Home Learning Hubungan Sains dan Agama Perspektif Ian G. Barbour

Hubungan Sains dan Agama Perspektif Ian G. Barbour

by Muhammad Ismail
0 comment

Pengkajian mengenai hubungan sains dan agama seakan tidak pernah usai. Sains dan agama selalu bersitegang demi memperebutkan suatu prediket yaitu “penemu kebenaran”. Keduanya saling menuding, sainstis menganggap agamawan terlalu menutup diri terhadap temuan-temuan sains, begitu pula sebaliknya. Saintis terlalu percaya diri menganggap bahwa kubu mereka sajalah yang mampu menemukan kebenaran ilmiah dan tidak demikian para agamawan. Ketegangan tersebut selalu terjadi antara saintis dan agamawan Barat. Ketegangan hubungan ini digambarkan dengan apik dalam sebuah karya film yaitu “Angel and Daemon”. Dalam film tersebut dipaparkan bahwa para saintis Barat tidak butuh agama dan agamawan tidak perlu sains, yang terjadi akhirnya adalah pertumpahan darah antara keduanya.

Namun, tidak demikian dalam Islam. Islam meletakkan ilmu sebagai prasyarat utama dalam memperoleh kebenaran. Untuk itu, bukanlah hal yang berlebihan apabila kemunduran peradaban Islam saat ini salah satu sebabnya adalah krisis ilmu dalam pemeluk Islam. Maka, apabila kita ingin menegakkan kembali peradaban Islam yang sempat berjaya dulu, dibutuhkan pemikiran keras dan kerja keras untuk menyusun kembali pondasi serta bangunan-bangunan keIslaman. Yang dimaksud bangunan di sini bukanlah saranan prasarana yang berbentuk fisik semata. Akan tetapi, membangun kembali pola pikir umat Islam yang sejalan dengan petunjuk Allah SWT. Makalah ini akan mencoba menghadirkan kritik atas hubungan antara sains dan agama perspektif Ian G. Barbour

Biografi Ian G. Barbour

Barbour lahir di Beijing Cina. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari seorang ibu asal Episkopal Amerika dan ayahnya dari ayah Presbyterian. Ia menghabiskan masa kecilnya di Cina, Amerika Serikat, dan Inggris. Ia menerima gelar B.Sc. (Bachelor of Science) dalam bidang fisika dari Swarthmore College, Gelar M.Sc. pada tahun 1946, dan Ph.D. dalam fisika dari University of Chicago pada tahun 1950.  Ia memperoleh B.Div. pada tahun 1956 dari Yale Divinity School University. Barbour mengajar selama bertahun-tahun di Universitas Carleton dengan menjabat sebagai profesor agama di Winifred. Selain itu, ia juga menjadi professor di bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Masyarakat. Dia telah memegang kehormatan emeritus ada sejak 1986. Barbour memberikan ceramah Gifford sejak 1989 – 1991 di Universitas Aberdeen. Kuliah ini membuat Barbour menuliskan sebuah buku yaitu Religion in an Age of Science.

Dia mendapatkan penghargaan Templeton pada tahun 1999 atas kemajuannya dalam Agama sebagai pengakuan atas usahanya untuk menciptakan dialog antara dunia ilmu pengetahuan dan agama. Dalam usahanya untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dan agama dalam isu Sains dan Agama, Barbour menciptakan istilah “critical realism”. Ini telah diadopsi oleh para sarjana lainnya. Dia mengklaim struktur dasar dari agama adalah sama dengan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal, tetapi juga berbeda pada beberapa poin penting. Selama tahun 1970-an Barbour menyelesaikan sebuah program kursus interdisipliner yang berurusan dengan isu-isu etis dalam aplikasi ilmu pengetahuan, menjelajahi konsekuensi sosial dan lingkungan dari berbagai teknologi. Dalam When Science Meets Religion (2000), ia menggunakan tipologi empat hal (Konflik, Independence, Dialog, Integrasi) untuk menghubungkan agama dan ilmu yang telah dikembangkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Dalam karya-karyanya., Barbour menulis karyanya dalam perspektif seorang Kristen.

Barbour membandingkan metode penyelidikan dalam ilmu pengetahuan dan agama, dan telah menyelidiki implikasi teologis dari teori Big Bang, fisika kuantum, biologi evolusi dan genetika. Dia juga telah memberikan kuliah secara luas pada isu-isu etika dalam bidang-bidang seperti kebijakan teknologi, energi, pertanian, komputer, dan kloning. Forrest Clingerman mengikat Barbour dengan gerakan Naturalisme Agama melalui teologi alam. Pendekatan subyektif/obyektif untuk agama yang menonjol dalam paradigma pun akhirnya berkembang.

Sebagai pelopor terkenal di bidang Sains dan Agama, Barbour dinobatkan sebagai sarjana interdisipliner melalui bukunya yang berpengaruh yaitu  Issues In Science And Religion, buku tersebut pertama kali diterbitkan pada tahun 1965. Sejak saat itu ia telah menulis banyak buku. Misalnya, bukunya yang berjudul Myths, Models And Paradigms menjadi rujukan untuk orang-orang yang ingin mempelajari metodologi dan pendekatan dari para ilmuwan dan cendekiawan agama. Barbour juga menerbitkan buku Religion In An Age Of Science dan Ethics In An Age Of Technology . Dalam beberapa tahun terakhir, bukunya berjudul  Religion And Science: Historical And Contemporary Issues digunakan sebagai buku teks. Buku Barbour terbaru yaitu When Science Meets Religion: EnemiesStrangers Or Partners?.

Ian G. Barbour adalah salah satu tokoh pengkaji hubungan sains dan agama. Ia memetakan hubungan keduanya dengan membuka kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan tentang hubungan sains dan agama, dia juga berusaha menunjukkan keberagaman posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama terhadap disiplin-disiplin ilmiah tertentu. Tipologi ini terdiri dari empat macam pandangan, yaitu : Konflik, Independensi, Dialog dan Integrasi. Berikut ini adalah penjelasan dari tipologi hubungan sains dan agama menurut Ian G. Barbour :

Konflik

Pandangan ini muncul dan berkembang pada abad ke 19 melalui dua buku berpengaruh yaitu History of the Conflict Between Religion and Science karya J.W. Draper dan History of Warfare of Science With Theology in Chistendom karya A.D. White. Pandangan ini menempatkan sains dan agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Sains dan Agama dianggap telah memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu di antara keduanya. Mereka saling menganggap bahwa sains dan agama tidak akan pernah bisa akur (bersatu). Menurut mereka, agama jelas-jelas tidak dapat membuktikan kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas, sedangkan sains dapat melakukan itu.

Pertentangan ini muncul disebabkan oleh sikap radikal kaum agamawan Kristen yang hanya mengakui kebenaran dan kesucian kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, sehingga siapa saja yang mengingkarinya dianggap kafir dan berhak mendapatkan hukuman. Di pihak lain, para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang hasilnya bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh pihak gereja (kaum agamawan). Akhirnya, tidak sedikit ilmuwan yang menjadi korban oleh penindasan dan kekejaman dari pihak gereja disebabkan berbagai macam hasil penemuan mereka.

Adapun contoh kasus mengenai hubungan konflik antara sains dan agama dapat kita tinjau dari hukuman mati yang diberikan gereja Katolik kepada Galileo (tahun 1633) mengenai bumi dan planet-planet yang mengelilingi matahari, yang mana temuan Galileo dianggap bertentangan dengan otoritas gereja.

Mengenai hal ini, Barbour berpendapat bahwa mereka keliru apabila melanggengkan dilema tentang kelurusan memilih antara sains dan agama. Sains dapat memurnikan agama dari kekeliruan dan klenik, sedangkan agama dapat memurnikan sains dari keberhalaan dan keyakinan mutlak yang keliru. Dengan kedua bidang inilah (sains dan agama) kita bisa mendapatkan pandangan yang lebih luas dalam membangun keilmuan masa dewasa ini.

Penulis memiliki kesimpulan sementara bahwa konflik antara sains dan agama yang terjadi di dunia Barat sejak abad lalu adalah hasil dari cara pandang yang kurang tepat terhadap hakikat sains dan agama. Hakikat sains merupakan bagian kecil dari agama, maka hasil dari pengkajian sains dan teknologi seharusnya tidak menafikan peran agama. Apabila terjadi pertentangan maka manusia harus merubah cara pandangnya tentang kebenaran, karena kebenaran sains dan agama pada dasarnya tidak saling bertolak belakang.

Independensi

Salah satu cara untuk menghindari konflik antara sains dan agama adalah dengan memisahkan dua bidang tersebut dalam kawasan yang berbeda. Sebagaimana pernyataan Ian G. Barbour yakni tuhan adalah transendensi yang berbeda dari yang lain dan tidak dapat diketahui kecuali melalui penyingkapan diri. Keyakinan agama sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan, bukan atas penemuan manusia sebagaimana halnya sains. Saintis bebas menjalankan aktivitas mereka tanpa keterlibatan unsur teologi, demikian pula sebaliknya, Karena metode dan pokok persoalan keduanya berbeda. Sains dibangun atas pengamatan dan penalaran manusia sedangkan teologi berdasarkan wahyu ilahi.

Ian G. Barbour berpendapat bahwa “jika sains dan agama benar-benar independen, kemungkinan terjadinya konflik bisa dihindari, tetapi hal tersebut juga berefek pada terpupusnya kemungkinan terjadinya dialog konstruktif dan pengayaan di antara keduanya. Manusia menghayati kehidupan bukan sebagai bagian-bagian yang saling lepas. Melainkan manusia merasakan hidup sebagai keutuhan dan saling terkait meskipun manusia membangung berbagai disiplin untuk mepelajari aspek-aspeknya yang berbeda.

Dengan demikian, yang perlu diperhatikan di sini yaitu sains hanya mengeksplorasi masalah terbatas pada fenomena alam, tidak untuk melaksanakan fungsi selain itu. Sedangkan agama mampu memberikan seperangkat pedoman, menawarkan jalan hidup dan mengarahkan pengalaman religius personal dengan praktek ritual dan tradisi keagamaan. Para saintis yang menganut pandangan independensi adalah Biolog Stephen Joy Gould, Karl Bath dan Langdon Gilkey.

Dialog

Pandangan ini menawarkan hubungan antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif daripada pandangan konflik dan independensi. Antara sains dan agama pada dasarnya terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat menunjukkan kesamaan dan perbedaan.

Ian G. Barbour memberikan contoh masalah yang didialogkan ini dengan digunakannya model-model konseptual dan analogi-analogi ketika menjelaskan hal-hal yang tidak bisa diamati secara langsung. Dialog juga bisa dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang ilmu pengetahuan yang mencapai tapal batas. Seperti, mengapa alam semesta ini ada dalam keteraturan yang dapat dimengerti? Dan sebagainya. Ilmuwan dan teolog dapat menjadi mitra dialog dalam menjelaskan fenomena tersebut dengan tetap menghormati integritas masing-masing.

Penganut pandangan ini dialog ini berpendapat bahwa agama dan sains jelas berbeda secara logis dan linguistik, tetapi dia tahu bahwa dalam dunia nyata mereka tidak bisa dikotak-kotakkan dengan mutlak, sebagaimana diandaikan oleh pendekatan independensi. Bagaimana pun juga agama telah membantu membentuk sejarah sains dan pada gilirannya kosmologi ilmiah pun telah mempengaruhi teologi.

Integrasi

Pandangan ini berdampak harmonis terhadap hubungan sains dan agama. Sains dan agama sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman. Ini menunjukkan hubungan sains dan agama mulai menyadari akan adanya suatu wawasan yang lebih besar mencakup keduanya sehingga bisa bekerjasama secara aktif. Bahkan, sains bisa meningkatkan keyakinan umat beragama dengan memberi bukti ilmiah atas wahyu atau pengalaman mistis.

Menurut Barbour, ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam hubungan integrasi ini. Pendekatan pertama, berangkat dari data ilmiah yang menawarkan bukti konklusif bagi keyakinan agama untuk memperoleh kesepakatan dan kesadaran akan eksistensi Tuhan. Pendekatan kedua, yaitu dengan menelaah ulang doktrin-doktrin agama dalam relevansinya dengan teori-teori ilmiah, atau dengan kata lain, keyakinan agama diuji dengan kriteria tertentu dan dirumuskan ulang sesuai dengan penemuan sains terkini. Kemudian pemikiran sains keagamaan ditafsirkan dengan filsafat proses dalam kerangka konseptual yang sama.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More