Home Article Doktrin Pluralisme Agama Dan Kerancuan Klaim Kebenaran

Doktrin Pluralisme Agama Dan Kerancuan Klaim Kebenaran

by Muhammad Ismail
1 comment

Hingga saat ini, umat Islam disibukkan oleh klaim kebenaran semua agama yang diusung dengan doktrin pluralisme agama. Pluralisme merupakan kepanjangan tangan dari liberalisasi agama. Karena liberalisasi agama menuntut kebebasan dalam menentukan agama bahkan membolehkan pindah-pindah agama maka lahirnya pluralism yang berupaya membenarkan semua agama.

Secara etimologis, pluralisme agama berasal dari dua suku kata, yaitu “pluralisme” dan “agama”. Dalam bahasa arab diartikan dengan “al-ta’addudiyyah al-diniyyah”, sedangkan dalam bahasa inggris “religious pluralism”. Pluralisme berarti “jama’” atau lebih dari satu. Anis Malik Taha dalam bukunya Tren Pluralism Agama, menyimpulkan bahwa pluralisme berarti koeksistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristik masing-masing.

Sedangkan kata “agama” menurut Wilfred Cantwell Smith, seorang pakar ilmu perbandignan agama, sangat sulit untuk mendefinisikan agama, karena merasa kesulitan, ia mengusulkan untuk membuang istilah “agama”. (Anis Malik Taha, Tren Pluralisme agama, GIP, 2005). Tentu ini sangatlah berlebihan. Akan tetapi hal itu bukan berarti kata agama tidak memiliki makna. Agama, dalam pandangan barat berarti yang mencakup semua jenis agama, kepercayaan, sekte maupun berbagai jenis ideologi modern seperti komunisme, humanisme, sekularisme, nasionalisme, dll.

Anis Malik Taha menegaskan bahwa ketika kedua kata tersebut disandingkan maka akan membentuk makna yaitu kondisi hidup bersama (koeksistensi antar agama (dalam arti yang luas) yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama.

Paul F. Knitter, seorang Teolog mengajukan sebuah pendekatan paham keselamatan dalam teologi agama-agama. Landasan dari doktrin pluralisme agama berangkat dari keprihatinannya bagaimana agama-agama dapat berdialog secara jujur dan terbuka sehingga dapat memberikan sumbangsih penting dalam menanggulangi penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan yang kuat. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa saat ini bukan tempatnya suatu agama bersifat absulitis seperti, “hanya satu-satunya”, “definitive”, superior”, “final”, dan “total”. (Budhy Munawar-Rachman, Argumen Islam untuk pluralism, Grasindo)

Ternyata, saat ini gagasan Paul tersebut ditujukan kepada Islam. Islam diminta untuk menghilangkan satu inti ajarannya yaitu “kebenaran absolut”. Dengan hilangnya satu kebenaran inti ini umat Islam akan kehilangan identitas dirinya sebagai agama yang paling benar di sisi Allah SWT. Sebagai gantinya, sebagaimana dijelaskan Budhy Munawar-Rachman dalam bukunya Argument Islam Untuk Pluralism, John Hick mengajukan statemen yaitu semua agama adalah sama. Memiliki surga yang sama, dan menuju tuhan yang sama (meskipun beda nama). Ini tentu doktrin sesat dan menyesatkan.

“Semua agama adalah sama”, ini adalah statemen yang salah. Jika kita jeli melihat sejarah masing-masing agama tentu kita akan menyaksikan bahwa semua agama tidak sama. Baik dalam hal ideologi, atau pun sejarah terbentuknya agama-agama tersebut. Meskipun mereka mengklaim bahwa agama Yahudi, Nasrani dan Islam berasal dari satu bapak yaitu Ibrahim as, akan tetapi klaim tersebut tidak dapat diungkapkan kebenarannya. Pasalnya, agama Yahudi, Kristen yang mereka klaim sebagai agama samawi itu bukanlah ciptaan atau ajaran Nabi Ibrahim atau bahkan keturunan-keturunannya.

Akan tetapi, untuk menyamakan Yahudi, Kristen dengan Islam, mereka menganggap bahwa ketiga agama tersebut adalah monoteisme atau agama tauhid. Karena monoteis maka agama tersebut adalah pengikut tauhid (Michael Wyschogrod, Islam and Christianity in the perspective of Judaism”). Kesimpulan yang demikian tentu sangat tergesa-gesa dan kemungkinan benarnya sangat diragukan.

Dalam sejarahnya, Yahudi tidak mengenal tuhan yang sebenarnya mereka sebut sebagai tuhan. J. Shotwell, seorang pakar sejarah, (Weech, Civilization of The Near East dalam Ahmad Syalabi, Muqaranatu Al-Adyan, 1991), mengatakan bahwa sesungguhnya orang-orang Yahudi itu sejak masa pertama munculnya di pentas sejarah merupakan penghuni gurun yang suka berpindah-pindah, sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran kuno seperti takut kepada hantu dan percaya kepada roh-roh. Mereka menyembah batu, kambing dan pepohonan. Hal tersebut dipertegas oleh Will Durrant, seorang ahli sejarah barat, kaum bani israil ketika kedatangan nabi Musa as tidak meninggalkan sama sekali penyembahan kepada kambing dan lembu. Hewan-hewan ini menjadi lambang Tuhan mereka. (Ahmad Syalabi, Muqaranatu al-Adyan).

Sama halnya dengan Yahudi, agama Kristen pun memiliki kerancuan yang tidak jauh berbeda. Seorang agamawan Kristen asal belanda, C. Groenen ofm dalam sejarah dogma kristologi) mengatakan bahwa konsep Kristen tentang ketuhanan Yesus adalah konsep yang misterius dan tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Thomas Aquinas pun meragukan konsep ketuhanan Kristen, dalam konsep tuhan yang tiga tapi satu, hanya dapat diterima melalui iman dogmatis dan kerja rasio yang tidak mungkin dapat membuktikan hal tersebut. Ternyata, John Hick yang dianggap penggagas doktrin pluralisme agama pun mengakui kerancuan konsep trinitas Kristen.

Dari paparan tersebut sudah jelas bahwa agama Yahudi, Kristen tidaklah sama dengan Agama Islam. Agama Islam memiliki sanad yang mutawatir dan dapat dibuktikan baik secara logika maupun ilmiah. Nama Allah SWT pun bukan ciptaan manusia akan tetapi Allah SWT mengenalkan diri_Nya secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam

You may also like

1 comment

Konsep Tafakkur : Kemampuan Akal Menemukan Ilmu Pengetahuan February 8, 2020 - 8:53 pm

[…] tentang aktifitas berpikir tentang kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta alam semesta, berpikir dalam kebenaran nubuwwah dan risalah, berpikir dalam keagungan mukjizat al-Qur’an serta pentingnya memahami makna […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More