Home Learning Keterampilan Menyimak Sebagai Penunjang Keberhasilan Berkomunikasi

Keterampilan Menyimak Sebagai Penunjang Keberhasilan Berkomunikasi

by Muhammad Ismail
1 comment

Keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan aktivitas akademik dan profesi. Pentingnya keterampilan menyimak ini perlu disadari oleh setiap pengajar bahasa sebab menyimak dapat dilakukan melalui latihan yang intensif. Akan tetapi untuk menjadi pendengar yang baik tentu tidak mudah, perlu latihan yang intensif agar pendengaran menjadi terlatih, khususnya mendengarkan bahasa asing.

Sejak tahun 1970-an keterampilan menyimak telah menjadi perhatian utama dalam pembelajaran bahasa asing. Menyimak merupakan keterampilan mendasar dalam proses belajar mengajar. Para peneliti selalu berusaha menemukan langkah-langkah terbaik dalam memaksimalkan pembelajaran menyimak. Pada tahun 1977 James Asher telah menemukan metode mengajar yang disebut dengan Total Physical Response (TPR). (Doughlas Brown, 2000:247). Dalam metode tersebut pengajar terlebih dahulu mengajarkan bahasa lisan dalam memberi respons setelah menyimak materi. Hal tersebut sama seperti Natural Approach yang menganjurkan siswa untuk menyimak terlebih dahulu sebelum diberi kesempatan untuk berbicara.

Menyimak merupakan sebuah proses memahami segala apa yang disampaikan oleh pembicara (receptive orientation), konstruksi dan representasi makna (constructive orientation), menegosiasi makna dengan pembicara dan memberi respons (collaborative orientation), dan menghasilkan makna melalui keterlibatan, imajinasi, dan empati (transformative orientation). Menurut teori Cognitive Psycology bahwa menyimak merupakan sebuah proses menghubungkan apa yang telah didengar dengan apa yang telah diketahui oleh siswa mengenai hal-hal yang dibicarakan. Oleh sebab itu, pada saat pendengar mengetahui konteks dari teks atau ungkapan yang didengar, proses memahami akan dapat lebih mudah karena pendengar mampu mengurai makna pengetahuan awalnya serta mampu membuat inferensi yang sesuai untuk memahami pesan yang didengar. (Byrnes, 2014: 317-319).

Hal diatas sesuai dengan pendapat Henry Guntur Tarigan bahwa keterampilan menyimak memiliki 6 fungsi penting, yaitu:

  1. Keterampilan menyimak sebagai sarana
  2. Keterampilan menyimak sebagai alat komunikasi
  3. Keterampilan menyimak sebagai seni
  4. Keterampilan menyimak sebagai proses
  5. Keterampilan menyimak sebagai respons
  6. Keterampilan menyimak sebagai pengalaman kreatif.

Kesulitan dalam pembelajaran keterampilan menyimak

Dalam upaya merancang pembelajaran keterampilan menyimak terdapat beberapa karakteristik bahasa lisan yang harus dipertimbangkan. Hal ini sangat penting sebab mampu mempengaruhi proses ujaran serta mampu menghambat pemahaman. Faktor tersebut dapat membuat proses menyimak menjadi sulit. Berikut ini adalah beberapa karakteristik bahasa lisan:

1. Pengelompokan

Pengelompokan (clustering) terjadi disebabkan adanya keterbatasan memori seseorang. Oleh sebab itu seseorang akan membagi ujaran ke dalam kelompok kata atau frase yang lebih kecil untuk lebih mudah diingat. Oleh sebab itu, ketika kita mengajar keterampilan menyimak sebisa mungkin kita membantu siswa untuk menangkap kelompok kata yang mudah untuk diingat.

2. Pengulangan

Pengulangan (redundancy) adalah ciri khas bahasa lisan. Pengulangan seringkali terjadi dalam percakapan. Pengulangan sangat membantu pendengar untuk memproses makna dengan memberikan banyak waktu dan informasi tambahan. Pengulangan tentu  sangat baik bagi pendengar untuk memahami bahwa tidak semua kalimat atau frase baru harus memiliki informasi baru.

3. Pengurangan bentuk

Pengurangan bentuk (reduced forms) dapat berupa pengurangan fonologi, morfologi, sintaksis, atau pragmatic. Pengurangan ini dapat menimbulkan kesulitan teristimewa bagi siswa pada awalnya telah diperkenalkan pada bentuk bahasa yang sempurna.

4. Variabel penampilan

Variabel penampilan (performance variables) dalam bahasa lisan yang tidak direncanakan atau yang dilakukan secara spontan gugup, permulaan yang salah, sering terjadi diam, dan koreksi adalah hal yang biasa terjadi. Hal-hal seperti ini dapat dipengaruhi pemahaman bagi pembelajar bahasa asing.

5. Bahasa informal

Bahasa informal (colloquial language) seringkali mempengaruhi pembelajar yang telah terekspos pada bahasa teks yang terkadang menemui kesulitan untuk memahami bahasa informal sepeti bahasa pengetahuan budaya. Bahasa informal bisa ditemukan baik pada aktivitas berbicara monolog maupun dialog.

6. Kecepatan penyampaian

Jack Richards (1983) menunjukkan bahwa lama waktu dan jumlah jedah yang dilakukan oleh pembicara sangat penting bagi pemahaman dari pada berbicara dengan cepat. Pembelajar secara perlahan akan menyesuaikan diri dengan berbagai bentuk berbicara dengan kecepatan yang bervariasi yang mungkin hanya beberapa kali ada waktu jedah.

7. Tekanan, ritme, dan intonasi (stress, rhythm, and intonation)

Tinggi rendahnya suara dalam bahasa sangat penting bagi pemahaman pendengar. Untuk tataran kata terdapat penekanan pada suku kata yang dapat membedakan makna. Pola intonasi juga sangat penting bukan saja untuk menginterpretasi pertanyaan, pernyataan, atau penekanan akan sesuatu yang disampaikan tetapi juga untuk memahami maka pesan yang lebih mendalam seperti penyampaian rasa simpati, menghina, menyalahkan, memuji, dan lain-lain.

8. Interaksi

Interaksi berperan penting dalam aktivitas menyimak. Percakapan merupakan sobjek dari semua bentuk interaksi seperti negosiasi, memperhatikan, klarifikasi, penguasaan topik, menjaga komunikasi, dan mengakhiri komunikasi.

Belajar menyimak dapat diartikan pula sebagai belajar merespons. Adapun teknik mengajar keterampilan menyimak harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan dua hal tersebut. Siswa harus memahami bahwa pendengar yang baik juga merupakan pemberi respons yang baik. Mereka tahu bagaimana menegosiasi makna (memberi feedback, bertanya untuk klarifikasi, menjaga topik pembicaraan) sehingga proses pemahaman menjadi sempurna.

Dalam proses pembelajaran bahasa, guru seringkali mengabaikan keterampilan menyimak. Padahal keterampilan menyimak sangat penting bagi pemahaman bahasa lisan para pelajar. Siswa tidak akan mampu memberikan respon verbal apabila ia tidak memahami apa yang ia dengar dari pembicara. Dalam membuat bahan ajar keterampilan menyimak yang baik seorang guru disarankan agar banyak berlatih membaca atau berbicara. Sehingga ucapan dan intonasi guru dapat dimengerti oleh siswa. Dari rekaman tersebut guru dapat membuat pertanyaan untuk menguji kemampuan menyimak siswa. Pertanyaan yang dibuat dapat berupa jawaban pendek yang menanyakan tentang informasi khusus, ide pokok, pertanyaan yes/no. Sedangkan untuk tingkat advance, guru bisa meminta pendapat siswa berupa pendapat pribadinya setelah menyimak suatu wacana monolog atau dialog.

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More