Home Opini Dekonstruksi Syariah; Ancaman Nyata Bagi Umat Islam

Dekonstruksi Syariah; Ancaman Nyata Bagi Umat Islam

by Muhammad Ismail
Bahaya Dekonstruksi Syariah

Dekonstruksi syariah merupakan ancaman yang nyata bagi umat Islam saat ini. Mayoritas muslim terbesar di dunia ini adalah Negara Indonesia. Umat muslim memiliki semangat religiusitas yang tinggi. Sebab, segala tindakan yang dilakukannya disandarkan pada hukum islam yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Dalam tataran bernegara, Pancasila dan UUD 1945 memang merupakan sumber dari segala sumber hukum. Akan tetapi, tidak jarang ketegangan seringkali terjadi dalam kehidupan bersosial. Ketegangan tersebut timbul ketika masyarakat Indonesia dihadapkan antara dua pilihan yaitu antara keharusan dalam mendahulukan agama (fiqh) sebagai landasan moral masyarakat atau hukum Negara yang dijadikan pijakan dalam konteks bernegara.

Perdebatan mengenai hal ini seringkali menemukan jalan buntu. Di samping berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia juga bukan Negara islam. Indonesia adalah Negara yang berlandaskan pancasila. Akan tetapi ketika dikaji lebih lanjut, kita akan mendapati banyak fakta bahwa Indonesia merdeka berkat perjuangan umat islam. Ini berarti Indonesia adalah hasil dari jerih payah umat islam. Fakta tersebut terbukti dari poin-poin pancasila. Semua inti pancasila adalah kumpulan konsep-konsep dasar (seminal konsep) islam. Sila pertama misalnya, “Ketuhanan yang maha esa”. Sila ini mencakup konsep ketuhanan yang Maha Esa. Tentu, yang Esa ini adalah Allah SWT, bukan Trinitas apalagi Yahweh.

Selain itu, masih banyak konsep-konsep dasar islam yang termuatdalam pancasila. Konsep kemanusiaan, keadilan, beradab, persatuan, hikmah, dankonsep musyawarah. Ini semua merupakan pondasi dari Negara Indonesia yangseharusnya selalu dipegang oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia. Jikaini tidak diingkari, maka kita akan mendapati muara dari konsep-konseptersebut. Semua konsep tersebut bersumber dari satu konsep utama yaitu konsepketuhanan yang Maha Esa (sila pertama). Artinya, konsep-konsep tersebutseharusnya diamalkan sesuai dengan tuntunan Tuhan (Allah SWT).

Adapun konsep keTuhanan tersebut adalah poin inti dari pada agama. Agama (islam) adalah agama tauhid. Ketauhidan tersebut dibangun di atas dasar konsep-konsep lainnya seperti: Syahadat, Ilmu, Islam, Iman dan Sa’adah (Nirwan Syafrin). Semua konsep tersebut bersumber dari bahasa arab. Sebab, bahasa arab adalah satu-satunya bahasa yang mampu mencakup makna-makna yang terkandung dalam bahasa lainnya. tentunya, makna tersebut tidak akan pernah didapati dalam bahasa lainnya. Mungkin inilah salah satu kemukjizatan al-Qur’an sekaligus sebagai bukti bahwa al-Qur’an bukanlah muntaj tsaqafi (hasil budaya) sebagaimana yang dituduhkan oleh para orientalis kepada islam.

Syahadat merupakan titik awal keislaman seseorang. Tanpa syahadatseseorang belum bisa dikatakan sebagai muslim. Syahadat yang berarti kesaksianadalah bentuk deklarasi seorang muslim atas keyakinannya bahwa ia adalah hambayang ingin berserah diri kepada Allah SWT melalui perintah-perintahnya.

Konsep syahadat ini pun tidak berdiri sendiri. Syahadat sangatberkaitan erat dengan konsep ilmu. Menurut Nor Wan Daud, ilmu itu adalahkebenaran Allah SWT. Segala yang kita dapati di alam semesta ini adalah kebenaran.Oleh sebab itulah ilmu pun akan selalu berkaitan dengan konsep iman dan islam.Semua konsep tersebut tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Bahaya Dekonstruksi Syariah

Istilah dekonstruksi (deconstruction) sendiri pada awalnya digunakan sebagai terjemahan dari term yang digagas oleh Heidegger. Dalam satu bukunya Being and Time yang ditulis pada tahun 1972-an yaitu destruksi. Heidegger menggunakan term destruksi sebagai upaya pelucutan atas bangunan pemikiran yang telah terbentuk sedemikian rupa. Destruksi di sini artinya pembongkaran (a freeing up) atau pelucutan (a de-structuring). Meski demikian, istilah destruction tidak diartikan sebagai penghancuran total (obliteration) yang tidak menyisakan apa-apa lagi. Destruksi yang membawa semangat pembongkaran dan pelucutan ini kemudian memberi inspirasi Jacques Derrida untuk menerapkan ide deconstruction­-nya.

Awalnya, ide Derrida tersebut diaplikasikan kepadateks Bible.Bible dianggap bukan kitab suci. Bible adalah teks dan harus disesuaikan dengankondisi manusia yang selalu berkembang. Karena Bible tidak memiliki dasar yangkuat, ide dekonstruksi tersebut pun berlangsung mulus hingga akhirnya Biblebenar-benar telah dirubah dan telah dikontekstualisasikan oleh para cendekiawanbarat.

Karena merasa sukses merubah hukum-hukum Bible, para orientalis punberubah haluan. Sasaran selanjutnya adalah islam. Islam dianggap memiliki kitabsuci yang sangat sakral. Karena kesakralannya itulah umat islam akan membelamati-matian demi keotentikan al-Qur’an. Keyakinan itulah yang menjadi bara apisemangat para orientalis dalam merobohkan pokok-pokok ajaran islam.

Salah satu konsep yang ingin didekonstruksi oleh orientalis adalah mengenai hukum islam. Hukum islam merupakan sumber dari hukum-hukum syariat yang berlaku. Baik hukum tentang mu’amalah, siyasah, iqtishad, wiratsah, dll. Kandungan-kandungan hukum islam inilah yang ingin mereka robohkan dengan dalih memperbaharui syariat.

Semangat dekonstruksi syariat ini berawal sejak runtuhnya DaulahUthmaniyyah pada tahun 1924. Wacana tersebut baru mendapatkan perhatian seriuspada tahun 1970. Bertolak belakang dari apa yang dipaparkan Yusuf Qardhawidalam salah satu bukunya al-islamu huwa al-hillu, paraorientalis ingin memberikan satu solusi yang intinya adalah islam yang berlakudulu sudah tidak sesuai dengan kondisi umat saat ini. Oleh karena itu, hukum-hukumsyariat harus dirubah dan disesuaikan dengan kondisi umat saat ini. Ternyata al-Qur’aningin dikontekstualisasikan sebagaimana yang telah mereka lakukan atas Bible.

Tentu wacana ini bukanlah hal yang remeh. Ini masalah yang amatserius. Masalah yang menyangkut kemurnian ajaran atau syariat islam. Syariatislam bersumber dari perintah-perintah Allah SWT, jadi yang berhak merubahsyariat tersebut hanyalah Allah SWT, bukan manusia. Manusia tinggal tunduk karenakedudukan manusia adalah sebagai hamba atau makhluk. Oleh sebab itu, upayakontekstualisasian syariat bukanlah solusi yang tepat melainkan itu adalahsebuah tawaran yang ompong makna.

Akan tetapi, bukan berarti aksi ini harus dibiarkan begitu saja. Sudahsaatnya para cendekiawan muslim memikirkan bagaimana menangani masalah yangsudah mengurat nadi ini. Pasalnya, wacana dekonstruksi tersebut sudah bukanlagi datang dari orang barat. Lebih parah dari itu, orang yang “dianggap”sebagai tokoh cendekiawan muslim kontemporer pun ikut mengekor para orientalis.Jadi, masalah ini pun semakin rumit. Cendekiawan yang seharusnya menegakkansyariat, justru ingin meruntuhkan syariat yang murni dari Allah SWT.

Mengapa segala yang datangnya dari islam selalu ingin dirusak?.Pertanyaan ini memang bukan inti permasalahan. Akan tetapi, jawaban daripertanyaan tersebut akan membantu umat islam dalam menemukan solusi atas faktayang terjadi. Syariat islam memang diturunkan di bumi arab. Nah, mungkin sajahal ini tidak akan menjadi masalah (bagi barat) apabila syariat islam ituditurunkan di bumi belahan Barat. Berarti, permasalahannya bukan terletak padaesensi syariat itu sendiri karena syariat memang tidak pernah bermasalah. Paraorientalis sangat getol ingin merobohkan tatanan hukum islam bisa jadi atasdasar kebencian mereka terhadap islam. Oleh sebab itulah mereka inginmengacak-acak islam atas dasar kebencian. Dengan dalih HAM (Hak Asasi Manusia)mereka menjadikan islam sebagai objek kajian keilmuan yang dianggap belum finaldan masih bisa diubah-ubah. Tentu ini adalah paham yang sesat dan menyesatkan.

Kesimpulan

Sebagai catatan akhir, dekonstruksi syariah adalah upaya para musuhislam untuk membongkar pondasi agama islam. Pondasi yang awalnya sudah kokoh merekacoba gali kembali dan ingin mereka ganti dengan pondasi yang baru. Yang manapondasi baru tersebut “dianggap” lebih manusiawi dari pada pondasi sebelumnya. Dengandalih menjunjung tinggi nilai kemajuan dan perkembangan, syariah “dipaksa”untuk menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat yang hidup pada zamantersebut.

Ini adalah strategi musuh islam yang berupaya untuk menghancurkan islam dengan lembut. Sedikit demi sedikit mereka mencoba mengganti konsep-konsep dasar dalam islam. Dan apabila upaya dekonstruksi syariah ini sukses maka hukum islam akan tinggal nama. Oleh sebab itu, bukan hal yang berlebihan apabila penulis mengajak para cendekiawan muslim untuk kembali kepada kesadaran atas ilmu.

Dengan ilmu inilah hukum islam akan bisa kokoh dan tidak mudah digoyahkan dengan gerakan-gerakan perusak. Jadi, fakta dekonstruksi syariah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus ada solusi yang tepat untuk menangkal tuduhan-tuduhan tersebut. Dan solusi yang penulis tawarkan adalah memperjelas konsep-konsep dasar islam (seminal konsep).

Related Posts

2 comments

Konsep Kenabian Dalam Islam November 7, 2020 - 7:19 am

[…] bertakwa kepada Allah SWT. Perintah Allah SWT kepada para nabi dan rasul yang utama adalah untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia. Hal tersebut dipertegas dengan adanya perjanjian antara para Nabi dan Rasul […]

Reply
Mensucikan Hati Dengan Mengoptimalkan Shalat July 30, 2021 - 9:01 am

[…] Al-Karim merupakan sumber utama syariat Islam. Segala perintah dan larangan Allah SWT disampaikan melalui kitab suci tersebut. Termasuk salah […]

Reply

Leave a Comment