muhammad Ismail
1 comment

Dalam pembahasa kali ini penulis ingin menegaskan bahwa sains dalam pandangan Barat tidak sama dengan konsep ilmu dalam perspektif Islam. Sains (dalam pengertian Barat) hanyalah bagian kecil dari tatanan ilmu dalam Islam yang sangat luas.

Dengan demikian, maka tidak bisa disamakan antara konsep sains Barat dengan konsep ilmu dalam Islam. Sebagaimana yang digagas oleh Naquib al-Attas, ilmu adalah satu dari sifat-sifat Allah SWT dan anugerah kepada makhluk-Nya. Oleh sebab itu, ilmu adalah kebenaran, yang mempunyai nilai baik. Dari sudut pandang ini, ilmu tidak lagi harus di-Islamisasi.

Dalam perspektif Islam, ilmu itu tidak netral atau bebas nilai. Menurut Wan Daud, Allah SWT menganugerahkan “ilmu” kepada seseorang maka sudah barang tentu ilmu itu benar. Namun, seseorang itu akan meletakkan kebenaran itu dalam pandangan alamnya (worldview) dengan menafsirkan dan menguraikannya.

Proses penafsiran dan penguraian kebenaran ini sangat tergantung pada worldview dan juga akhlaknya. Apabila dia seorang yang ikhlas dan berani maka dia akan menyatakan “kebenaran” yang dimilikinya, jika tidak maka ia akan menutupnya atau akan menyatakan sebaliknya, bahkan membubuhinya dengan kebatilan.

Sejarah hubungan sains dan agama, khususnya agama Islam sangat berbeda dengan apa yang telah terjadi di belahan Barat. Sains dan Islam tidak pernah bertentangan, begitu pula dengan saintis muslim maupun agamawan muslim. Kedua objek ilmu tersebut selalu bersanding satu sama lain dan tidak ada ketegangan antara keduanya. Masing-masing saling mendukung dan selalu berinteraksi.

Dalam sains Islam, paradigma epistemologis dan paradigma aksiologis tidak dapat dipisahkan dari paradigma ontologis. Paradigma ontologisme sains Islami juga bersifat integralistik. Sains Islami melihat materi sebagai ciptaan Allah. Di samping itu, sains adalah hasil dari proses-proses energetik yang merupakan af’alullah atau sunnatullah. Dengan demikian, paradigma ontologis tidak bisa dipisahkan dari teologi Islam.

Integrasi Sains dan Agama Perspektif Islam

Para sarjana muslim menekankan bahwa motivasi di balik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Allah SWT di alam semesta. Dalam pandangan mereka, tiap-tiap bidang ilmu ini menunjukkan satu dimensi ciptaan Tuhan, dan ilmu-ilmu tersebut memiliki kesatuan organis. Dengan demikian, para sarjana Muslim tidak memisahkan kajian tentang alam dari pandangan dunia mereka yang religius. Cara memandang obyek ilmu hendaknya demikian. Dengan tetap berpijak pada petunjuk-petunjuk dari Allah SWT (al-Qur’an) manusia akan mampu menemukan hasil kajian yang mendukung kebenaran ilmu dalam Islam.

Dengan demkian, apabila seorang ilmuwan mengkaji alam dengan iman kepada Allah SWT, maka imannya akan diperkuat oleh kegiatan dan temuan-temuan ilmiahnya. Jika tidak demikian, maka kajian tentang alam tidak akan mampu membawa ilmuwan tersebut kepada kesadaran akan adanya Allah SWT. Jadi, penelaahan terhadap kealaman akan dapat membawa orang kepada hakikat Allah SWT jika kerangka kerja metafisiknya bersesuaian.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sains sangat membutuhkan agama dan agama pun perlu memperhatikan perkembangan sains. Masalah otoritas penemu kebenaran yang diperebutkan antara kedua pihak sudah seharusnya dihentikan. Sebab, penulis memandang bahwa kebenaran yang ditemukan sains dan agama memiliki lingkup yang berbeda. Kebenaran sains lebih bersifat eksperimensial, praktis dan kadang bersifat organisasional, sedangkan kebenaran agama bersifat doktrinal dan ritual. Dari segi kepentingan saja sudah berbeda tentunya kebenaran atau hasil pengkajiannya pun pasti berbeda.

Sebagai catatan akhir, penulis ingin mempertegas bahwa hubungan yang kurang serasi itu hanya terjadi dalam sejarah keilmuan di Barat. Tidak demikian dalam dunia Islam. Ilmuwan muslim selalu mengutamakan petunjuk-petunjuk Allah SWT. Mereka menggunakan al-Qur’an sebagai cara pandang menganalisa ilmu-ilmu Allah SWT yang ada di bumi.

Tujuan ilmuwan muslim pun bukan untuk membanding-bandingkan hasil penemuan kebenaran sebagaimana yang dilakukan saintis Barat. Justru dengan penemuannya itulah mereka berupaya membangun peradaban Islam yang lebih maju lagi. Cara pandang ilmuwan muslim inilah yang harus kita lanjutkan hingga kegemilangan peradaban Islam dapat terwujud kembali. Dengan demikian hubungan sains dan agama di Islam sangatlah harmonis dan tidak ada pertentangan sedikitpun.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More