Home Article Asimilasi Bahasa Arab Menurut Imam Sibawaih Dalam al-Kitab

Asimilasi Bahasa Arab Menurut Imam Sibawaih Dalam al-Kitab

by Muhammad Ismail
1 comment

Asimilasi bahasa merupakan pembahasan yang sangat penting dalam studi kebahasaan. Bahasa berfungsi untuk menyampaikan suatu keinginan kepada orang lain dengan harapan lawan bicara tersebut bisa memahami makna yang tersirat dari bahasa yang diucapkan oleh pembicara. Manusia dalam berbahasa menggunakan suara sebagai perantara dalam menyampaikan maksud yang diinginkannya. Sedangkan alat bantu yang berfungsi untuk mengeluarkan suara yaitu mulut.

Dalam bahasa Arab, “suara” adalah al-Shaut, al-Shaut merupakan bentuk tunggal (mufrod) dari al-Ashwat (jama’). Menurut Ibn Sukkait suara adalah lafadz yang dikeluarkan oleh manusia melalui mulut. Sedangkan menurut Ibn Jinni (w. 392 H) dalam kitabnya yang berjudul “Sirru Shina’ati al-I’raab” menyebutkan bahwa al-shout adalah tujuan yang dikeluarkan manusia melalui nafas yang keluar dari kerongkongan kemudian berjalan ke mulut dan dengan bantuan kedua bibir secara terus-menerus sehingga membentuk suatu ucapan yang tersusun dari beberapa huruf berbeda yang masing-masing berbeda sifat dan sumbernya.

Dalam studi linguistik seringkali bahasan tentang fonologi (as-shout) dijadikan bahan kajian pokok dan tidak pernah habis untuk dikaji melalui berbagai sudut. Dalam proses berbahasa, khususnya berbahasa Arab, orang masih kurang memperhatikan bahwa dalam setiap kata yang dikeluarkan adalah suatu hasil dari proses asimilasi. Asimilasi bahasa adalah istilah yang tepat untuk menyebut suatu proses penyatuan dua kalimat yang memiliki kesamaan dalam hal makhroj maupun sifah huruf tersebut.

Asimilasi atau al-mumatsalah yaitu proses bersatunya dua huruf yang berbeda ke dalam satu jenis ucapan. Maka setiap sesuatu yang memiliki kemiripan baik dalam hal makhroj maupun sifatnya dan kedua jenis tersebut diucapkan dalam waktu yang sama berarti ia mengalami proses asimilasi.

Karena penulis memandang penting kajian asimilasi bahasa untuk ditinjau dari sudut pola terbentuknya suatu proses asimilasi maka untuk menfokuskan permasalahan tersebut, penulis menjadikan ulama bahasa periode kelima yaitu Sibawaih yang telah terkenal dengan kitabnya “al-Kitab”. Dengan membahas tema ini penulis akan mendeskripsikan bagaimana pola asimilasi tersebut bisa terbentuk dan apa saja sebab-sebab yang menjadikan dua huruf yang berbeda menjadi sama dalam makhrajnya.

Pengertian Asimilasi Bahasa

Asimilasi menurut bahasa sebagaimana dikatakan oleh Ibn Manzhur (w. 711 H) yaitu sesuatu yang menyerupai (syabaha). Sedangkan Ibn Barri mengatakan asimilasi adalah dua keadaan yang memiliki kesamaan atau memiliki arti satu, ia mengatakan bahwa mithlun (مِثْلٌ) dan matsalun (مَثَلٌ) dan syibhun (شِبْهٌ) dan syabhun (شَبَهٌ) adalah satu makna.

Sedangkan asimilasi menurut istilah seperti yang diutarakan Brosnahan yaitu penyesuaian suatu suara ketika berdekatan dengan suara yang lainnya. Adapun Ahmad Mukhtar Umar berpendapat bahwa asimilasi adalah upaya penyesuaian fonem yang berbeda menjadi fonem yang serupa baik itu sebagian atau menyeluruh. Kedua pendapat tersebut diperkuat oleh pendapat Kamal Ibrahim Badri bahwa asimilasi adalah kesamaan atau suara yang berdekatan baik melalui proses ibdal maupun idghom. Asimilasi biasa terjadi pada suatu lafadz yang memiliki susunan yang saling menyambung dan apabila diucapkan akan terasa lebih ringan dan mudah karena kedua suara tersebut melebur ke dalam satu suara.

Selain itu Asimilasi juga seringkali diartikan dengan suara yang berdekatan dengan suara lainnya. Asimilasi terbagi menjadi dua macam yaitu Asimilasi Progressive dan Asimilasi Regressive. Setiap jenis tersebut kadangkala terjadi secara sebagian atau sempurna (menyeluruh), sedangkan asimilasi yang terjadi sebagian juga kadang terjadi dalam shaut yang berdekatan atau yang berjauhan. Asimilasi terjadi dalam makhroj dan sifat-sifat huruf yang memiliki kesamaan. Asimilasi (al-mumathalah) bemaksud penyesuaian lafadz yang berlaku di antara dua huruf yang berdekatan, dengan cara mengabaikan salah satunya dengan tujuan mewujudkan keselarasan dalam penyebutan.

Pada hakekatnya, setiap huruf mempunyai makhraj dan sifat masing-masing. Apabila terjadi perbedaan yang tampak di antara dua huruf yang berdekatan baik dari segi makhraj atau pun sifat atau kedua-duanya, maka ia akan menimbulkan rasa berat dalam pengucapan lafadz tersebut. Hal ini disebabkan karena lidah memainkan peran penting dalam penyebutan akan menghadapi kesukaran untuk mengeluarkan kata-kata yang menempati makhraj dan sifat dua huruf berdekatan yang terasa beratnya.

Oleh karena itu, untuk mengurangi perbedaan dalam pelafadzan dua huruf yang berdekatan makhraj atau sifatnya serta untuk memudahkan proses penyebutan dan untuk mengurangi tenaga dalam penuturan kata-kata, maka huruf yang lebih unggul dalam makhraj maupun sifat harus diutamakan dalam pelafadzan, sedangkan huruf yang kurang atau lemah baik dalam segi makhraj maupun sifat. Tujuannya adalah supaya suatu perkataan dapat disebut tanpa mengalami kesulitan dan maksud pembicara akan tercapai dengan mudah. Huruf-huruf yang bersifat fleksibel ini menghasilkan proses asimilasi yang memberi sumbangan yang bermanfaat kepada pengguna bahasa. Berdasarkan kaedah ini keselarasan dalam penyebutan kata-kata dalam bahasa Arab akan berhasil.

Kebanyakan huruf yang berlibat dalam proses asimilasi terletak di lokasi dari bagian depan lidah hingga ke bibir mulut. Huruf-huruf yang makhrajnya terletak di daerah tengah lidah hingga ke bagian yang lebih dalam tidak terlibat dengan proses asimilasi kecuali sedikit saja. Oleh sebab itu, huruf-huruf yang termasuk dalam tenggorokan makhrajnya tidak termasuk dalam kaedah ini.

Macam-Macam Asimilasi

Adapun macam-macam asimilasi adalah sebagai berikut :

  1. Asimilasi Progressive adalah di mana pelafadzan makhraj huruf pertama menyerupai huruf kedua. Sebagaimana perubahan yang terjadi pada huruf ta’ ifti’al yang menyerupai huruf د pada lafadz ازدجر yang aslinya yaitu “ازتجر”, karena huruf ت dipengaruhi oleh huruf ز (majhur) maka huruf ت harus disesuaikan, dengan cara menggantinya dengan huruf yang majhur pula yaitu د.
  2. Asimilasi Regressive adalah di mana pelafadzan huruf kedua menyerupai huruf yang sebelumnya. Misalnya, pada kalimat “اتعد” yang menjadi “وعد”, yang mana apabila huruf fa’ ifti’alnya adalah و maka harus diganti dengan huruf ت karena inilah yang lebih dekat.
  3. Asimilasi Berdekatan (Contact Assimilation), yaitu ketika dua huruf yang tidak terpisah dalam beberapa kalimat meskipun itu hanya dengan harakat sekali pun. Seperti “انبعث”, “انبرى”, “منبر”, yang mana antara huruf ن dan ب tidak ada pemisah sedikit pun sehingga menjadi “امبعث”, “امبرى”, “ممبر”.
  4. Asimilasi Berjauhan (Distant Assimilation), asimilasi ini terjadi ketika terdapat dua huruf yang berjauhan dan dipisahkan oleh harakat, biasanya pada asimilasi ini digantikan oleh huruf Shamit atau huruf konsonan. Seperti kalimat  “سراط” dan “مسيطر” yang dipengaruhi oleh huruf ط sehingga menjadi”صراط”  dan “مصيطر”.
  5. Asimilasi Sebagian, asimilasi ini terjadi ketika tidak sesuainya suatu huruf dengan yang lainnya, seperti, “انبعث”, huruf ن yang digantikan dengan huruf  م  dikarenakan mendapatkan pengaruh dari huruf   ب.
  6. Asimilasi sempurna/menyeluruh, asimilasi ini sering juga disebut dengan idghom, hal inilah yang dibahas secara mendalam oleh Sibawaih dalam kitabnya “al-kitab”, adapun contoh dari asimilasi sempurna ini yaitu sebagaimana terjadi pada lafadz “دعا” yang berubah menjadi “ادتعى” yang kemudian disempurnakan lagi menjadi “إدّعى”.

Dalam kitabnya, Sibawaih tidak menyebutkan secara jelas mengenai istilah asimilasi yang telah dipaparkannya. Akan tetapi istilah yang digunakan oleh Sibawaih adalah “al-idghom (adghama harfu kadza bi kadza)” sebagaimana dikenal dengan “asimilasi sempurna”.  Hal ini dapat dilihat pada kitab Sibawaih juz 4 dalam bab “idgham”. Idgham adalah proses peleburan suatu huruf ke huruf lainnya yang memiliki jenis yang sama dengan maksud untuk mempermudah pengucapan dan mempermudah penyampaian tujuan kata.

You may also like

1 comment

Shadr : Dimensi Hati Sebagai Pintu Kekafiran dan Keislaman December 9, 2019 - 4:23 pm

[…] satu konsep hati adalah as-Shadr. Shadr merupakan istilah yang datang dari bahasa Arab yaitu shadara-yashduru-shadran, bentuk pluralnya yaitu shudur. Dalam al-Mu’jam al-Wasith […]

Reply

Leave a Comment

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More