Home Book Review Kesetaraan Gender Sebagai Tuntutan Kaum Feminis

Kesetaraan Gender Sebagai Tuntutan Kaum Feminis

by Muhammad Ismail
0 comment

Hingga saat ini sebagian kaum perempuan masih merasa tertindas dan ingin memperjuangkan hak mereka, atau yang lazim disebut dengan kesetaraan gender. Pada hakekatnya, sebagian kaum perempuan yang sedang berjuang tersebut adalah para perempuan yang sudah merdeka dan tidak sedang tertindas.

Akan tetapi, perasaan tertindas tersebut masih terus menghantui hari-hari mereka. Biasanya, mereka yang aktif berjuang dalam kesetaraan ini datang dari kalangan wanita karir yang sukses, punya prestasi, punya latar belakang pendidikan yang tinggi, dan berbagai keunggulan lainnya. Atas dasar “keunggulan” personal inilah mereka giat berjuang atas nama semua perempuan yang masih berada dalam keadaan “tertindas” (baca : belum unggul).

Untuk itu, tulisan ini akan fokus membahas problem cara pandang pegiat kesetaraan gender mengenai keunggulan-keunggulan yang terdapat dalam diri perempuan dan laki-laki sebagaimana yang telah ditulis oleh Ratna Megawangi dalam bukunya “Membiarkan Berbeda?”.

Problem Sudut Pandang Feminisme

Kelompok feminis merasa tidak puas akan peran yang mereka jalankan saat ini. Mereka merasa tertindas oleh laki-laki. Atas dasar inilah mereka berani bersuara, bahkan lebih lantang daripada laki-laki. Mereka seringkali menyuarakan penghapusan diskriminasi antara pekerja wanita dengan pria.

Bukan hanya dalam ranah masyarakat, dalam ruang lingkup mahasiswa, pemerintahan bahkan kelompok pengajian pun mereka susupi doktrin ketertindasan tersebut. Menurut mereka, tenaga kerja harus disebut pekerja, tanpa perlu melihat jenis kelamin, karena kedua jenis kelamin adalah sama-sama pekerja. Hal ini berarti setiap peraturan yang memuat hak dan kewajiban, berlaku baik bagi pekerja pria atau wanita.

Cara pandang feminis terhadap anggapan adanya diskriminasi inilah yang bermasalah. Kesalahan sudut pandang tersebut, sebagaimana dipaparkan oleh Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan Berbeda? terlihat dalam cara mereka melihat dua sisi yang berbeda yaitu Nature dan Nurture. Kaum feminis memiliki kesimpulan bahwa apabila faktor nature wanita dan pria lebih berperan, maka secara alami wanita dan pria adalah berbeda, dan tentunya perbedaan ini sulit untuk diubah.

Lebih lanjut, Ratna mengatakan bahwa kelompok feminisme adalah hasil konstruksi sosial, sehingga perbedaan jenis kelamin tidak perlu mengakibatkan perbedaan peran dan perilaku gender dalam tataran sosial. Membiarkan dalam perbedaan sesuai dengan sifat asalnya merupakan tawaran yang tepat untuk menjawab tantangan ini.

Cara Pandang Feminis Atas Sifat Nature

“One Is Born, But Rather Becomes a Woman” (Seseorang tidak dilahirkan kecuali cenderung menjadi seorang wanita). Pernyataan Simone De Beauriois inilah yang sering disitir oleh feminis karena menjadikan seseorang yang disebut wanita dengan atribut sifatnya, bukan ada sejak dilahirkan, melainkan diciptakan oleh lingkungan budayanya. Simone De Beauvior adalah pengikut filsafat eksiotensialisme yang percaya bahwa identitas gender harus dikonstruksi oleh individu yang bersangkutan karena itu adalah pilihan.

Mendukung pernyataan tersebut, Bern (1972) berpendapat bahwa setiap anak yang disosialisasikan secara androgeneus akan menghasilkan identitas gender yang berkaitan dengan kualitas maskulin dan feminin. Menurut mereka yang setuju dengan pendidikan androgini, anak-anak dibiarkan secara androgeners akan mempunyai kepribadian yang menguntungkan, karena akan lebih banyak kesempatan dan pilihan yang dimiliki, terutama wanita, konsep androgini dianggap sebagai cara yang tepat untuk mempersiapkan para wanita agar dapat bersaing dengan para pria di sektor publik.

Berbeda dengan Bern, Dr. Lamya Al Faruqi mengatakan bahwa tujuan penerapan konsep Barat ini (feminisme) tidak lain adalah untuk menciptakan masyarakat unisex dengan mendewa-dewakan peran laki-laki dan merendahkan peran perempuan sehingga memaksa perempuan untuk menyerupai laki-laki. Semua ini hanya permainan ideologi, bahkan para feminis pun tidak pernah menyentuh wanita secara nyata. Mereka hanya berputar-putar di seputar kata-kata “wanita tertindas”.

Cara Pandang Feminis Atas Sifat Nurture

Kaum feminis menganggap bahwa sifat-sifat yang berhubungan dengan konsep maskulin dan feminin berlaku universal. Mereka menganggap itu sebagai sifat penting yang mewarnai tingkah laku manusia dan alam semesta. Dalam hal sifat maskulin diidentikan dengan orientasi instrumental, yaitu aktif, penonjolan diri, pelindung, dan pemimpin.

Sedangkan sifat feminin dikaitkan dengan orientasi emosional, yaitu pasif, berkorban untuk kepentingan orang lain, tergantung, efeksi atau pemberi cinta, dan pengasuh. Kedua sifat berbeda ini ada dalam paradigma struktural-fungsional, dan ini merupakan akar dari adanya keragaman sifat manusia, yang akhirnya menciptakan diferensiasi peran. Secara biologis organ-organ seks pria dan wanita memang berbeda. Namun berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut sifat maskulin dan feminin banyak yang tidak sepakat.

Pada dasarnya ada dua argumen yang saling bertentangan mengenai pembentukan sifat maskulin dan feminin pada pria dan wanita. Argumen Pertama : Percaya bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminin ada hubungannya dengan pengaruh perbedaan biologis (seks) pria dan wanita. Perbedaan biologis pria dan wanita adalah alami, begitu pula sifat maskulin dan feminine yang dibentuknya.

Oleh karena itu, sifat stereotif gender sulit untuk diubah. Argumen Kedua : Percaya bahwa pembentukan sifat maskulin dan feminin bukan disebabkan oleh adanya perbedaan biologis antara pria dan wanita, melainkan karena adanya sosialisasi atau kulturalisasi. Mereka tidak mengakui adanya sifat alami maskulin dan feminin, tetapi yang ada adalah sifat maskulin dan feminin yang dikonstruksi oleh sosial budaya melalui proses sosialisasi (nurture).

Pemikiran ini disebut mazhab orientasi kultur, dan dianut oleh sebagian besar feminis yang menginginkan transformasi sosial, sehingga perbedaan gender pria dan wanita bisa dilenyapkan. 

Upaya Menggapai Kesetaraan Gender

Berdasarkan asumsi-asumsi feminis tentang faktor Nature dan Nurture di atas, mereka berusaha untuk mewujudkan kesetaraan gender. Kaum feminis berupaya untuk menghapus sifat nature feminim dalam tingkat individu.

Mereka beranggapan bahwa sifat nature seorang wanita dalam keibuannya adalah pengaruh budaya yang disosialkan kepada perempuan. Hal ini dijadikan proyek utama feminis egalitis dalam mencapai keberhasilan di dunia publik. Mereka menawarkan konsep pendidikan androgini, dalam memisahkan seorang dari naturenya.

Pendidikan tersebut tidak memberikan setiap anak tugas dan pembiasaan yang sesuai dengan gendernya. Tak ada lagi murid wanita diberi mainan boneka. Begitu pula murid pria yang tidak hanya bermain mobil-mobilan saja.

Kalaupun wanita bisa dipandang kesuksesannya di publik, maka wanita perlu kemampuan yang setara dengan laki-laki. Seperti dunia politik, ekonomi, kepemimpinan yang selalu didominasi oleh para lelaki.

Untuk bisa menyetarakan kemampuan yang dimiliki laki-laki, wanita perlu masuk ke dunia pria. Hal ini dimaksudkan agar wanita jika ingin kemampuannya setara dengan tuntutan, maka perlu membiasakan diri dengan kehidupan pria. Agar tidak lagi ada dominasi lelaki di segala sektor kehidupan.

Kekuatan hukum yang dimiliki oleh setiap wilayah selalu berbeda dengan yang lainnya. Namun, walaupun banyak terjadi perbedaan hukum, mayoritas hukum tersebut selalu terjadi deskriminasi antara laki-laki dan wanita. Hal ini menimbulkan wacana perlunya kekuatan hukum dalam membentengi gerakan feminisme ini. Seperti halnya yang dilakukan kaum feminisme liberal dalam menciptakan suatu gerakan di bidang hukum.

Untuk menggapai kesetaraan gender, kaum feminis memiliki tuntutan yang akan terus mereka perjuangkan. Pertama, suami tidak lagi selalu menjadi kepala rumah tangga. Dalam artian tidak ada lagi kepemimpinan seorang laki-laki yang selalu menjadi tulang punggung keluarga. Tanggungjawab keluarga dibebankan kepada bapak dan ibu.

Sehingga tidak ada lagi perendahan gender tertentu. Kedua, hak asuh anak tidak hanya tergantung pada wanita saja. Artinya, setiap beban merawat, mendidik yang dipikul oleh wanita tidak hanya ditujukan kepada wanita saja. Pria pun harus terjun secara langsung dalam beban yang sudah ada. Dalam perkara yang diperjuangkan oleh feminisme di bidang hukum, semua bersifat menafikan kekuasaan laki-laki terhadap wanita. Sehingga wanita tak hanya sebagai pelayan yang selalu menguntungkan laki-laki baik itu di rumah tangga maupun di dunia luar rumah.

Menjawab Tantangan Kesetaraan Gender 50/50

Ratna Megawangi dalam bukunya Membiarkan Berbeda menulis bahwa kesetaraan yang diusung para feminis adalah kesetaraan yang dapat diukur secara kuantitatif. Konsep kesetaraan 50/50 menjadi bendera mereka dalam rangka mempropaganda masyarakat untuk mewujudkan kesetaraan.

Konsep 50/50 ini diidealkan oleh UNDP (United Nations Development Report) sejak tahun 1990. UNDP sangat yakin bahwa derajat perempuan bisa sama rata (50/50) dengan laki-laki. Akan tetapi, asumsi tersebut hanyalah sebatas teori. Pasalnya, para feminis paham bahwa pada usia dewasa seorang wanita yang berkeluarga akan melahirkan. Inilah fakta alami yang tidak mungkin dibantah.

Pada akhirnya, kesetaraan 50/50 hanya bisa bertahan hingga ia menikah. Artinya, kesetaraan itu tidaklah bersifat abadi dan itu tentu tidak dapat disebut dengan setara lagi. Maka tidak berlebihan apabila Hamid Fahmy menyatakan begini, “Tidak menjunjung konsep kesetaraan 50-50. Di hadapan Tuhan memang sama, tapi Tuhan tidak menyamakan cara bagaimana kedua makhluk berlainan jenis kelamin ini menempuh surga-Nya”.

Pada dasarnya, manusia hidup di dunia ini memiliki tujuan. Tujuan tersebut ialah untuk menciptakan kedamaian, keadilan, dan kebersamaan di mana masing-masing individu dapat menghormati sesamanya. Dan yang terpenting adalah bagaimana masyarakat dapat menciptakan individu-individu yang mempunyai sifat-sifat yang positif. Sifat positif adalah sifat manusia yang menyangkut keseimbangan dalam perannya antara sifat maskulin atau feminin, bukan salah satunya saja yang dominan.

Segala bentuk keragaman pada tataran sosial atau eksternal akan selalu ada. Adapun hilangnya perbedaan antarmanusia atau terciptanya kondisi kesetaraan dalam arti sebenarnya, hanya ada dalam pengertian hakiki, di mana manusia-manusia yang telah mempunya tingkatan moral sosialis sejati akan mewujudkannya dalam relai sosial.

Misalnya, seorang yang mempunyai kesadaran moral tinggi akan selalu memperlakukan manusia lainnya dengan penuh hormat dan adil karena hakiki kemanusiannya, walaupun kondisi eksternalnya beragam, pria/wanita, kulit hitam/kulit putih, kaya/miskin. Namun sekali lagi perlu ditekankan bahwa kondisi sama-sata hanya ada dalam tataran batin, internal atau esensi.

Adapun manifestasi kesadaran moral ini adalah kondisi di mana pola relasi antarindividu, antargolongan, antarkelas sosial-ekonomi, adalah dalam suasana damai, yaitu suasana yang tidak ada pertentangan dan konflik.

Semua ajaran agama bertujuan bagaimana menjadikan manusia menjadi insan kamil atau manusia yang sempurna. Pencapaian insan kamil ini adalah tujuan akhir yang harus dicapai oleh setiap manusia, yaitu manusia yang telah mencapai nafsu al-muthma’innah yang kembali bersatu dengan tuhan, sehingga kesatuan dapat terwujud kembali.

Murata menguraikan bahwa jiwa muthma’innah adalah yang disebut jiwa kesatria (patriarkat positif), yaitu jiwa yang telah mengalahkan nafsu amarah dan nafsu-nafsu rendah lainnya. patriarkat positif atau nafsu al-muthmainnah yang damai bersama tuhan adalah sebuah keadaan (maqam) manusia yang tertinggi.

Pembedaan antara pria dan wanita sangat jelas ditegaskan oleh ayat-ayat al-Qur’an seperti : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Adapun yang dimaksud dari ayat ini adalah antara laki-laki dan perempuan (dalam Islam) mendapat pahala yang sama dan bahwa amal shaleh harus disertai iman. Ayat tersebut menunjukkan secara jelas bahwa kehidupan bermasyarakat mencakup tataran sosial (tataran fisik), bukan tataran batin. Dan ini membuktikan bahwa kesetaraan yang diinginkan kaum feminis hanyalah berkutat pada tataran fisik, bukan batin.

Padahal, tujuan manusia di dunia adalah kebaikan yang timbul dari keduanya. Jadi, tujuan kesetaraan yang diusung kaum feminis tidak sejalan dengan tujuan hidup manusia.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, apabila ditelaah secara kritis, apa yang kaum feminis perjuangkan sebenarnya akan berujung pada desakralisasi agama yaitu dengan cara melakukan pengrusakan dan disharmonisasi institusi keluarga. Wacana-wacana mereka hanya berkutat pada tataran teoritis saja yang banyak terpengaruh oleh kondisi emosional.

Padahal pada prakteknya, banyak terjadi ketidakkonsistenan antara wacana dengan aplikasi kehidupan mereka. Adapun upaya menyitir ayat-ayat al-Qur’an adalah hanya untuk mengelabuhi sisi belangnya ideologi tersebut. Misalnya. mereka menganggap bahwa sifat keibuan bukanlah bersifat nature tapi nurture. Tentu ini sangat bertolakbelakang dengan prinsip-prinsip Islam. Dan prinsip inilah salah satu yang mereka sarankan untuk ditinggalkan.

Ratna Megawangi melalui bukunya “Membiarkan Berbeda?” telah berupaya membedah dan menganalisa secara mendalam konsep kesetaraan gender. Inti dari buku ini adalah tentang konsep kesetaraan gender serta keberhasilan yang telah dicapai selama ini.

Adapun solusi dari penulis (Ratna) adalah menawarkan konsep gender yang lebih mudah dipahami yaitu membiarkan berbeda. Dengan alasan, setiap individu memiliki peran masing-masing baik secara lahir maupun batin. Ini sejalan dengan tujuan akhir diciptakannya manusia yaitu menjadi insan kamil di hadapan Allah SWT. Selain itu, Ratna menilai bahwa konsep gender sangatlah kompleks dan sangat kontroversial.

Adapun tujuan lainnya yaitu untuk menciptakan masyarakat yang harmonis, damai dan peduli antara umat manusia. Maka, perlu adanya formulasi lain untuk menjawab tantangan para feminis tersebut yaitu membiar berbeda dan saling melengkapi baik dalam tataran individu maupun sosial.

Sebagai catatan akhir, konsep equality (kesetaraan gender) bukan solusi, akan tetapi kita dapat menafsirkan itu sebagai proyek hegemonik penguasaan Barat terhadap dunia global, bukan semata-mata ikhlas mencarikan wanita keadilan dan kemuliaan.

Terlebih lagi berupaya untuk meninggikan derajat wanita di mata Allah SWT. Kemuliaan hanya dapat diraih dengan menjadi diri sendiri sesuai kodrat yang diberikan (maskulin dan feminis). Tentunya dengan mengisi jiwa tersebut dengan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Wa’allahu a’lam

You may also like

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More